10 Jul 2018

Monster Mama

Segala hal di dunia ini sudah memang diciptakan berpasangan. Ada siang ada malam, ada suami ada istri, ada terang ada gelap. Sama halnya hari, ada yang menyenangkan ada hari buruk. 

Setiap orang punya hari yang buruk kan? Entah kamu periang atau moody. Pastilah punya hari buruk. Entah sehari dalam sepekan, sehari dalam sebulan, sehari dalam setahun, pasti akan ada hari dimana terasa lebih berat dari biasanya. Kecuali kamu bukan manusia, tapi malaikat periang :p

Dan inilah hari buruk itu. Saya tergolek dari pagi menjelang siang, jika tidak sedang berbaring, saya ada di WC menuntaskan yang tak kunjung tuntas. Kepala juga terasa pening, saya menduga hormon sedang bergejolak, sebentar lagi tamu bulanan datang.

So, sumbu kompor sedang pendek, sekali disulut akan terbakar!

Kakak Naylah baru tiba dari warung membeli shampo sachet. Seperti biasa imbalannya dia boleh membeli kue yang dia sukai. Pulang ke rumah, si kakak membawa shampo Pantene 4 sachet, 1 bungkus Oreo dan 1 bungkus Biskuit Better.

“Ini untuk Adek” Kakak menyodorkan Biskuit Better ke Adeknya.
“Ini untuk Kakak” tangan kanannya segera menyembunyikan Oreo.

Serta merta Adek melempar Biskuit Better yang baru saja dia terima.

Tak berhitung menit, kepalaku langsung berasap..

“Sudah Mama bilang, jangan pernah melempar makanan!” paha kanannya kucubit dengan keras. Adek bertahan dengan posisi melawan sambil mengeram marah, tidak menangis. Saya makin tertantang, lalu mencubitnya lebih keras. Barulah dia meraung menangis, marah.

Karena Adek belum mandi, saya memutuskan membuka baju dan memandikannya dengan kasar. Memakaikan baju ganti, dengan tak hentinya mengomel.

Tidak usah saya menceritakan bagaimana lagak dia marah sambil menangis. Saya pun ogah benar membujuknya. Asma, yang tugasnya bantu-bantu di rumah, berusaha mendekati Adek yang sudah mengurung diri di kamar.

“Jangan dibujuk!” kataku

Asma mundur teratur ke dapur, melanjutkan kegiatan cuci piringnya.

Apa yang harus saya lakukan jika sudah terlanjur naik pitam dan marah ke anak?

Terus terang saya bingung sendiri. Kalau saya membujuk, percuma dong buang energi memarahinya tadi. Nanti Adek pikir pula bahwa melempar barang itu boleh. Saya lalu mencari tahu di Google, bukannya mendapatkan tips menghadapi anak yang sudah dihukum, malah muncul artikel-artikel parenting yang pada intinya melarang menghukum anak dengan kekerasan. Hukuman yang diberikan kepada anak seharusnya memiliki nilai-nilai positif. Kekerasan dan ancaman hanya akan menimbulkan trauma pada anak.

Saya mendekati Adek yang duduk di pojok, biskuit yang tadi dia remukkan sudah dia gunting bungkusnya dan sedang dimakan.

“Adek, tahu nak kenapa Mama marah?”

“Barangkali Mama dimasuki setan!” katanya sambil melengos.

Saya tertegun, bukan barangkali lagi nak, memang iya.

“Mama tidak suka Adek lempar barang, apalagi ini makanan. Adek boleh marah tapi jangan lempar-lempar begitu!”

Tadi, sewaktu kepala ini masih memanas, saya mengancamnya akan mencubit keras setiap kali melempar barang, sekarang saya merevisinya.

“Kalau Adek lempar-lempar lagi, satu hari tidak boleh nonton TV !”

Dia protes. Saya mengulang kalimat itu berulangkali, dan akhirnya dia menyetujui. Kami lalu berpelukan lagi.

Begitulah, hari ini saya menjadi monster, sungguh saya menyesal telah mencubit anak, dan sudah memandikannya dengan kasar.

Masih terngiang kalimat Adek tadi...

“Kenapa Mama kasih begitu Adek, Adek tidak pernah kasih begitu Mama, kenapa orang dewasa boleh mencubit anaknya, anaknya tidak boleh mencubit orang dewasa?”

Walaupun kami berpelukan 30 menit kemudian, saling mengelus pipi dan saling mencium. Mungkin kejadian tadi akan lama dikenang oleh anak saya yang baru berumur 5 tahun ini.

