22 Nov 2016

Tentang Bosan pada Tiga Masa

Tentang_bosan

Hai kembali edisi #CeritaRingan sekaligus menambah artikel berlabel collaborative blogging. Kali ini untuk menanggapi tulisan Bu Guru Umi (tengok di sini)

Saya akan menceritakan tentang bosan dan perintangnya  pada tiga masa ya, soalnya jenis kegiatannya memang beda-beda.

Masa sekolah

Ini adalah masa kreatif-kreatifnya membuat suasana apapun tidak membosankan.

Saya dan Cut sebangku tiga tahun, dari kelas I-III SMU. Posisi kursi terletak paling belakang, itu penyebab kenapa kami bisa leluasa membuang rasa bosan dengan berbagai aktivitas, salah satunya membuat pantun. Saking seringnya, saya pernah seahli pujangga, hanya hitungan menit seuntai kata berakhiran sama terangkai. Kami sering mengoper gulungan kertas itu ke anak cowok di bangku depan. Kami gemes melihat dia rajin sekali belajar, seakan dunia ini akan berakhir kalau dia santai sejenak. Biasanya dia akan membaca kiriman kami sekilas, lalu lanjut lagi menyimak materi. Anehnya semakin dia cuek, semakin semangatlah kami mengiriminya pantun hahaha  (mungkin  ini jawaban kenapa saya belum sukses ya, kualat!)

Zaman sekolah dulu, salah satu kebiasaan buruk kami adalah selalu menghitung kata berulang yang diucapkan guru. Paling umum kata “eh”. Biasanya masing-masing berkolaborasi dengan teman sebangku. Jika kata itu terdengar lagi kami akan saling menyikut dan menambah jumlahnya di selembar kertas.

Kami juga punya diary. Buku ini punya Cut sebenarnya. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba menjadi diary bersama. Setiap orang boleh menulis apa saja di situ. Kami sering mengedarnya pada saat jam pelajaran berlangsung. Yang mengisi tentu saja hanya para siswi. Sampai sekarang diary itu masih awet disimpan Cut.

Alangkah banyak dosa pengusir bosan yang kami lakukan dulu; yang membaca tolong jangan ditiru, yang dijaili mohon kami dimaafkan, kepada yang Maha Melihat semoga kami diampuni.

Masa lajang

Terus terang ini masa paling banyak waktu luangnya. Apalagi baru mulai kerja di kampung orang. Tidak ada teman jalan-jalan di akhir pekan. Makanya untuk mengusir bosan, barang yang terbeli saat menerima gaji pertama adalah TV. Saya sering mendatangi tempat penyewaan vcd; Ultra dan Odiva. Sampai stafnya kenal betul wajah saya. Sayang beberapa tahun kemudian salah satu tempat penyewaan tersebut bangkrut.

Karena tidak punya teman bergaul, saya sering kesepian. Jadi untuk menyenangkan diri, saya sering mentraktir diri sendiri di warung makan kesukaan. Tempat favorit di Mas Sunarto, lidah saya sangat cocok dengan sambelnya. Makanya awal-awal kerja sampai sekarang badan sampai melebar kesamping.

Oh ya, selain nonton saya hoby menulis diary. Isinya full curhat, mulai dari detail kegiatan seharian, harapan-harapan, film-film yang baru ditonton, dan bla..bla. Pokoknya diary saya perlakukan seperti teman. Saya menghabiskan 3-4 diary selama lajang, lumayan banyak ya.

Masa jadi ibu

Inilah masa sekarang. Masa dimana berat badan menjadi masalah utama *eh
Terus terang yang paling menarik, membahagiakan dan menyenangkan adalah fase ini. Bersuami dan punya anak. Rasanya seperti dianugerahi dan dipercayai oleh tuhan.

Eh tapi ternyata ya, di balik kebahagian fase ini, ada konsekuensi yang harus saya terima. Sekarang sangat sulit curi-curi menikmati waktu luang. Rasanya waktu tidak pernah cukup. Ada-ada saja perintang. Dulu hampir tiap pekan saya dipijat, kalau bukan ke tempatnya langsung, mba-mba pemijatnya yang ke rumah, sekarang beruntung sekali kalau tiba-tiba suami berbaik hati mau memijat agak lama, biasanya hanya hitungan detik dia sudah menyerah hahaha

Akibat lain kurangnya waktu luang, buku yang bersegel menumpuk di lemari, blog jarang update, nonton TV kebanyakan lihat acara kartun. Khusus yang terakhir ini kalau ada cerdas cermat film kartun, saya berani ikut, hampir semua karakter saya kenal, bahkan berikut kalimat-kalimat khasnya. Saya jadi hapal karena ada raja kecil di rumah yang luar biasa teguh pendiriannya dengan channel kartun :D

Jadi begitulah… Kalau masa lajang hanya bertanggung jawab dengan bahagia, sedih dan aneka macam dosa sendiri, sekarang tidak lagi. Kalau dulu mau ini itu, kesana kemari tidak ada yang melarang, sekarang sudah beda. Saya harus menyesuaikan diri, tidak boleh asal keluar rumah, apa-apa harus izin suami, kalau blio melarang yah tidak boleh pergi.

Juga, sebisa mungkin waktu luang diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Lagipula ada dua makhluk peniru yang menyimak dan menyerap seperti spon. Jadi diusahakan mereka melihat dan mencontoh kegiatan ibunya yang baik-baik saja.

Kalau rasa bosan datang bagaimana?

Kami biasanya jalan-jalan bersama, tidak musti wah harus nginap di hotel berbintang misalnya. Duduk di warkop langganan atau makan nasi kuning di pinggir pantai sudah cukup, yang penting suasananya beda, rasa bosan bisa sirna.

Kalau kamu bagaimana?

5 komentar:

  1. Ahahha.. jadi ingat, jaman kuliah dulu ada dosen yang suka kami hitung juga, bukan kata-katanya, tapi setiap beliau membangga-banggakan suaminya (ah.. istri yg baik), sayangnya yng dibicarakan sering kali tidak ada hubungannya dengan mata kuliah, bosan deh :D

    BalasHapus
  2. Istri solihat itu bu dosennya ya xixixi

    BalasHapus
  3. samaan, nih. Pas SMA juga saya punya buku harian bersama ma sahabat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. seru ya kalo ingat jaman sma :)

      Hapus
  4. Saat bosan mendera, aku langsung berganti aktivitas, berjalan ke beranda atau peregangan dengan berjalan kian kemari seperti setrika. Hahaha...

    Kalau dengan keluarga, biasanya kami makan di luar, tak perlu ke tempat mewah, bukan apa-apa, karena dananya memang tak cukup, kakaaa... Hahaha...

    Sate padang dan soto Banjar langganan kesana langkah kami bawa.


    BalasHapus

Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis