27 Mei 2016

Happy Graduation Naylah!


Lulus-TK

Putri saya sudah lulus TK. Aduhai cepat sekali waktu berlalu, bayi mungil lucu, manis, imut itu sudah pakai toga. Wajah kanak-kanaknya tertutup bedak dan gincu, memakai jubah hitam, tiba-tiba saya merasa terlempar belasan tahun ke depan, Naylah sudah dewasa, saya menghadiri wisudanya sebagai sarjana lulusan universitas. Aduh nak, jadi apa kamu kelak, membayangkannya saja jantung saya sudah dag dig dug, apakah dokter? Pengajar? Atau wirausaha? Dada berdebar-debar membayangkannya, seakan itu sudah akan terjadi besok.

Baiklah saya bangun sekarang.

Naylah sekolah di taman kanak-kanak terdekat dari rumah, terletak sekitar 200 meter dari tempat tinggal kami. Biasanya kakak diantar jemput bapaknya pakai motor, kadang-kadang diantar saya dengan jalan kaki. Tapi itu sangat jarang terjadi, hanya kalau Pap Nay lagi keluar kota atau sedang ada urusan pagi-pagi, barulah saya yang mengantar.

Tak terasa setelah 3 tahun sekolah (iya kakak Nay sekolah selama 3 tahun  di TK), anak mama yang tidak mau bawa bekal nasi itu akhirnya diwisuda. Acara wisuda yang melibatkan ortu sih tidak ada, anak-anak hanya disuruh datang ke sekolah memakai baju muslim atau kebaya (bisa milih), terus ada acara foto di sekolah memakai toga. Orang tua tidak perlu hadir, karena cuma acara foto-foto saja, nanti saat acara pelepasannya, kami diundang melihat anak-anak mempersembahkan hiburan setelah berlatih berminggu-minggu. Memang sejak sebulan apa dua bulan yang lalu, kakak Nay cerita kalau dia di sekolah latihan menari, namanya tari kipas. Setiap hari Nay melaporkan progress-nya.

 “ Ma, tadi saya sudah bisa pegang kipas”
“Ma, tadi saya sudah hapal tariannya”

Karena selalu di-update, saya penasaran benar dengan penampilan Naylah di panggung.

Singkat cerita tibalah hari H. Saya mengajukan cuti setengah hari di kantor, supaya di ingatan Nay terukir kalimat “mamaku mama yang baik, selalu ada di hari spesialku” hehehehe

Membicarakan tentang hari spesial, anak saya termasuk beruntung, bapaknya juga selalu ada, malah melebihi keterlibatan mamanya. Mulai dari mendaftar sekolah, antar jemput anak, sampai acara perpisahan sekolah begini, Pap Nay selalu menghadiri. Lup u  papa *bighug

Cerita lanjut ya…

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang diadakan di hotel, kali ini panggung pertunjukan dan tenda tamu didirikan di halaman sekolah. Kebetulan sekolah Naylah memang berhalaman lumayan luas, sangat luas malah. Disitulah berdiri panggung sederhana berlatar merah bertuliskan Penamatan/pelepasan TK Putri Ramadhani kota Parepare tahun ajaran 2015/2016.

Saya semangat sekali, ini pertunjukan pertama Naylah. Anak sulung saya ini agak kurang percaya diri. Saya penasaran bagaimana mental dia saat di panggung, apa dia bisa? Apa dia gugup?

Kami datang lebih awal. Beberapa anak sudah hadir bersama orang tua mereka. Sayangnya acara tidak dimulai tepat waktu, karena menunggu tamu undangan dari Dinas Pendidikan. Karena saya masih berada di wilayah Indonesia, ngaret-ngaret begini harus dimaklumi :) Sebenarnya agak gerah juga karena tidak bisa duduk santai menunggu, mata harus selalu awas memperhatikan Adek Ayyan yang berkeliaran.

Menjelang pukul 10 pagi, gerah dan gelisah menanti lenyap seketika takkala anak-anak mulai tampil di panggung. Mungkin hampir semua anak yang tercatat menjadi murid TK putri Ramadhani mendapat giliran tampil. Mereka satu persatu menghapal doa harian, menyebut angka dalam 3 bahasa, menari, dan membawakan sajak. Yang terakhir ini agak spesial, sajaknya berjudul “nenekku sayang”, dibawakan oleh seorang anak yang setiap hari diantar oleh neneknya ke sekolah, bukan sekedar diantar, sang nenek juga menungguinya setiap hari. Waktu anak itu berpuisi, berulangkali saya nengok ke belakang, melihat wajah sumringah sang nenek.

Saya juga menyukai bagian penyampaian sepatah kata dari kakak kelas yang akan meninggalkan sekolah, dilanjutkan sepatah kata dari adik-adik kelas yang ditinggalkan, walaupun sadar mereka itu cuma menghapal apa yang dikarang ibu gurunya, tapi hati terharu mendengar mereka berkata “selamat tinggal, kami pergi demi masa depan” aaahhhh

Saya tidak cerita tentang pidato sambutan-sambutannya ya, lagipula sepertinya semua hadirin memang datang hanya untuk melihat anak mereka tampil, tak terkecuali yang menulis hehehe

Ternyata penampilan anak-anak yang saya ceritakan di atas adalah penampilan pertama. Setelah  turun panggung, masing-masing langsung ganti baju untuk siap tampil yang kedua kalinya. Yang tadinya pakai baju muslim/muslimah sekarang memakai pakaian menari, Naylah sendiri memakai dress pink tua, berbando senada, dan memakai stocking.

Satu persatu grup mulai menampilkan tariannya, sayang saya tidak memperhatikan waktu MCnya menyebut judul tariannya, ada tarian ala-ala Timur Tengah, tari kipas (karena memakai kipas), tarian dari Aceh, dan tari-tarian kreasi untuk anak PAUD. Saya rangkum semua tariannya jadi satu di video ini (inipun uploadnya sukses setelah 2 hari mencoba) *Entah Ada Apa Dengan Jaringan Internet 2 (AADJ 2)


Tarian yang paling mengundang tawa penonton adalah tari sehat (maaf kalo namanya salah), namanya tari sehat karena lirik lagu yang mengiringinya tentang hidup sehat, mengajak anak-anak makan sayur, ikan dsb. Dibawakan oleh murid-murid dari kelas PAUD, yang memimpin di depan namanya Shifa, gerakannya mantap, dengan ekspresi serius. Anak-anak yang masih balita kalau sudah bertingkah begitu, jadi lucu sekali. Riuh benar penonton waktu mereka tampil.

Tentu saja, tidak semua pertunjukan berjalan sukses, beberapa kejadian ricuh terjadi, misalnya ada anak yang menangis menolak tampil saat gilirannya tiba, ada anak yang tadinya hanya menonton tiba-tiba nimbrung ikut menari. Penonton maklum namanya anak-anak, selalu saja ada hal-hal yang tak terduga mereka lakukan. Bagi saya, mereka salah atau benar, tingkah laku mereka di panggung tetap menghibur.

Saya terharu, Naylah bisa tampil percaya diri membawakan doa keselamatan dunia dan akhirat. Demikian juga waktu dia menari, dia tidak gugup sama sekali, kompak dengan teman-temannya. Tentu saja ini berkat ibu guru yang tak jemu melatih. Saya sangat menghargai usaha dari ibu-ibu guru, saya tidak tahu bagaimana cara para pendidik itu melatih anak-anak menari. Kagum saya, kok anak saya yang hobi memanjat dan lompat, yang tidak ada lentur-lenturnya sama sekali bisa kompak begitu ya menari dengan teman-temannya. Pasti butuh kesabaran luar biasa mengarahkan mereka, Ini bukan tentang sabar menghadapi 2-3 anak saja, tapi banyak anak dengan beragam karakter. 4 Jempol buat bu guru!
tari-anak-tk

Saya menghaturkan banyak terima kasih kepada ibu-ibu guru TK Putri Ramadhani, atas kebaikan mereka mendidik anak saya, yang memaklumi kalau Naylah kadang tidak pergi sekolah, selalu tersenyum menyambut kami walaupun sering datang terlambat. Bahkan, bersedia susah payah mengantar sampai ke rumah waktu Naylah lupa dijemput. Saya berterima kasih pada mereka, Naylah jadi hapal banyak doa harian, Naylah kadang menjadi guru di rumah mempraktekkan apa yang diajarkan gurunya “kalau makan harus duduk yang rapi”, “sebelum makan harus baca doa makan” dan banyak lagi.

Sepertinya cerita saya sudah lumayan panjang, akhirnya saya cuma mau bilang "Happy graduation nak!"

20 Mei 2016

Berlibur di Desa (Part 2)

Berlibur-di-desa
 
Artikel ini sambungan tulisan sebelumnya “Berlibur di Desa (Part 1), sengaja saya tulis agak panjang sampai 2 postingan, untuk mengenang kebaikan Tante Bia yang telah menerima kami nginap semalam di rumahnya.
 
Nikmatnya masakan Tante Bia
 
Kami disambut Tante Bia dengan teh hangat dan berbagai macam kue, ada biskuit, kerupuk jintan, satu lagi lupa, dan barongko. Anak-anak menyukai barongko dan kerupuknya. Liat aksi Naylah makan barongko, sampai lupa duduk rapi.


Setelah sholat magrib perut mulai tidak stabil, kampung tengah saya kadang berdendang kadang pula mengira hari sudah pagi, kukkuruyuk menirukan suara ayam. Untungnya, tak lama kemudian terhidang nasi hangat dengan lauk ikan goreng di baki, mengepul mengundang selera. Ikan goreng dilengkapi dengan sambel pedes jeruk purut, disiram indomie (andalan kalau sayur habis), aduhai nikmatnya. Entah kenapa, ikan itu ya, waktu digoreng saja aromanya sudah menyebar kemana-mana, mungkin bawaan perasaan lapar atau memang menggorengnya spesial, minyak yang dipakai dari kelapa asli buatan sendiri, harum menggoda. Tadi, waktu Tante Bia masak, bolak-balik saya masuk dapur bertanya heran kenapa ikan goreng yang jenis ikannya sama dengan yang sering saya beli aromanya bisa beda begitu. Yang ditanya senyum-senyum, mungkin membatin “iya tau kamu sudah lapar” hahaha.
 
Benar saja, begitu terhidang langsung digempur, yang tersisa hanyalah tulang belulang saja :D
 
Dini hari tante Bia ke pasar. Pasar disini hanya buka sekali dalam 5 hari. Baru juga anak-anak bangun, Tante Bia sudah datang bawa belanjaan yang bikin iri saya lahir batin. Bayangkan bu ibu… sebaskom kepiting dibeli cuma seharga 10rb rupiah. Tante Bia bilang karena dia sama penjualnya bersahabat, makanya dikasih harga segitu, biasanya dijual ke orang lain 20 rb. Segitupun tetap murah ya.
 
Tetaplah ya, dimana-mana kalau perempuan ketemu selalu ada obrolan soal harga :D
 
Sekarang waktunya sarapan. Kali ini, selain ikan bakar, di baki Tante Bia ada masakan kepiting. Jadi ngiler lagi waktu tulis ini. Hari masih pagi, tapi hidangan sudah seperti menu makan siang. Kami duduk bersila bersama, mengelilingi hidangan yang menurut saya istimewa, karena tahu semua ikan dan kepitingnya sangat segar, fresh from the sea.

ikan-bakar

Ada kebiasaan Tante Bia yang bikin saya lumayan tersiksa, setiap melihat nasi di piring mulai berkurang, dia tambah lagi tanpa kalimat pembuka, tiba-tiba nasi saya sudah menggunung lagi. Mungkin memang begitulah salah satu adab keramahan di desa. Kalau dihitung-hitung mungkin saya sudah menelan 2-3 piring nasi, astagafirullah. Saking banyaknya, saya sampai kurang selera diajak singgah makan siang lagi, nasi tadi awet mengganjal perut.

sarapan-seafood
 
 
Berpamitan
 
Kami pulang sebelum siang. Perjalanan masih panjang, lagipula mungkin, walaupun tidak bilang, mereka bermaksud ke sawah, masih ada padi yang belum dipanen. Tante Bia membekali kami macam-macam; ada kelapa, pisang, dan kue. Bahkan mau dibungkuskan beras juga, tapi kami tolak.
 
Kunjungan ke rumah Tante Bia sungguh berkesan. Semoga ada kesempatan di lain waktu, kami akan bersilaturahmi ke sana. Tapi tidak pakai acara kesasar lagi, supaya bisa lebih menikmati perjalanan.
 
Begitulah salah satu cerita long weekend kami beberapa hari yang lalu, bagaimana cerita liburan kamu?

13 Mei 2016

Berlibur di Desa (part 1)

berlibur-di-desa

Mencari Rumah Tante Bia

Saya, anak-anak dan Mia mulai gelisah. Sudah hampir sejam kami tersesat, GPS tidak membantu sama sekali, malah membuat kami berputar-putar dan salah arah.

 “mungkin tidak update” kata Pap Nay.

Jadi kami memutuskan kembali pada cara lama dan konvensional yaitu BERTANYA. Setiap ada persimpangan Pap Nay singgah bertanya. Lebih baik begitu daripada kesasar.

Semakin jauh, jalanan yang dilewati semakin mengecil, kiri kanan terhampar sawah diselingi rumah penduduk. Suasana pedesaan kental terasa. Mobil yang lalu lalang tidak seramai tadi, seandainya kami tidak sedang tersesat, mungkin keindahan alam bisa lebih dinikmati. Setelah yakin sudah di jalur yang benar, Pap Nay menelpon Tante Bia, Tante Bia adalah saudara sepupu mama mertua saya. Saya belum pernah ketemu dengannya. Berhubung hari prei kerja lumayan lama, kami punya banyak waktu. Jadi setelah puas bersilaturahmi dengan keluarga di Soppeng, kami memutuskan menyambangi Tante Bia di Bone.

Bola seppo magawu” kata Tante Bia takkala ditanya ciri-ciri rumahnya, dia menambahkan keheranannya kenapa Pap Nay bisa lupa, padahal sudah 2 kali kesana. Benar suami saya masih mengenali tempat itu, hanya saja karena kunjungan terakhir 10 tahun yang lalu, dia jadi lupa tepatnya dimana.

Pukul 5 sore, si simbilikiti, mobil mungil setia andalan akhirnya bisa istirahat.

Rumah Tante Bia benar berwarna biru seperti dia bilang tadi ditelepon, terletak di bagian belakang. Bukan di pinggir jalan. Saat melihat wujud rumah pertama kali, saya tidak terkesan benar. Bola Seppo yang Tante Bia maksud adalah rumah tanpa tiang atau rumah batu. Tapi punya Tante Bia semi rumah batu, setengah terbuat dari tembok, bagian tengah ke atas berdinding kayu. Tidak reot tapi tidak begitu bagus, beberapa papan dipalang sekenanya, hampir keseluruhan teras menjadi tempat gabah. Melihat tampilan luarnya saja, saya sudah membayangkan interior rumah seamburadul eksteriornya. Tambahan pula, untuk menuju rumah, kami harus melewati jalanan becek di samping rumah tetangga. Seandainya becek saja tidak mengapa, tapi sapi, anjing, dan segala hewan peliharaan penduduk sekitar berkeliaran di situ. Bisa dipastikan kotoran mereka bercampur aduk, menjadikan jalan itu mirip kubangan, kami harus berjalan hati-hati mencari pijakan yang aman, kalau tidak bisa-bisa sandal juga ikut berkubang.

Karena tuan rumah sedang berada di sawah. Saya dan anak-anak memutuskan menunggu mereka di pinggir jalan, kebetulan ada tempat duduk, disini lebih kering, lebih nyaman. Tak berapa lama kemudian, Tante Bia datang, disusul suaminya yang baru menurunkan dua karung gabah dari kuda. Kami disambut hangat sekali.

Interior rumah sederhana. Tapi saya bengong, alangkah bersih dan rapinya rumah ini. Tidak ada debu sama sekali, semua teratur di tempatnya. Di dapur sederhana mereka, ada kulkas, kompor gas, ada juga kompor tradisional. Kompor yang terakhir ini adalah kompor yang bahan bakar utamanya dari kayu atau arang. Saya sering melihat kompor jenis ini semasa kecil, bahkan pernah melihat proses pembuatannya. Seingat saya memasak menggunakan alat ini menyisakan sampah abu yang lumayan banyak, mungkin karena Tante Bia memakai arang, saya tidak melihat bekas abu sama sekali di dapur.

Di sebelah dapur ada kamar mandi sederhana; toilet, baskom, dan bak mandi disitu terlihat bersih, lantai kamar mandinya walaupun tidak berkeramik, juga tidak licin sama sekali.

Ruang tengah dijadikan ruang keluarga. Seperti ruang keluarga pada umumnya, ruangan ini dilengkapi tv mungil dengan fasilitas siaran memakai parabola. Dialasi 3 karpet plastik berbeda dengan motif tabrakan. Kami betah ngumpul di depan TV di ruangan ini, karena itu tadi…bersih.

“Semua ini dibeli Harun” kata suami Tante Bia sambil menunjuk TV.

Harun adalah anak semata wayang mereka yang berprofesi sebagai tentara di daerah lain, profesi yang banyak dibanggakan orang tua di desa.

Di dalam kamar tidur ada dua ranjang kayu, dengan kelambu tergantung rapi siap pasang, dialasi kasur kapuk, ditutup seprai licin nan rapi. Tidak ada bau aneh akibat leler di bantal, saya yakin ini baru saja dicuci atau entahlah apa memang selalu bersih begitu, tidak beraroma pengharum m*olto, tapi tak berbau. Sarung-sarung yang kami pakai tidur juga demikian, semua bersih.

Tertampar

Mau tidak mau, saya merasa ada tepukan lembut di pipi. Apa kabar rumahku? Rumah hunian yang dibersihkan berjam-jam, menjadi kapal pecah dalam sekejap. Ditambah penghuninya (baca saya) yang mendewakan kata “nanti” untuk membereskannya. Saya selalu berlindung pada tameng “saya ibu pekerja”, capek dari kantor. Padahal sebenarnya seringkali tidak capai benar, di kantor saya masih bisa duduk santai dan bercanda dengan teman, masih bisa ngopi sambil ngemil biskuit *pantas ndut

Saya takjub, Tante Bia sudah berumur, dia dipanggil nenek oleh anak-anak saya. Beliau mengsyukuri rumah mungil yang mampu suaminya beli. Rumah kecil tak menghalangi mereka bahagia dan merasa tenteram di dalamnya. Saya teringat kalimat seorang bijak “ ketika rumahmu kecil syukurilah dengan merawatnya, percantik semampumu, sebelum dimampukan untuk menempati rumah besar”
rumah-lapang

Tante Bia IRT sejati? Bukan.

Waktu kami datang, Tante Bia baru pulang dari sawah. Dia menenteng banyak sekali bawaan; ada rantang, baju-baju kotor, dan beberapa lagi barang yang saya tidak perhatikan benar. Dia baru saja membantu suaminya massangki (memotong padi). Hebatnya, subuh-subuh dia sudah bangun, menyiapkan bekal makan siang dan meninggalkan rumah pada pukul 9 pagi dalam keadaan rapih jali. Sepulang dari “kantor” dia memasak, menyiapkan makan malam. Belum lagi saat kami tiba, disuguhi bermacam-macam kue, salah satunya kue barongko. Heran, kok sempat ya. Bagi saya, multitasking yang Tante Bia lakukan sungguh luar biasa, saya belum tentu bisa.

Berapa banyak dari kita, khususnya saya menjadi begitu jumawa karena ikut mencari nafkah. Mengerjakan pekerjaan rumah semaunya saja, sebisanya saja. Saya belajar banyak pada Tante Bia hari ini. Dia tidak mengetahui banyak hal, dia tidak membaca buku-buku motivasi. Beliau hanya bekerja dan mengabdi, melakukan yang bisa dia lakukan dengan ikhlas. Tante Bia sukses membuat saya merenung, memaksa saya berkaca..hei diriku! belajarlah ilmu ikhlas seperti orang-orang sederhana itu lakukan, orang yang menikmati kegiatan melayani, karena tahu semua dibalas Allah.