Selasa, 10 Juli 2018

16 Feb 2018

#SalamAwas Tanya Jawab Tentang Alat Peraga Kampanye dan Bahan Kampanye

Tahapan Kampanye sudah dimulai, sebagai Pengawas Pemilu..ini berarti jam kerja bertambah dan waktu tidur berkurang ^_^

Karena sudah masuk tahapan, otomatis Alat Peraga Kampanye dan Bahan Kampanye yang tersebar di daerah kita sudah harus sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sebagai tulisan perdana saya dengan hestek #SalamAwas, saya share tanya jawab yang paling sering ditanyakan oleh masyarakat terkait hal ini :
Hasil penertiban APK

Apa Perbedaan Alat Peraga Kampanye dan Bahan Kampanye? 

Jawaban: 

Alat Peraga Kampanye (APK) adalah semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, dan program Pasangan Calon, simbol, atau tanda gambar Pasangan Calon yang dipasang untuk keperluan Kampanye yang bertujuan untuk mengajak orang memilih Pasangan Calon tertentu, yang difasilitasi oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota yang didanai oleh APBD dan dibiayai sendiri oleh Pasangan Calon.

Sedangkan Bahan Kampanye adalah semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, program Pasangan Calon, simbol, atau tanda gambar yang disebar untuk keperluan Kampanye yang bertujuan untuk mengajak orang memilih Pasangan Calon tertentu, yang difasilitasi oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota yang didanai oleh APBD dan dibiayai sendiri oleh Pasangan Calon.

Apakah ucapan selamat berupa spanduk yang ada tanda Gambar calon/paslon termasuk kategori Alat Peraga Kampanye? 

Jawaban : Termasuk 

Apakah boleh memasang Alat Peraga Kampanye dan Bahan Kampanye design sendiri di rumah pribadi warga? 

Jawaban: Tidak Boleh

Merujuk PKPU No 4 Tahun 2017 Pasal 70 ayat (1) mengatakan Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye dilarang mencetak dan menyebarkan Bahan Kampanye selain dalam ukuran dan jumlah yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta pasal 26 ayat (1) dan ayat (3).

Fyi, di Pasal 23 itu memuat ukuran-ukuran yang diperbolehkan untuk selebaran, brosur, pamflet, poster. 

Hal yang sama berlaku untuk APK, termuat di Pasal 70 ayat (2) 

Apa dasar Satpol PP dan Panwas menurunkan Baligho yang terpasang sekarang?

Jawaban: 
Pasal 76 ayat (1)(2) 
Jika melanggar pasal 70 yang tersebut di atas, maka akan dikenakan sanksi peringatan tertulis atau perintah penurunan APK 1x24 jam.

Kalau Parpol atau Gabungan Parpol, Paslon dan/atau Tim Kampanye tidak melaksanakan maka Panwaslu Kota /dan atau Panwas kecamatan berkordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja setempat untuk menurunkan APK. 

Bagaimana jika APK atau Bahan Kampanye yang dipasang warga sudah sesuai design dan ukuran yang ditetapkan KPU? Apakah diperbolehkan?

Jawaban: Boleh, jika mendapatkan izin dari pemilik tempat dan sesuai dengan lokasi pemasangan APK yang ditetapkan KPU dari hasil kordinasi dengan PEMDA, Perangkat Kecamatan, dan Perangkat Desa (PKPU No 4 Tahun 2017 Pasal 30).

Semoga bermanfaat ^_^ 
#SalamAwas

6 Des 2017

Deretan Tas Kerja Wanita Trendy yang Patut Anda Koleksi

Deretan Tas Kerja Wanita Trendy yang Patut Anda Koleksi [Sponsored Post]

Tas merupakan salah satu aksesoris atau item fashion yang tidak bisa dilewatkan oleh seorang wanita. Selain digunakan untuk membawa barang, tas juga berguna sebagai penunjang penampilan, dalam kesempatan apapun. Baik saat, kerja, hang out, ke kampus, dan lainnya. Nah, sebagai inspirasi, berikut kami bagikan beberapa koleksi jenis tas kerja wanita yang patut Anda ketahui dan koleksi. Silahkan disimak!

