24 Jul 2016

Dari Matalalang ke Batu Karapu

Dari Matalalang ke Batu Karapu. Jika Bali adalah Pulau Dewata, maka Selayar mungkin pulau lainnya para dewa. Begitu banyak keindahan di kabupaten paling selatan ini, baik yang sudah mendunia maupun yang belum terjamah media. Sampai-sampai walaupun sudah bertahun-tahun ke Selayar, daftar objek wisata yang belum saya datangi masih panjang.
Kali ini saya akan bercerita tentang petualangan sehari mengunjungi objek wisata laut. Rombongan kecil; saya, Pap Nay, Tetta, dan Kak Ani, mengendarai motor pagi itu. Sengaja berangkatnya dini hari, selain karena saat itu para bocah masih lelap, juga untuk menghindari kulit gosong terpapar matahari siang.
Hutan Mangrove Matalalang
Hutan-Mangrove-Matalalang
Hutan Mangrove Matalalang
Kami mengunjungi tempat ini pertama kali karena lokasinya sangat dekat dari kota Benteng, hanya sekitar 3 km saja ke arah selatan. Beruntungnya kami tiba saat jalanan untuk pengunjung sudah dibangun. Kayu-kayu yang terpasang tampak masih baru, memanjang menjorok sampai ke laut. Sayang, kualitas kayu yang digunakan tidak begitu bagus. Mudah-mudahan tahun depan jika kesini lagi, semuanya masih utuh.
Hutan-Mangrove-Matalalang
Pagi-pagi diberi pemandangan hijau begini, hati jadi adem. Apalagi tidak ada orang selain kami berempat. Melangkah beberapa meter ke depan bikin tambah adem lagi.  Sayang tidak bawa kopi dan pisang goreng, kalau iya, mungkin kami ngaso lama di sini.

Hutan-Mangrove-Matalalang
Air laut di Matalalang sangat jernih, tenang tidak beriak. Kamu bisa melihat bayanganmu sendiri terpantul utuh. Air laut yang diterpa sinar matahari pagi, permukaannya tampak berkilau indah.
Hutan-Mangrove-Matalalang
What a beautiful morning!

Hutan-Mangrove-Matalalang

Waktu berkapal pulang dari Pulau Liang Kereta beberapa hari setelahnya, saya sempat melihat penampakan hutan mangrove ini dari kejauhan. Dilihat dari laut, hutan ini cukup panjang dan rimbun, sayang tidak sempat ambil gambarnya, karena waktu itu HP dibajak Ayyan, tidak mau dilepas pula walau dibujuk pakai kalimat apapun.
Tanjung Batu Karapu
Pagi itu, setelah puas menikmati pemandangan laut dan hutan bakau di Matalalang, Tetta mengajak kami ke sebuah tempat yang menurutnya “gammara”. Sedikit-sedikit saya mulai paham Bahasa Selayar, gammara berarti bagus atau indah. Bahasa Selayar sangat jauh berbeda dengan Bahasa Bugis, pengucapannya lebih mendekati Bahasa Makassar. Mungkin karena hidup di daerah pantai, suara orang Selayar juga lumayan keras, dan sering kebawa-bawa walaupun mereka memakai Bahasa Indonesia. Itulah sebabnya sampai sekarang, saya masih sering ngambek, mengira suami marah karena bersuara keras.
Soal suara keras ini beberapa kali terjadi kejadian ini; saat saya sedang memasak di dapur, tiba-tiba terdengar suara ribut. Buru-buru saya mematikan kompor dan berlari keluar karena mengira Pap Nay sedang perang mulut dengan seseorang. Eh rupanya dia sedang ngobrol dengan teman sekampungnya di telepon.
Kok jadi ngomongin bahasa ya :D
Balik lagi ke topik cerita.
Untuk menuju ke Tanjung Batu Karapu, kami harus melewati jalan yang agak menantang. Tetta sang pemandu harus bertanya ke penduduk setempat, belokan mana tepatnya kami harus menuju. Jadi di postingan ini saya tidak bisa menjelaskan detail alamatnya, lha penunjuk jalannya saja masih bingung hehehe.
Nah setelah mengikuti rute sesuai petunjuk ibu yang kami tanyai tadi, jalanan yang dilewati mulai sempit di areal perkebunan pohon kelapa. Tidak lama kemudian jalanan menanjak, menurun, menanjak lagi di areal hutan yang sepertinya baru saja dibabat dan dijadikan jalan. Babatan cukup luas, pemerintah Selayar sepertinya menaruh perhatian besar pada objek wisata ini. Walaupun masih dalam proses pengerjaan, jelas jalan yang dibuat direncanakan cukup lebar, keadaan tersebut sama sampai kami tiba di tempat tujuan.
Tibalah di persimpangan, kami tidak menemukan seseorang pun untuk ditanyai. Kanan atau kiri? Akhirnya motor dibelokkan ke kanan dulu. Sepertinya benar, 3 anak muda baru saja memarkirkan kendaraannya. Kami lalu mengekori mereka berjalan kaki menerobos hutan (hallah…bahasanya, padahal hanya beberapa meter melangkah :P)
Hutan berada di ketinggian, beberapa tanaman khas hutan seperti kemuning tumbuh liar di sini. Pap Nay mencoba mencabutnya, tanaman yang bunganya berbau harum ini ternyata berakar sangat kuat, tiba-tiba saya menyesal tidak bawa linggis, gagal lah kami mengadopsi kemuning untuk dijadikan bonsai di rumah.