28 Apr 2016

Review Buku: Andy Noya (Kisah Hidupku)

Review Buku-Andy-Noya(Kisah Hidupku)

Saya baru saja menyelesaikan buku biografi Andi Noya “Kisah hidupku”. Tidak memerlukan waktu lama membacanya, saya memang sudah lama penasaran dengan sosok botak yang dulunya kribo ini.
 
Hasilnya?
Saya kepo ingin melihat garis tangannya! Kata orang semakin banyak garis melintang di tangan, biasanya pengalaman hidupnya lebih banyak, lebih kompleks..kalau ini benar, Andy F Noya mungkin memiliki garis tangan yang banyak. (ini ngaco ya :p)
 
Andi Noya berdarah campuran. Kakek buyutnya seorang Belanda yang memperistrikan wanita Jawa, dari pasangan ini lahirlah nenek Andy yang kemudian menikah dengan seorang keturunan Ambon. Suami istri ini dikarunia 5 anak, salah satunya Ibu Andy yang diberi nama Mady. Mady menikah dengan Ade Wilhelmus Flores Noya. Dialah yang kelak menjadi ayah Andy, dia juga memiliki darah campuran, yaitu Perancis-Portugis-Ternate. Pusing ya? Saya juga bingung waktu menulis ini :D
 
Jadi wajar melihat tampilan fisik Andy F Noya agak lain dari orang Indonesia kebanyakan; berambut kribo, berkulit putih, hidung mancung, perawakan tinggi, ternyata dia memang berasal dari gabungan bule-bule.

Review Buku-Andy-Noya(Kisah Hidupku)
Andy mengalami masa kanak-kanak yang berat karena wajahnya yang berbeda. Waktu itu Indonesia memang sudah lama merdeka, tapi gema kemerdekaan masih kental terasa. Dia yang keturunan Belanda menjadi korban bully anak-anak sekampung, “Ganyang Londo, ganyang Londo” atau “ganyang Belanda, ganyang Belanda” begitu teriakan sehari-hari anak kampung untuknya, kebayang kan? Kita saja sewaktu kecil cuma diledek hal-hal yang sepele sudah sedih. Ketika dia mengadu kepada ibunya, si ibu selalu menghibur dan mengatakan anak-anak itu hanya iri karena ketampanannya.  “Kalau kamu besar nanti, kamu akan mensyukurinya” kata ibunya.
 
Aku kerap menyesali mengapa Tuhan memilih rahim perempuan keturunan Belanda sebagai pintu keluarku ke dunia fana ini” kata Andy di bukunya.
 
Masa kecil yang berat ditulis hampir separuh dalam buku ini. Ibu Andy sebenarnya berasal dari keluarga yang berada, kakek Andy seorang kepala penjara di Watampone, Sulawesi Selatan. Sedangkan neneknya membuka toko buku di Makassar. Tapi pada tahun 1965, situasi genting akibat peristiwa pemberontakan PKI juga berimbas ke daerah, termasuk di Watampone. Masyarakat di sana marah, mereka meminta agar tahanan yang diduga simpatisan PKI dikeluarkan dari penjara untuk dihakimi melalui “peradilan rakyat”. Kakek Andy meninggal karena mempertahankan penjara waktu itu. Kematian kakek Andy menyebabkan neneknya memutuskan kembali ke Belanda dan menjadi warga negara di sana.
 
Kehidupan berat mulai terasa saat bapak ibu Andy berpisah. Sejak saat itu Ibu bersama 3 anaknya (Gaby, Yoke dan Andy) mulai pindah-pindah kamar kos dari satu tempat ke satu tempat yang lain.
 