8 Jenis Tas Kerja Wanita yang Sebaiknya Anda Koleksi 

1. Hobo Bag 

Tas kerja wanita hobo bag sangat tepat untuk digunakan ke kantor karena ukurannya yang cukup besar sehingga dapat membawa banyak barang. Bentuk tas kerja wanita hobo bag ini menyerupai bulan sabit atau setengah lingkaran. Tali yang digunakan juga tebal dan kuat menahan beban.

Pada umumnya tas ini digantungkan di bahu atau lengan wanita sehingga memberi kesan feminim. Selain untuk dipakai saat kerja, hobo bag juga cocok digunakan untuk hangout atau aktivitas lainnya.

2. Satchel Bag

Bentuknya yang kotak menjadi salah satu ciri khas dari tas kerja wanita satchel bag. Biasanya permukaan satchel bag terbuat dari kulit atau dilapisi kain. Pada awalnya, tas ini hanya populer di kalangan pelajar.

Namun, seiring bergulirnya waktu, tas kerja wanita ini dibuat dengan desain yang colourful sehingga menarik perhatian para wanita. Satchel bag sangat cocok digunakan untuk pergi ke kantor karena akan menambah kesan elegan pada penampilan Anda.

3. Kelly Bag

Sebagai wanita karier, Anda wajib untuk memiliki tas kerja wanita kelly bag. Nama tas ini sendiri diambil dari sosok aktris yang kerap memakai tas desain Hermes, Grace Kelly.

Bentuk tas kerja wanita kelly bag mengerupai koper kecil berbahan kulit. Kelly bag tergolong dalam hand bag karena terdapat pegangan yang kecil. Dengan memakai tas ini, maka penampilan Anda saat ke kantor akan tampak lebih formal dan elegan.

4. Baguette Bag

Barguette bag merupakan tas kerja wanita yang memiliki bentuk unik, mewah dan stylish sehingga dapat menunjang penampilan Anda di kantor. Tas ini berukuran cukup besar dan memiliki tali yang dapat disandang ataupun Anda genggam.

5. Bowling Bag

Pada mulanya bowling bag hanya digunakan untuk membawa bola bowling. Namun, saat ini tas kerja wanita bowling bag sudah beralih fungsi menjadi salah satu pelengkap fashion para wanita, khususnya untuk pergi ke kantor. Dengan menggunakan bowling bag maka penampilan Anda akan terlihat semakin trendi dan modis.

6. Doctor’s Bag

Sama seperti namanya, doctor’s bag umumnya digunakan oleh para dokter untuk menyimpan peralatan medis pada tahun 1800-an. Seiring berjalannya waktu dan berkembangan dunia fashion, doctor’s bag kerap digunakan sebagai aksesoris wanita untuk pergi kerja.

Walaupun dari luar tas kerja wanita ini tampak tidak terlalu besar, namun doctor’s bag memiliki ruang yang besar serta dapat menampung barang-barang keperluan kantor.

7. Envelope Bag

Envelope bag termasuk tas kerja wanita yang terbilang unik karena memiliki desain yang menyerupai sebuah amplop. Tas kerja wanita envelope bag ini terdiri dari dua macam, yaitu yang memakai tali serta tanpa tali.

8. Shoulder Bag

Salah satu jenis tas yang cocok digunakan para wanita untuk pergi ke kantor adalah shoulder bag. Tas kerja wanita ini memiliki desain kasual dan tali yang panjang untuk dilingkarkan pada bahu.

Shoulder bag menggunakan berbagai bahan tergantung dari produsennya. Dengan memakai shoulder bag, maka kesan simple namun formal dapat terpancar pada penampilan Anda saat bekerja di kantor.

Nah, itulah beberapa jenis tas kerja wanita yang patut Anda koleksi. Nah, kira-kira mana yang paling anda sukai.

9 Sep 2017

Tetap Optimis Menjalani Hidup Setelah Resign? Lakukan Langkah-Langkah Ini

Tetap Optimis Menjalani Hidup Setelah Resign? Lakukan Langkah-Langkah Ini
Tetap Optimis Menjalani Hidup Setelah Resign? Lakukan Langkah-Langkah Ini

Per tgl 1 maret 2017 saya berhenti bekerja pada salah satu perussahaan multinasional. Ini keputusan yang besar, karena saya telah bekerja selama 12 tahun di sana. 

Saya bukan tipe pekerja kutu loncat, yang menemukan sedikit masalah langsung memilih pindah ke tempat lain. Oleh karena itu, beratnya saya meninggalkan perusahaan ini bukan karena persoalan gaji yang kata orang di atas rata-rata, atau bukan karena nama besar perusahaan itu sendiri. 