tanjung-batu-karapu
Tetta yang berjalan mendahului kami berteriak, mengajak kami ke tempat dia berdiri, karena pemandangan di situ lebih indah. Memang benar indah tapi serem. Coba lihat tempat kami foto-foto itu. Tingginya mungkin 40 meter dari atas air laut, tidak ada pagar pelindung. Tanahnya berkerikil, benar-benar rawan tergelincir.  Kami memutuskan cepat-cepat beranjak, ini bukan tujuan utama kami, tapi di bawah, yaitu tanjung yang kami lihat dari ketinggian ini.
Jadi perjalanan dilanjutkan menuju persimpangan tadi, kali ini kami ke kiri. Beberapa menit kemudian, kami sampai. Benar kata Tetta, tempat ini gammara. Waktu kami tiba, suasana tanjung masih sepi, pengunjung ada tapi sudah siap pulang. Kami seperti berada di pulau pribadi.


tanjung-batu-karapu
Surga tersembunyi


tanjung-batu-karapu
Pasirnya putih bersih

Pantai di sini benar-benar bersih, dibandingkan pantai-pantai sebelumnya yang saya pernah kunjungi, inilah maskotnya, the best-nya, juaranya. Kurang apa coba, saat hampir tiba saja, karena kami di ketinggian, kami disuguhi pemandangan rimbunnya hutan, lanjut turun ke bawah dapat pasir lembut yang superrrr putih, terus memandang ke depan, ada birunya laut yang aduhaiiiii jernihnya, terus mendongak ke atas, eh ada tebing tinggi menjulang yang eksotik. Tidak cukup sampai di situ, melayangkan pandang jauh ke kanan, ada tebing bercincin yang menjorok kelaut. Yang terakhir yang disebut itulah yang jadi latar aksi foto selfie yang ramai di linimasa.
tanjung-batu-karapu
di bagian ini banyak kepiting kecilnya


tanjung-batu-karapu
dibentengi tebing yang tinggi
tanjung-batu-karapu
tanjung-batu-karapu
mirip bentuk kepala ikan kerapu
Tadinya saya pikir akan sulit menginjakkan kaki di sana, karena mengira harus melewati air yang tingginya sampai dada. Rupanya salah, cukup buka sandal, gulung celana sampai sebetis, kamu bisa berada di balik karang itu. Kami melewati lobang serupa cincin itu dan menemukan ada lagi cincin serupa menanti. Ih keren!


tanjung-batu-karapu
menjelang siang, lumayan juga panasnya
tanjung-batu-karapu
ini cincin yang saya maksud

A photo posted by Nur Islah (@pulau_ila) on
Batu Karapu memiliki cerita mitos yang wallahualllam benar tidaknya. Cerita ini saya dapatkan dari mama mertua setelah kembali ke rumah.
Jaman dahulu, seekor ikan kerapu yang berukuran sangat besar terdampar di tanjung ini. Lama dia berusaha meloloskan diri tapi tidak bisa juga kembali ke tengah laut. Jadi untuk bertahan hidup, si ikan menyantap apa saja makhluk hidup yang lewat di dekatnya, termasuk manusia. Seiring waktu si ikan kerapu akhirnya mati dan berubah menjadi batu.
Demikianlah asal mula nama Tanjung Batu Karapu. Kabarnya lagi, Tanjung Batu Karapu di jaman dulu adalah tempat yang angker, kapal banyak yang karam terhempas di tebing. Memang jika musim barat, air laut lebih ganas.
Begitulah cerita petualangan saya satu hari itu. Menyambangi kedua tempat yang saya ceritakan di atas sebenarnya hanya memakan waktu setengah hari, tapi di pertengahan jalan pulang, kami singgah silaturahmi di kediaman beberapa keluarga, dan sempat terjebak hujan pula. Jadinya tiba di rumah menjelang sore.
 

14 Jul 2016

Suatu Pagi Di Matalalang

Andai hari selalu begini
Seperti di Matalalang…
Pagi datang perlahan
Tak ada rusuh mencari kaos kaki sebelah
Tak ada kejaran detik menuju pukul delapan
Tak ada suapan nasi tergesa
Hening belaka

Tenang dan damai alam
Luas cemerlang kilau lautan
Daun mangrove bergerak perlahan
Dirayu angin yang meniup pelan
Mentari pun hangat menyapa

Tangan kita bertaut
Melangkah beriring
Menelusuri setapak di tengah rumpun hijau
Membuang lelah…
Menghalau kepenatan

hutan-mangrove-mata-lalang-selayar

hutan-mangrove-mata-lalang-selayar

hutan-mangrove-mata-lalang-selayar

hutan-mangrove-mata-lalang-selayar

hutan-mangrove-mata-lalang-selayar

hutan-mangrove-mata-lalang-selayar

hutan-mangrove-mata-lalang-selayar

28 Jun 2016

Happy 7th Anniversary!

2001-2016, berarti saya mengenalnya sudah 15 Tahun!

Anaknya kalem, jarang ngomong, jarang ribut, jarang nongkrong dengan temannya. Penampilannya pun beda dengan kakak kelas yang lain. Rambut secenti, badannya yang proporsional dibalut kemeja rapi digulung setengah lengan. Pertama liat saya langsung suka, dia handsome (hei..ingat selera orang beda-beda!)

Well benar, saya suka curi-curi pandang, melirik malu setiap melihatnya di kampus. Sayangnya sistem perkuliahan di UNM sangat jarang mempertemukan junior dan senior sekelas. Universitas ini menerapkan sistem pemisahan kelas untuk mahasiswanya, macam waktu di SMU saja. Kalau kamu masuk di kelas A, bisa dipastikan tiap hari kamu akan terus bersama-sama dengan teman kelasmu dari semester awal sampai akhir di semua mata kuliah. Berbeda dengan Unhas, mahasiswa bebas memilih kelas, memilih mata kuliah, bahkan memilih dosen yang mengajarnya. (dulu ya, tidak tahu sekarang)

Jadi kami sangat jarang duduk bersama dalam ruang kuliah, senior idaman yang cool itu hanya bisa saya pandang dari jauh hahaha.

Waktu berlalu, saya mulai geer, dia juga sering ketangkap mata melirik saya (geli menulis bagian ini). Akhirnya setiap ketemu pasti bertegur sapa. Bahkan seorang sahabat yang memperhatikan kelakuan kami pun menyadarinya, mata kami selalu saling mencari.

Momen teromantis antara saya dan dia hanya satu kali jalan ke mall sebagai teman. Oh ya pernah juga janjian pergi bareng di acara Spending Night English Club yang ternyata acaranya super membosankan. Kami tidak pernah berpacaran. Malah saya akhirnya jadian dengan orang lain dan dia pacaran dengan teman angkatan saya. Mirip lagu Broery Marantika dan Dewi Yul saja, kau disana aku disini :D

Di masa kuliah saya pernah sakit, sampai harus cuti satu semester. Cowok idaman ini menelpon, senangnya luar biasa. Karena tahu dia orangnya pemalu, pasti dia mengumpulkan keberanian buat memencet nomer teleponku. Sikap manisnya itu terekam di benak sampai sekarang. Waktu itu walaupun cuti, saya juga mempersiapkan skripsi, saking happy-nya sempat-sempatnya saya  meluangkan waktu dari kesibukan mengetik skripsi untuk menulis percakapan kami di telepon, tulisan panjang dalam Bahasa Inggris acakadut di komputer. Mungkin datanya masih tersimpan sampai sekarang. What a lebay girl!

Tidak terasa sudah 15 tahun berlalu sejak perkenalan pertama. 7 tahun yang lalu cowok idaman melamar setelah 6 bulan sebelumnya menyatakan cinta. Laki-laki itu mau jadi bapak anak-anakku, fyi, he is the smartest person I've ever met. Dia serba bisa dan tidak pernah gagal dalam tes tertulis. Dia utusan kabupatennya untuk mengikuti lomba matematika waktu SMU, dia menjadi mahasiswa berprestasi dengan nilai tertinggi seuniversitas di angkatannya. Dia yang bisa memperbaiki perabot yang rusak, bisa membuatkan saya pagar kokoh dan dapur yang indah di kemudian hari, dia yang telah mencuri hati sejak perkenalan pertama .. akhirnya memilihku jadi mempelainya. Tsaahhh (dilarang muntah!)

Malam ini..

Pa..tahu ndak saya sudah sukaki sejak perkenalan pertama
Hening…
Kita iyya?”
samaji” katanya salah tingkah
Aiii curang, ikut-ikutanjeki!”
Bah..iya saya suka-sukami juga
Kita sayangka kah?”
kalau bisa ditimbang itu perasaan, pasti sayangku lebih besar dari kita

Iyahhh, memang seperti gombal tapi hatiku membuncah, mendekapnya semakin erat, dan tidak usahlah ya saya cerita apa yang terjadi selanjutnya :D

Terima kasih untuk tujuh tahun yang kau jalani bersamaku, semoga apapun riak dan gelombang kehidupan kelak, selalu mampu ditaklukkan oleh dirimu, nahkodaku. Amin

Happy 7th Anniversary!

16 Jun 2016

Tips Sukses Khatam Al Quran Untuk Ibu Rumah Tangga

Tips Sukses Khatam Al Quran Untuk Ibu Rumah Tangga. Sebenarnya agak ragu juga untuk memposting tulisan ini. Malu karena saya bukan yang orang kompeten di bidang ini, ustadzah bukan, ahli khatam Al Quran juga bukan. Kalau semangat berbagi lewat tulisan iya hehehe. Nah mumpung bulan ini adalah waktu meraup pahala sebanyak-banyaknya, saya ingin share tips mengkhatamkan Al Quran versi saya. Ini benar-benar hanya dari pengalaman sendiri saja, jika ada hal-hal yang mungkin salah atau keliru, silahkan ditambah atau dikoreksi di kolom komentar.

Untuk mempersempit pembahasan, saya memfokuskan tips dan trik ini kepada ibu-ibu saja, baik ibu rumah tangga fulltime maupun ibu yang juga bekerja di luar rumah. Pertimbangannya, ibu-ibulah yang paling repot di bulan Ramadan, mulai dari menyiapkan sahur, membangunkan seisi rumah, menyiapkan buka puasa, beres-beres rumah, dan lain-lain yang akan luar biasa panjang jika di-list. Dengan aktivitas seabrek itu, sangat dimaklumi ibu-ibu tidak seleluasa kaum pria membaca Al Quran. Belum lagi dengan keterbatasan waktu akibat ada periode haid kaum perempuan. Tapi dengan kegiatan super banyak itu kita tidak mau dong ketinggalan, sampai kehilangan kesempatan mendapatkan pahala mengkhatamkan Al Quran minimal 1 kali di bulan Ramadan.
Tips-Sukses-Khatam-Al-Quran-Untuk-Ibu-Rumah-Tangga

Saya coba menuliskan 10 tips menamatkan Al Quran versi saya ya:

1. Buat target

Sebelum memasuki bulan ramadan, luangkan waktu beberapa menit untuk membuat target amalan di bulan Ramadan. Sebaiknya target tersebut ditulis agar tidak lupa, jika mau, bisa di print dan ditempel di kamar, jadi kalau lagi malas bisa semangat lagi setelah melihat pajangannya. Target khatam Al quran dibuat dengan realistis, jangan ambisi khatam 5 kali misalnya, kalau di tahun sebelumnya 1 kali khatam saja tidak bisa hehehe. Pokoknya harus terukur dan bisa dicapai. Oh ya, dalam membuat target, pertimbangkan juga berkurangnya waktu kita baca al quran selama seminggu karena haid.

2. Tetapkan waktu harus selesai 1 juz

Mengaji memang sebaiknya dilakukan sewaktu-waktu kapanpun kita mampu, tapi usahakan menetapkan 1 atau 2 waktu harus menyelesaikan 1 juz. Misalnya setelah sholat isya atau subuh. Kalau saya biasanya setelah sholat subuh jika sedang shift siang di kantor, karena saya punya waktu yang panjang untuk tidur setelahnya (jangan ditiru). Tapi jika shift pagi, saya menetapkan waktu setelah sholat isya. Penetapan waktu ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya. Nah, sisanya selembar dua lembar bisa dilakukan kapan saja kita bisa.

3. Baca lebih cepat

Saya membaca lebih cepat dari biasanya. Jika di bulan lain membaca dilambat-lambatkan, di bulan Ramadan saya menambah kecepatannya. Alasannya apa? Bukan apa-apa sih, dari pengalaman saya pribadi saja, kalau bacanya lambat biasanya saya merasa selembar itu sangat panjang dan lama, membuat saya mudah bosan. Apalagi kalau mulai menghitung lembarannya kapan pindah juz, saya frustasi kok lembarannya sepertinya tidak kurang-kurang. Beda kalau baca cepat, ketika ngecek berapa lembar lagi, eh tau-tau sisa 1-2 lembar, jadinya tambah semangat.