Andy anak yang cerdas sebenarnya, khususnya Bahasa dan Seni. Dia sudah terlihat menonjol di bidang itu. Tapi saat dia sekolah, dia sering bolos. Dia juga sempat terjerumus kenakalan akibat salah pergaulan. Ada sebabnya juga, semasa kecil dia sangat membenci orang kaya. Suatu hari Andy naik sepeda, dia kemudian tidak sengaja menambrak mobil dan merusak kaca spion mobil itu. Andy akhirnya berlari ke kamar kos yang ditempati bersama ibunya. Tak disangka si pemilik mobil berhasil mendapatkan kamar kos mereka. Dia kemudian memaksa harus mengganti spion yang rusak itu.
 
Sejak saat itu lahirlah kebencianku pada orang-orang kaya. Aku merasa orang kaya jahat. Mereka tega membuat ibu terpaksa bekerja lebih keras agar bisa melunasi angsuran kaca spion. Dengan penghasilan ibu sebagi penjahit, rasanya lama sekali baru tagihan ganti rugi kaca spion itu berakhir. Kalau ingat peristiwa itu, sampai sekarang aku tidak habis pikir bagaimana orang kaya pemilik mobil itu-setelah melihat kami tinggal di garasi-tetap tega meminta ibuku mengganti kaca spion mobilnya
 
Andy bergabung Geng Tiga Bersaudara yang terkenal suka mencuri. Bersama geng itu Andy sering mencuri di rumah orang kaya, ada-ada saja yang mereka curi, mangga, sepeda mini, atau apa saja yang terlihat di halaman rumah-rumah besar dan bagus. Karena nakalnya itu, Andy sempat diramalkan menjadi penjahat oleh saudari-saudarinya. Untunglah pergaulan dengan geng itu tidak berlangsung lama, dia mau kembali ke rumah setelah mendapat iming-iming sepeda mini dari ibunya.
 
Andy tumbuh dewasa di Jayapura. Ayahnya yang sudah lama menetap di Jayapura memanggil Andy sekolah di sana. Ayahnya seorang tukang reparasi mesin tik.yang tinggal di sebuah gudang kecil milik salah seorang teman. Menurut pengakuan Andy, setelah lama berpisah, dia melihat ayahnya semakin tua dan kurus, juga sering sakit-sakitan. Yang tidak berubah dari lelaki itu adalah keriangan dan keceriaan yang selalu dia tunjukkan dalam kondisi apapun. Hampir setahun kemudian ibu Andy menyusul menetap bersama mereka, sayangnya Ayah Andy meninggal tidak lama setelah mereka berkumpul kembali.
 
Bagian ketika Andy sudah dewasa saya sukai. Sebagai lulusan terbaik semua jurusan di STM 6, Andy Noya mendapat tawaran beasiswa dengan ikatan dinas ke IKIP Padang, Sumatera Barat, dengan syarat setelah lulus nanti dia harus menjadi guru di STM selama dua tahun. Tapi Andy menolak tawaran itu, padahal waktu itu dia tidak punya uang sama sekali untuk melanjutkan kuliah. Mungkin jika orang lain berada di posisi dia, kesempatan itu akan langsung diambilnya. Tapi Andy lebih menuruti passionnya, dia memilih Sekolah Tinggi Publisistik (STP) yang menolaknya berkali-kali, pasalnya STP tidak menerima alumni STM. Andy bersama ibunya berulangkali mengemis di sekolah tersebut, akhirnya dikabulkan dengan syarat nilainya harus bagus di semester pertama. Untungnya setelah satu semester nilai Andy lumayan tinggi, bahkan dia “diijon” oleh seorang dosen mata kuliah jurnalistik untuk menjadi asistennya.
 
Cerita berlanjut tentang bagaimana Andy bertahan dengan uang saku pemberian kakaknya yang sangat sedikit. Mulai dari membuat kartu ucapan, mengirim tulisan dilakoninya untuk menambah uang untuk memenuhi biaya hidup. Cerita-cerita tentang trik-trik dia menumpang mobil dan makan gratis terasa menyedihkan tapi juga menggelikan.
 
Sisa buku, lebih banyak menceritakan perjalanan karir Andy yang terbilang sukses. Dia baru saja lulus diploma ketika dipilih menjadi salah satu reporter sebuah proyek buku. Itulah awal karir dia di bidang jurnalistik. Berturut-turut sampai menjelang akhir, pembaca akan disuguhi cerita-cerita karir Andy yang cepat menanjak. Cerita dia dipinang Surya Paloh dan tidak dilepaskan sampai sekarang mendominasi bagian ini.