Saya merasa sedih karena orang-orang di dalamnya sudah menempati bagian tersendiri di hati. Mereka ibarat saudara yang setiap hari bertemu, berbagi suka dan duka. 

Saya ingat serunya berbuka puasa bareng di bulan Ramadhan. Menikmati secangkir teh dan bakwan goreng di kantor lebih lahap daripada menyantap hal yang sama di rumah. Celoteh-celoteh riang, candaan menghangatkan suasana buka puasa. Sehingga membuat penganan apapun yang terhidang terasa lezat.

Itu salah satu contoh kecil saja, banyak momen kebersamaan yang tak terlupakan bersama teman-teman kantor saya dulu.

Untungnya Parepare adalah kota kecil. Walaupun jarang berkunjung ke kantor, saya dan beberapa teman masih sering berpapasan, saling berjabat tangan dan bertukar kabar. 

***

Untuk menanggapi artikel Mak April Hamsa Cara Membangun Optimisme Supaya Tetap Semangat Menjalani Hidup, saya ingin berbagi artikel terkait bagaimana agar tetap optimis menjalani hidup setelah resign.

Ketika kamu sudah merasa tidak cocok pada suatu perusahaan, atau saat kamu ingin mengembangkan ide di tempat lain, baik itu perusahaan berbeda atau usaha sendiri, biasanya saat itulah kamu mempertimbangkan untuk resign.

Resign bukan kiamat. Ini adalah salah satu fase pilihan hidup. Hanya saja resign sebaiknya tidak dilakukan serta merta ketika niat tersebut terbesit di benak. Beberapa hal sebaiknya dilakukan. 

Baiklah secara garis besar, inilah yang saya sarankan kamu lakukan sebelum mengajukan surat permohonan berhenti kerja: 

Sholat Istikharah 

Mintalah pendapat Tuhan. Untuk yang beragama Islam lakukanlah sholat istikharah. Karena manusia hanya berencana, Allah yang paling tahu apa yang terjadi di masa depan. Dengan sholat istikharah, langkah kita menjadi mantap karena yakin apapun yang kita lakukan ada Allah SWT menyertai. 

Menjalankan Bisnis

Sebelum berhenti kerja, pastikan kamu punya usaha yang sudah berjalan. Tidak perlu usaha yang menguras tabungan. Sederhana saja dulu, yang operasionalnya bisa dijalankan tanpa kamu harus terjun langsung. 

Terlebih jika pasangan kamu tidak memiliki penghasilan, pastikan tips ini kamu lakukan. 

Setahun sebelum resign saya membuka kios pulsa. Kecil-kecilan, modal sewanya hanya 2 juta. Seiring waktu, usaha tersebut bertambah produk barang-barang kelontong. Ketika saya berhenti kerja, warung kelontong plus kios pulsa tersebut sudah memiliki pelanggan dan bisa memberikan pemasukan tambahan yang stabil. 

Lunasi Semua Utang

Jangan biarkan ada utang, apalagi utang berbunga yang menjeratmu saat resign. Miliki azzam yang kuat untuk melunasinya sebelum resign. Caranya percepat pelunasan utang bank. Jika gaji tidak cukup, carilah tambahan penghasilan seperti poin kedua di atas. 

Kalau utang saya terlalu banyak bagaimana Jeng? 

Kuatkan niat untuk melunasinya karena Allah, insya Allah dimudahkan ditunjukkan jalan olehNya. 

Tips bebas dari utang bisa baca buku-buku Mas Saptuari Sugiharto, ikuti grup dan fans page beliau di Facebook. 

Jangan pakai gaji 6 bulan terakhir

Hal ini penting untuk berjaga-jaga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat, ketika berhenti kerja, fasilitas seperti tunjangan kesehatan turut lenyap. 

Tidak memakai gaji 6 bulan terakhir untuk dana cadangan jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, misalnya keluarga sakit, kecelakaan, dll. 

Selain itu, melakukan hal ini juga sebagai tes atau latihan untuk diri sendiri  “Benarkah saya sanggup bertahan tanpa gaji dari perusahaan?”

Jika kamu sanggup menabung gaji 80-100 %, berarti kamu sudah sangat siap mengajukan surat resign. 

Berat ya? 

Tidak. Kan poin-poin di atas sudah dilakukan; ada kios kecil-kecilan dan utang sudah lunas.