Tapi harus diingat juga, walau cepat harus tetap diusahakan bacanya memperhatikan tajwid ya bu ibu.
Note : Lebih sering baca Al Quran akan berbanding lurus dengan kemampuan kita membaca cepat.

4. Membaca dengan melafalkannya

Ini kebiasaan saya saja, ingat pembuka di atas ya, ini kebiasaan saya hehehe.
Biasanya saya membacanya dengan melafalkannya, tidak perlu bersuara kencang, cukup lirih saja, asal terdengar oleh telinga sendiri. Lagipula kalau kencang, tenggorokan bisa kering, bisa cepat haus :p

Saya jarang membaca dalam hati, nanti jatohnya malah mengantuk, apalagi kalau ngajinya subuh, bisa-bisa malah ngorok :D

5. Delegasikan pekerjaan yang bisa didelegasikan

Yes, saya mendelegasikan pekerjaan. Saya beruntung punya adik perempuan yang tinggal serumah, dia banyak membantu saya mengerjakan tugas rumah yang tidak ada habisnya. Jadi saya tidak terlalu capai, pulang kantor, harus urus anak, harus pula mencuci piring misalnya. Kalau semua kita yang kerja, badan akan lelah. Kalau sudah begitu mana punya tenaga buat mengaji.

6. Mengusahakan tidur berkualitas

Untuk ibu-ibu yang tidak punya asisten atau adik yang bantu bagaimana? Usahakan punya waktu tidur berkualitas, karena bagaimanapun capeknya kalau sudah tidur dengan nyenyak, insya Allah kekuatan akan pulih kembali, jadi punya tenaga lagi untuk beres-beres rumah dan membaca Al Quran.

7. Bawa Al Quran kemana saja

Bawa serta Al Quran kemanapun kita pergi termasuk ke kantor. Jadi tilawah bisa dilakukan kapan pun ada kesempatan. Kalau sedang cukup tidur malamnya, saya biasanya ngaji ba’da dzuhur di kantor. Tapi kalau kurang tidur, saya memilih istirahat saja, nanti habis isya baru lunasi 1 juznya.

8. Tidak membaca lewat gadget

Nah, ini penting juga buat saya. Memang dalam gadget semua serba ada, tinggal download atau install saja, al quran mudah dibaca kapan dan dimana saja. Apalagi, gadget kan selalu dibawa serta kemanapun kita pergi.

Tapi saya lebih menyukai al quran asli.

Alasannya:

Kalau lewat gadget, saya bisa terganggu dengan godaan media sosial, bunyi notifikasinya bisa membuyarkan konsentrasi tilawah. Memang sih bisa di setting plane mode, tapi bisa jadi di tengah tilawah tergoda ngecek kan? Belum lagi kalau hpnya lowbat, keinginan membaca al quran bisa ikut lobet gara-gara harus ngecash dulu. Ditambah lagi alasan kesehatan, kalau baca Al quran lewat hp juga, kapan istirahatnya kita terpapar radiasi, pokoknya banyaklah alasan yang membuat saya memilih Al quran asli daripada android.

9. Kurangi keaktifan di medsos

Anehnya setelah bikin target amaliah, saya malah lebih produktif ngeblog hehehe. Tapi sebisa mungkin mengurangi mengintip facebook, twitter, dll. Tidak blogwalking dulu selain balas BW teman yang komentar di blog. Pahala membaca Al quran luar biasa banyak di bulan suci ini, tapi bersilaturahmi di medsos bisa dilakukan di bulan apa saja, ya kan?

10. Berlomba dengan partner

Coba deh kejar-kejaran khatam juz atau tadarus dengan suami, pasti seru!

Hmm apalagi ya? Sepertinya cukup 10 itu saja. Mudah-mudahan bisa bermanfaat, minimal jadi pengingat dan tidak menjadi ujian bagi saya sendiri. Karena sejatinya tulisan itu adalah ujian bagi penulisnya.

Wassalam
Nur Islah

14 Jun 2016

Membuat Topeng Spiderman Sendiri

Membuat Topeng Spiderman Sendiri. Adek Ayyan (3th) menyukai Spiderman. Rasanya sudah agak lama hal itu berlangsung, sejak idola sebelumnya si Balveer sudah mulai jarang dia sebut.

Suatu hari saya berbincang dengan Adek:

Mama : “Dek, kalau besar mau jadi apa? Polisi?”
Adek : “Adek jadi Spiderman saja, polisi kalah, Spiderman kuat”

Jadi rupanya, Adek mengidolakan Spiderman karena tokoh hebat itu bisa mengalahkan segalanya. Ajaibnya, Adek selalu menyebut nama Spiderman jauh sebelum dia menonton filmnya. Bahkan saya tidak tahu dimana dia mengenal manusia laba-laba itu pertama kali. Karena baru beberapa pekan yang lalu dia melihat aksi spiderman di layar kaca. Kebetulan Pap Nay menonton pemutaran ulang filmnya di TV. Adek yang kebetulan main di dekat bapaknya, ikut nonton. Adek terlihat serius sekali, dia mengikuti dari awal sampai akhir.

Setelahnya, tambah hebohlah dia dengan si Spidy, dia baru tahu idolanya itu bisa mengalahkan kadal jahat yang jadi lawan Spiderman di film tersebut. Sejak itu, semua keinginan Adek seputar spiderman saja, hadiah ulang tahun pun dia minta mainan spiderman.

Jadi, beberapa hari belakangan ini setiap melihat penjual mainan, saya pasti mencoba menanyakan keinginan Adek kepada penjualnya. Tapi tidak ada satupun toko yang menyediakan mainan spiderman, apalagi topengnya, tidak ada sama sekali, yang tersedia kebanyakan topeng karakter kartun yang lain. Oh ya ada satu, tapi spidermannya warna hitam, spidy gadungan yang jahat. Untungnya Adek tetap menyukai mainan dari plastik itu. Beberapa hari dia selalu membawanya kemanapun dia berada, sampai tidurpun si spidy hitam harus bersamanya.

Beberapa hari kemudian, ternyata Adek tetap menagih topeng spiderman. Pap Nay terpaksa mencari kertas foto, searching gambar kepala spiderman, mengeprintnya, mengguting, lalu membuatnya jadi topeng. Adek senang sekali. Sayangnya kertas itu cepat rusak, karet gelang yang mengikatnya selalu terlepas karena lobangnya robek.
Adek dengan topeng spiderman dari kertas
Adek mulai lagi menyebut-nyebut topeng yang baru.
Suatu sore, sepulang dari kantor. Saya disambut Adek sedang memakai topeng.  Topengnya masih setengah jadi, hanya berupa kain berbentuk kepala dengan mata. Adek tidak mau melepasnya.

Ternyata Pap Nay membuat topeng spiderman untuk Adek. Topeng masih dalam proses pembuatan, sudah diambil alih oleh Adek. Untungnya setelah dibujuk, Adek mau melepasnya.

Ini saya share ya cara membuat topengnya. Tapi maafkan kalau minim gambar, karena saya tidak melihat prosesnya dari awal. Tidak apa-apa ya, yang penting mengerti :)

Membuat bentuk kepala

Gambar pola di kain merah mengikuti pola ini.
sumber gambar : Dali Lomo
Ukurannya disesuaikan dengan ukuran kepala anaknya. Lalu Gunting kain mengikuti pola .

Pap Nay meggunakan kain dari baju kaos merah. Sebenarnya baju itu masih baru, tapi karena jarang dipakai, jadilah dia dikorbankan.

Membuat mata
Mata dibuat dari karet atau plastik. Kalau yang Pap Nay buat dari mainan tokek Adek yang sudah rusak. Usahakan modelnya sudah cembung, supaya punya ruang lapang untuk mata, agar bulu mata anak tidak tersangkut. 

Lekatkan jaring hitam dengan cara menjahitnya. Oh ya, jaring hitam yang Pap Nay pakai dari jaring tas ransel yang rusak, itu lho semacam kantong kecil di pinggiran ransel.
 Daritadi sepertinya kerjanya merusak barang-barang saja ya :D
Setelah jadi tampilan mata seperti ini.
Matanya dibuat lebar
Oh ya, biarkan matanya agak besar, supaya anaknya tidak kehabisan nafas saat memakainya, karena spiderman kan tidak punya hidung :D

Memasang resleting
Resleting diambil dari celana kantor yang sudah lusuh, dilepas dari celananya, kemudian di Jahit di bagian belakang topeng. Ini perlu juga, supaya topengnya ngepas di kepala.

Menjahit resleting pakai mesin jahit jadul pemberian mami

Topeng spiderman tampak belakang

Membuat motif laba-laba
Gambarlah jaring laba-laba menggunakan spidol permanen berwarna hitam, gambar full dari depan ke belakang.

sumber gambar : Dali Lomo



Topeng Spiderman buatan sendiri sekarang siap digunakan.
Semua menggunakan bahan bekas, jadi minim biaya. Karena berbahan kain, topengnya juga tidak cepat rusak. Sebenarnya kalau punya kain merah lebih, bisa sekalian membuat baju dan celananya, sayangnya kaos merahnya sudah habis.
Bagaimana reaksi Adek? Wuih jangan dikata, dia senang luar biasa.

Setelah topengnya jadi, dia memakainya sepanjang hari itu. Meniru-niru tingkah laku spiderman, merayap-rayap, melompat, memasang kuda-kuda siap melempar jaring.