Ajukan Surat Pengunduran Diri, pamit baik-baik dan minta surat pengalaman kerja 

Saya pernah menemukan rekan kerja yang tiba-tiba pergi tanpa pamit, surat pengunduran diri beserta aset kantor dititip di satpam saja. Yang begini jangan ditiru ya hehehe

Itulah beberapa hal yang saya lakukan sebelum resign. Tips ini bukan saya comot dari buku atau artikel, tapi benar-benar saya praktekkan sendiri. 

Hasilnya bagaimana?

Alhamdulillah, saya tidak menemukan kesulitan yang berarti setelah resign, khususnya masalah keuangan. Kebiasaan-kebiasaan sebelum resign masih dilakukan, seperti belanja buku, baju, jajan, sesekali makan di cafe atau warung makan langganan tetap bisa dilakukan tanpa harus membuat suami pontang-panting cari uang tambahan. 

Dengan melakukan langkah-langkah di atas juga membuat kamu lebih relaks pasca resign. Kamu tidak perlu terburu-buru cari kerja atau membangun bisnis baru. Kamu punya banyak waktu untuk mempertimbangkan langkah terbaik apa yang selanjutnya dilakukan, memilih bisnis potensial apa yang cocok dengan kepribadian dan hobi kamu. 

Saya menemukan bisnis Kangen Water setelah dua bulan liburan dan mempertimbangkannya di rumah. Alhamdulillah, keputusan memiliki mesin Kangen Water adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya lakukan. Kami menjadi sehat sekeluarga, bisa bersedekah air sehat, dan juga menghasilkan uang. (Untuk info lebih lanjut tentang bisnis Kangen Water silahkan hubungi WA 081342045910) 

Semoga bermanfaat.

Nur Islah

7 Sep 2017

Merdeka Saat Menjadi Ibu Rumah Tangga


Eh sekarang hari apa ya? 

Kamu pernah lupa hari? Saya sering 6 bulan belakangan ini. Mengira jumat padahal kamis, menyiapkan seragam batik padahal harusnya pakaian pramuka buat dipakai Si Kakak. 

Itu baru persoalan hari, kalau ditanya tanggal, saya lebih sering lupa dari pada ingat.

Apakah saya terserang insomnia? 

Tidak. 

Saat menjadi ibu yang full time di rumah, saya menjadi kurang memperhatikan kalender. Sangat berbeda ketika kerja kantoran, tempo-tempo menengok kalender meja, lantaran kerap membuat email dan update data. 

Selama 6 bulan, saya cuma hilir mudik di bangunan 7 x 10 meter, yaitu dapur, kamar, dan teras. Paling jauh ke pasar, itupun selalu bersama Pap Nay dan anak-anak. Sangat jarang saya pergi sendiri. Seringnya rombongan sekeluarga. Kedengarannya sedih amat ya, terkungkung di rumah. 

Bisa jadi orang yang melihat berpikiran begitu, tapi percayalah 6 bulan itu masa-masa paling merdeka saya sebagai manusia.

Saya tidak harus buru-buru mandi,tidak dikejar laporan, tidak harus delapan jam di kantor, dan tidak perlu lembur. Saya bebas mau mandi jam berapa pun, entah itu pagi, siang, atau dijamak di sore hari. 

Walaupun bukan akhir pekan, saya enteng membawa anak-anak ke cafe. Menikmati semilir angin laut sambil menyantap penganan pisang goreng keju dan jus jeruk kesukaan Ayyan. Pap Nay tidak pernah melarang, kalau sempat, beliau mengantar. Jika tidak, kami bertiga menunggu pete-pete kuning, cukup bayar Rp.5000, pak sopir mengantar sampai tujuan.

Saya bisa menjalankan bisnis dengan nyaman. Tidak perlu khawatir terdengar si bos kalau lagi menerima telepon pelanggan. Bebas menuangkan ide-ide marketing tanpa harus terganggu pikiran masih ada email yang harus di follow up. 

Tentu saja merdeka bukan berarti semua harus indah. Langit saja gak selalu biru cerah, sering mendung, bahkan sesekali ada petirnya. Tayangan sinetron India kesukaanmu pun ada jeda iklannya, padahal jantungmu sudah berdegup kencang menunggu kelanjutan adegan si aktor dan aktris bertatap-tatapan dan berbicara dalam hati :D 

Sama. 