Alhamdulillah, anak riang, bapaknya senang, dompet emaknya aman.

13 Jun 2016

Festival Lampion Parepare



Festival Lampion Parepare. Ahad, tgl 5 Juni kemarin, Festival lampion se-Sulselbar di selenggarakan di Parepare. Perhelatan ini kerjasama antara pemda Parepare, kerukunan umat Budha, dan Dinas Pemuda & Pariwisata (DOPP) kota Parepare, serta disponsori oleh salah satu perusahaan rokok di Indonesia.

Karena evennya pas di akhir minggu, saya mamah pekerja yang akhir-akhir ini kurang tamasya, menyambut baik acara ini. Jauh hari sudah mewanti-wanti Pap Nay yang jadi panitia di dinasnya agar membawa saya dan anak-anak ikut serta.

Singkat cerita, tibalah hari H.

Saat kami tiba, hujan masih rintik-rintik. Tapi lampion sudah banyak bertebaran di atas langit. Rupanya acara sudah dimulai sejak tadi.

Bergegas kami mendaftar di Stand DOPP, panitia membagikan lampion untuk masing-masing pengunjung. Kabarnya lampion yang disediakan untuk event ini lumayan banyak, sekitar 1000an lampion, dan DOPP sendiri diberi jatah 150 lembar. Selain lampion, Stand DOPP juga menyediakan kue kotak untuk pengunjung yang bersedia mengisi buku tamu di sana.



Pengunjung Stand DOPP

Saya baru tahu proses menerbangkan lampion di acara ini. Di dalam balon lampion yang terbuat dari kertas khusus itu, terikat sesuatu serupa karet berbentuk persegi, nantinya benda inilah yang menjadi bahan bakar lampion, panasnya api akan membuat kertas lampion menggelembung sempurna. Seiring waktu, lampion semakin lama semakin panas dan berat. Saat demikianlah lampion siap untuk terbang.

Kertas lampion sangat tipis, sehingga sangat rawan terbakar. Makanya pelepasan lampion diadakan di pinggir laut, jadi tidak ada pohon atau rumah yang akan menghalangi lampion terbang. Walaupun demikian, untuk jaga-jaga, panitia juga sudah menyiapkan mobil pemadam kebakaran beserta krunya di lokasi.

Mobil pemadam kebakaran siap siaga


Festival Lampion ini diadakan di Pantai Mattirotasi, berpusat di halaman gedung UKM kota Parepare. Sebenarnya pelepasan lampion masih serangkaian dengan prosesi acara keagamaan dan ritual perayaan Waisak yang diadakan di dalam gedung. Tapi oleh panitia boleh disaksikan oleh masyarakat asalkan tidak mengganggu jalannya ritual tersebut.


Ritual pelepasan Lampion oleh pemuka agama Budha

Dalam kepercayaan umat Budha, menerbangkan lampion memiliki makna tersendiri. Ritual ini merupakan penghormatan kepada Budha yang telah memberikan jalan terang kepada manusia. Oleh mereka, pelepasan lampion juga diawali dengan memanjatkan harapan dan cita-cita, agar bisa tercapai tahun ini dengan lancar. 


Pengunjung yang memang dibagikan lampion juga mencoba menerbangkannya, tak terkecuali kami. Adek Ayyan yang sejak awal tertarik dengan benda aneh yang mirip bola besar itu juga ikut memperhatikan. Dia serius melihat prosesnya sejak awal, mulai saat  api dinyalakan sampai lampionnya terbang. Kakaknya juga tidak mau ketinggalan,  Naylah bahkan memaksa ingin memegang juga lampion yang siap terbang tersebut.
Adek memperhatikan api lampion dinyalakan
Pap Nay menerbangkan lampion
beberapa pengunjung mencoba menerbangkan lampion

Di pelataran gedung, ada suatu pemandangan yang menarik. Di situ berdiri sebuah patung Budha raksasa yang kepalanya hampir menyentuh atap. Awalnya ada larangan untuk mendekati areal itu, tapi segera setelah acara ritual perayaan waisak selesai, berubah menjadi spot foto-toto pengunjung, tak terkecuali rombongan kami :)



Saya kurang tahu hubungannya apa, tapi di pesta Lampion ini beberapa orang membawa peliharaannya, ada ular piton, iguana dan kucing Persia. Saya yang pernah pobia dengan ular, tidak berani terlalu mendekat. Berkebalikan dengan Kakak Naylah dan Adik Ayyan, mereka berani memegang ular!

Anak sholehnya mama memang berani!