Menjadi ibu rumah tangga memang menyenangkan, sambil dasteran bisa menjalankan hobi tanpa terikat jam kerja. Tapi iklan menguras emosinya juga buaaayaakkkkkkkk. (tuh kan sampai butuh K berlapis)

Berbulan-bulan saya berusaha menyesuaikan diri dengan ritme kerja IRT, kadang merasa lemas duluan melihat pakaian kotor menggunung, sementara keranjang penuh pakaian bersih menunggu dilipat. 

Saya teringat istilah produk jualan di kantor dulu, barang yang cepat laku disebut fast moving product. Nah pekerjaan IRT itu perputarannya tak kalah cepat. Lantai disapu sekarang sebentar kotor, disapu lagi kotor lagi. Dibereskan di sini, di situ berantakan. Kondisi rumah rapi menjadi berantakan itu terjadi dalam hitungan menit. 

Bukan hanya beradu dengan kekompakan dua bocah mengobrak-abrik keranjang mainan, menggunting kertas, memasukkan segala macam ranting ke dalam rumah. Saya juga beradu dengan angin yang selalu merontokkan daun dua pohon mangga depan rumah. Kalau lagi rajin dua kali sehari saya menyapu halaman. Saat berat tulang diajak gerak, ya menunggu angin membawa pergi tuh daun :D 

Sekarang, saya mulai bekerja lagi. Diamanahi profesi baru yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Yang sekarang ini tidak memakai jam kerja harus datang pukul 8 pulang jam 4 teng, tapi harus siap bekerja setiap saat jika dibutuhkan. 

Saya percaya setiap profesi ada suka dukanya. Setiap jalan hidup ada tantangannya. Kalau mau senang terus, ya nanti...di surga. 

Tulisan ini untuk menanggapi artikel #KEBloggingCollab Mak Diah Kusumastuti di sini.

23 Agt 2017

Ketika Handphone Membuang Waktumu

Ketika Handphone Membuang Waktumu

Islah, seorang ibu dua anak, mengeluhkan waktu yang sangat kurang. Dia merasa pagi baru dimulai kenapa azan magrib begitu cepat terdengar. Sementara pekerjaannya belum rampung semua. Ada pakaian bertumpuk belum dicuci, sementara jemuran kemarin menunggu dilipat. 

Islah memiliki daftar yang panjang rencana pekerjaan yang akan dia selesaikan hari itu, dia sudah berencana melakukannya satu per satu nanti. Mengapa ketika hari menjelang malam, hanya setengah dari daftar pekerjaannya yang berkurang.

Islah mengevaluasi diri, apa yang salah dengannya hari ini? 

Tadi pagi, anak pertamanya sudah berangkat sekolah. Seharusnya saat itu adalah jadwal menyapu. Tapi dia memutuskan mengambil HP, menjawab chat yang masuk. Ada percakapan menarik di grup whatsapp yang dia ikuti. Dia baru sadar, jam sudah menunjukkan pukul 9 ketika memutuskan menyimpan gadgetnya. 

Baru juga dia akan beranjak dari kursi, tiba-tiba anak kedua bangun. sudah menjadi kebiasaan ketika bocah laki-laki berusia 4 tahun itu bangun, dia akan bermanja-manja pada ibunya. Sembari meminum susu, dia akan berada di pangkuan ibunya sekitar 10-15 menit. Di saat itu, plan kerja sudah kacau, Islah sudah lupa dengan jadwal yang sudah disusunnya semalam, dan mulai mengabaikannya.

Islah mulai menyapu halaman. Selesai satu. Tapi dapur masih berantakan, bekas minyak masih banyak menempel di kompor. Tadi adiknya membuat sarapan menu telur ceplok, percikannya menyebar sampai di lantai. 

HP berbunyi, nada pesan masuk terdengar berulang. Ah, mungkin itu pesan dari calon pembeli, karena Islah seorang ibu yang juga berbisnis dari rumah, mengabaikan bunyi chat masuk bisa menghilangkan potensi rezeki. Detik ini dia sudah lupa kalau dia akan membereskan dapur.

Benar saja, seorang teman bertanya-tanya tentang bisnisnya. Islah menjelaskan apa yang ditanyakan teman dan tak lupa menawari ikut seminar untuk lebih paham. Sebenarnya percakapan online dengan teman ini hanya berlangsung 5-10 menit, tapi Islah tidak menyimpan HP setelahnya, melainkan tergoda membuka facebook. 

Beranda facebook dipenuhi cerita lucu percakapan Aylaview, Islah tidak tahan untuk tidak komentar atau sekedar memberi jempol pada status yang memang membuatnya tertawa. Aktivitas ini tidak terasa membuang banyak waktunya, hari sudah menjelang siang.

 ***

Yang saya tulis di atas itu nyata, terjadi pada tokoh Islah memakai nama saya sendiri. Mungkin saya tidak sendiri, banyak ibu-ibu lain yang mengalami hal serupa. 

Ada beberapa penghambat mengapa produktivitas menjadi sangat berkurang. Seperti tidak menyusun daftar pekerjaan dan melakukannya berdasarkan tingkat prioritas, tidak mendelegasikan yang bisa didelegasikan, dan sebagainya. 

Tapi sebenarnya penyebab utama adalah kita terlalu banyak bermedia sosial. Padahal jika dihitung-hitung, banyaknya waktu yang terbuang dengan aktivitas ini tidak sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Malah, saya pribadi merasa telah kelebihan informasi. Otak saya bekerja lebih keras, berusaha memilah dan menyaring berita. 

Sebut saja contoh, cerita seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya yang kanker mulut. Pada awalnya suami mengeluhkan sariawan yang tak kunjung sembuh, dan akhirnya ketahuan sakit setelah kanker yang dia derita sudah mencapai stadium akhir. Cerita sedih ini viral dalam hitungan jam di fesbuk. 

Sedikit banyak ini mempegaruhi pikiran, tadinya saya tidak mengkhawatirkan sariawan yang saya derita sejak dua pekan lalu, akibat berita viral ini saya tiba-tiba menjadi sangat khawatir. 

Itu hanya salah satu contoh saja. Jika dihitung-hitung aktivitas bermedia sosial memakan banyak sekali waktu tanpa kita sadari. Riset yang dilakukan oleh Vserv, rata-rata penggunaan smartphone di Indonesia menghabiskan waktu 129 menit per hari. Bayangkan 2 jam 15 menit! Kalau dipergunakan maksimal, waktu segitu lebih dari cukup untuk membersihkan satu rumah sampai kinclong. 

Jumlah 129 menit itu hasil risetnya, kenyataannya kita mengeloni smartphone jauh lebih lama dari itu. 

Saya pernah meng-upload di instagram @pulau_ila tentang bagaimana anak kedua saya sampai menanyakan sesuatu yang sangat menusuk. Begini percakapannya; 

Rayyan : "Mama sayang HP?"
Mama   : "Tidak"
Rayyan : " Kenapa Mama selalu pegang HP?"

Duh, detik itu handphone langsung saya singkirkan, menyimpannya di atas lemari. 

Untungnya saya segera menyadari kekeliruan ini. Saya mulai mengatur waktu kapan boleh menyentuh handphone, kapan menyimpannya. Jika ingin berselancar di dunia maya, saya mulai membatasi diri dengan cara melihat jam sebelum bermedsos supaya tidak lagi kebablasan. 

Bagaimana dengan kalian, moms? Share ya cara kalian mengatur jadwal bermedsos di kolom komentar.

Artikel ini untuk menanggapi tulisan Mak Irna Octaviana Latif di sini

16 Agt 2017

Boston


Boston. Sulit untuk tidak menyimpan nama dia dalam pikiran atau hatimu, walaupun baru pertama kali bertemu. 

Perawakan besar cenderung bulat. Kepala botak, bibir tebal yang selalu berbentuk bulan sabit. Wajahnya selalu terlihat tersenyum. 

Kalau baru ketemu, tanganmu akan dijabat erat. Siapapun kamu, entah kamu memang suka lawakan atau tipe pendiam, kamu akan tetap mendengar joke keluar dari mulutnya. Dia tidak akan peduli lucu atau tidak, tapi biasanya yang mendengar akan tergelak. Bisa jadi bukan karena banyolannya, tapi mimik dan tingkah laku Boston memang mengundang tawa.


Dia adalah penghibur terbaik yang pernah saya kenal. 

Kadangkala, jika kami berjumpa dengan kenalan baru, dia melontarkan kalimat-kalimat lucu. Biasanya bukan kawan baru itu yang heboh tertawa tapi saya yang terpingkal-pingkal.

 Umumnya jika berada di kantor, bahan gurauannya adalah saya, pilihan Boston selalu jatuh pada saya.
"Eh, kenapa kalau bilang tua liatnya ke Nuri" katanya sambil tersenyum jail.

Lihatlah, dia menyebutku Nuri, padahal rekan kerja yang lain memanggilku Ila atau Islah. Dia senang menjuluki teman-teman akrabnya dengan nama alias bikinan sendiri. Dan itu sifatnya tidak sementara, tapi selamanya. 