Princess Naylah yang solihat juga tidak kalah beraninya
Walaupun di awal acara, hujan sempat turun, tapi ternyata tidak mengurangi antusias masyarakat untuk ikut menyaksikan pesta lampion ini. Sampai-sampai Naylah dan Adek Ayyan bertemu teman-teman ciliknya di sini.

Dari kiri ke kanan: Nuno, Key, Rizky, Adek Ayyan & kakak Naylah

Ada kebiasaan masyarakat sebelum ramadhan tiba, sehari-dua hari menjelang puasa, mereka akan menyambangi tempat wisata untuk rekreasi. Festival lampion ini menjadi alternatif wisata. Hari itu pemandangan langit beda dari  biasanya, kerlip lampion menghias kegelapan,  menjauh, membawa harapan orang yang mempercayainya, terbang menuju tempat tertinggi yang bisa dicapainya.

*****
Many thanks untuk Mas Hadi @the_bettencourt dan Mas Aji @sabbathaji untuk pinjaman foto-fotonya





7 Jun 2016

Mengantuk

Mengantuk
 
Utta ngikik.
 
Astagafirullah, rupanya dia melihat saya tertidur sambil menelpon.
 
Bang Jun menelpon dari DPC, kita akan cross check inputan movement kayak biasa. Karena aplikasi yang saya buka kadang lambat, ada jeda menunggu sekian detik, saat itulah saya tertidur.
 
Hari pertama puasa ini memang berat buat mata saya.
 
Selepas magrib saya temani Nay baca iqro. Sedangkan Pap Nay ke Masjid, dia ajak juga sih tapi saya ogah ikut karena masih ragu besok sudah hari pertama puasa, lagipula anak-anak sedang makan malam, saya lagi repot menyuap mereka. Saya baru yakin setelah mendengar sholat taraweh sudah dimulai di Masjid.
 
Pukul 21.00
 
Saya mulai persiapkan sahur. Terlalu cepat ya hehehe. Pertimbangannya sih nanti pas subuh tinggal dipanaskan saja, jadi tidak terlalu repot lagi. Masaknya juga menu simple saja; nasi, sayur bayam jagung, dan Ikan Bandeng bakar. Semua done sejam kemudian.
 
Pukul 22.00
 
Tiba-tiba air PDAM yang mogok beberapa hari ini mengalir. Saya lega, akhirnya pakaian kotor yang menumpuk 2 keranjang penuh hasil pakai seminggu bisa dicuci. Dibantu Mia, pakaian mulai dipilah-pilah, dan mulai dimasukkan ke dalam mesin cuci. Tak disangka, pemutar mesin cuci memercikkan api, mungkin ada yang korslet. Terpaksa, cucian serupa bukit barisan yang tergelar di lantai itu saya putuskan direndam sabun. Saya tunggu beberapa menit, lalu saya KUCEK. Pukul 10 malam, mata ngantuk, badan lelah, dan saya mencuci saudara-saudara!

Pukul 24.00
 
Sudah tengah malam, tapi cucian saya belum juga selesai, sementara badan sudah tidak sanggup. Kalau kelamaan bisa-bisa saya kena encok. Anak-anak juga sudah lewat waktu tidurnya, jadi sekarang masih ada 2 baskom penuh cucian terendam di kamar mandi.
 
Pukul 01.00
 
Tiba-tiba pintu ada yang ketok. Ternyata Ucci, adek saya yang biasanya nginap di konter pulsanya pulang ke rumah. Mata yang rasanya baru saja tertutup terang kembali. Setelahnya saya tidak bisa nyenyak.
 
Pukul 03.00
 
Alarm Hp Mia berdering. Dia tidak menggubrisnya. Membiarkannya berbunyi, suaranya nyaring, padahal dia tidur di kamar sebelah. Saya juga malas bangkit, bangun sekarang rasanya terlalu cepat. Toh semua makanan sudah siap. Saya mencoba tidur lagi.
 
Pukul 03.30
 
Giliran hp saya yang berteriak, disusul punya Pap Nay. Tiga alarm bunyi sahut menyahut sekarang. Saya bangun sholat.
 
Pukul 04.00
 
Acara makan sahur selesai. Naylah yang baru belajar puasa pertama kali, ikut makan juga. Membujuk dia yang masih mengantuk untuk makan sangat sulit. Untungnya setelah disuap, nasinya habis juga.
 
Pukul 04.30
 
Adek Ayyan bangun, minta dibuatkan susu, merajuk minta dikeloni sampai tidur lagi. Karena khawatir subuhnya lewat, saya memutuskan tidur sambil duduk.
 
Pukul 05.00
 
Sholat subuh.
 
Pukul 09.00
 
Inilah saya sekarang, menelpon dengan mata terpejam. Ngantuknya seng ada lawang.
 
Selamat berpuasa teman-teman.