Baca juga contoh obrolan kami di Fun with coffee

Pedda untuk Asrul, Om Sod untuk Yoseph, Bemz untuk Vetri, Emmang untuk Noni. Yang terakhir hanya karena nama lengkap Noni adalah Emma Noni. 

Apakah ada yang marah? 

Mungkin pada awalnya iya. Kenyataannya kami tidak akan pernah sanggup marah lebih dari sehari pada Boston. 

Selama 12 tahun mengenalnya, sekali saya pernah marah. Gara-gara bertanya padanya saat dia sedang sibuk. Tetiba jawabannya ketus, saya ngambek seharian. 

Apa yang dilakukan Boston? 

Dia berkeliaran di sekitarku sepanjang hari, merayu-rayu, bikin lelucon sampai saya mau tertawa lagi. Padahal dia sedang sibuk. Endingnya, kami berbaikan sebelum balik ke rumah. 

Saling meledek kami lakukan hampir tiap ketemu. Dia bilang sesuatu untuk lucu-lucuan, saya menimpalinya. Selalu begitu. Kami terlihat tidak akur tapi selalu tertawa bersama. Hubungan yang aneh ya. 

Walaupun demikian, hampir seluruh masalah saya ceritakan padanya. Di antara semua teman dialah yang paling tahu isi hati dan kepalaku. 

Dia yang mula-mula tahu ketika bapak sakit. Dia yang pertama datang saat saya akan melahirkan karena dialah yang mengantar ke rumah sakit, dia yang tahu pertama saat saya berencana resign, bahkan berbulan-bulan sebelumnya. 

Saya tidak pernah sungkan curhat padanya karena saya tahu hatinya seputih kertas, tak akan dia sebar rahasia di belakang. Saya tahu dia akan menjaga rahasiaku.

Ketika curhat, dia selalu memberi solusi, kadangkala terasa menggurui, kadangkala dia memarahi, kadangkala dia menyalahkan. Tapi saya tetap plong berbicara padanya, karena saya tahu apa yang dikatakannya benar, semua untuk kebaikanku. 

Dia editorku. Draft artikel paling mentah untuk ditayangkan di blog pun sering saya kirim kepadanya. Susah untuk mendapatkan pujian. Dia menyuruh ganti ini itu. 

"feelnya tidak dapat" 
"Kalimatnya lompat-lompat" 

Mungkin dia satu-satunya editor yang tidak bisa menulis, tapi dia pembaca berita online yang bagus. 

Dia teman yang paling senang pada apapun pencapaianku. Ketika mengkritik dia jujur, ketika memuji dia tulus. 

Baca juga artikel tentang Boston di Kesabaran Berbuah Bahagia

Dari Boston saya mendapatkan definisi me time yang kurang saya sepakati. Me time itu kamu melakukan hal yang kamu sukai tanpa peduli akibatnya. Tak perlu hirau baik untuk kesehatan atau tidak. Saya gemes dia berprinsip begitu.

Boston sangat hobi main game, sering kebablasan sampai larut malam. Dia suka makan makanan enak. Siapa yang tidak suka ya? Bedanya ketika Boston menyukai sesuatu, tidak tanggung-tanggung, benar-benar sampai puas. 

Saya angkat topi betapa Boston menikmati hidup. Tapi saya gerah melihatnya begitu, dan teramat sering membicarakannya sambil berdebat.

Hidup hanya sekali katanya, "Nikmati saja!" 

Boston, teman terbaik itu pergi tgl 13 Mei 2017, sepekan sebelum air kangen yang saya janjikan padanya datang. 

"Katanya kamu mau lihat saya sehat, nanti kasih gratis segalon nah" 
"Kalau untuk kamu apa yang tidak bisa Ton" 

Itu salah satu percakapan saat chat panjang terakhir kami, 4 hari sebelum kematiannya. 

Boston meninggal mendadak, tiba-tiba dadanya sakit sepulang acara ulang tahun ibunya. 

Beliau role model dalam berteman. Sampai sekarang, ketika merasa kurang nyaman pada seseorang saya akan bertanya pada diri sendiri "Kalau begini, kira-kira Boston akan bersikap bagaimana?" 

Ton, saya tidak menduga kamu pergi begitu cepat. Yang pasti ada sekeping hatiku hilang, belum sempat kusampaikan padamu kalau kami semua sayang padamu brother.