Bagian akhir sempat membuat saya meneteskan air mata, bagian di mana Andy menceritakan bagaimana dia menangis tersedu-sedu ketika menemukan gurunya yang telah lama dia cari, yaitu Ibu Ana. Guru yang memberi tahu dia “Andy kamu anak berbakat, kamu akan jadi wartawan sukses kelak
 
Buku ini tebalnya 400an halaman,. Keunggulannya terletak dari banyaknya cerita yang terangkum dalam satu buku; mulai dari asal muasal keturunannya, masa kecil yang awalnya indah, kemudian kesulitan-kesulitan ibunya yang berpisah dengan ayahnya, masa bersekolah, dan masa-masa karirnya yang gemilang. Andy seorang yang disiplin dalam bekerja, disiplin menetapkan aturan, sampai-sampai harus menguatkan hati memecat sahabat terdekat demi menegakkan sistem yang berusaha dia bangun. Di buku ini kamu akan menemukan prinsip-prinsip hidup Andy, pembaca akan mengerti mengapa dia menjadi anak emas Surya Paloh dan akan paham apa yang membuatnya sukses sampai sekarang.

Rate 4 bintang untuk buku ini.

25 Apr 2016

Review Buku: The Noticer (Sang Pencipta Keajaiban)

Review Buku-The-Noticer (Sang Pencipta Keajaiban)

Laki-laki itu bernama Jones. Paling tidak, begitulah aku memanggilnya. Bukan Mr Jones…, hanya Jones. Ia memanggilku “anak muda” atau “Nak”. Dan aku juga jarang mendengarnya memanggil orang lain dengan nama. Selalu Anak Muda atau Nak.

The Noticer (Sang Pencipta Keajaiban). Tokoh utama buku ini adalah Jones, orang tua yang selalu menenteng koper usang berwarna cokelat, koper ini yang jadi ikon pada sampul buku The Noticer. Jones terlihat selalu memakai pakaian yang sama, kaos oblong, jeans dan sandal jepit yang sama.

Cerita diawali dengan perjumpaan pertama Andy Andrews si penulis dengan Jones. Andy hidup sebatang kara, ayah dan ibunya sudah meninggal, sebagai pemuda umur 23 tahun yang kesepian dan tak mempunyai rumah, Andy merasa hidupnya sangat malang. Saat Andy menangis di sebuah lubang galian besar yang dianggapnya rumah, sebuah tempat di pinggir pantai tempat dia menaruh beberapa bajunya, Jones datang menyurunya naik “ ke sinilah Nak..Beranjaklah ke tempat yang terang”.

Jones mengajarkan Andy untuk mengubah perspektif. Dia juga memaksa Andy membaca 3 buku biografi, dan mengganti lagi dengan 3 biografi baru beberapa hari kemudian. Andy ternyata menyukai buku-buku tersebut, kemudian oleh Jones, Andy disuruh mengambil dan mengembalikan sendiri buku-buku itu ke perpustakaan.

Kedatangan Jones mengubah Andy Andrew menjadi orang yang baru. Singkat cerita sekarang Andy menjadi penggemar buku, dia telah membaca 200 buku biografi orang-orang sukses. Dia memetik banyak hal bermanfaat dari buku-buku itu dan menyaring 7 kesamaan prinsip dasar orang-orang sukses yang sudah dibacanya, menerapkannya di kehidupan pribadinya, dan terakhir menuliskannya dalam sebuah buku berjudul The gift’s Traveler (Buku ini langsung masuk wish list item).

Berkat nasihat Jones, Andy bisa menjadi orang yang sukses. Andy menempatkan Jones sebagai orang yang istimewa di hatinya. Ketika Andy menikah, anaknya lahir, atau acara-acara penting lain di kehidupannya, dia selalu menginginkan Jones ada di bangku terdepan di meja undangan. Andy berusaha mencari Jones, tapi dia tidak menemukannya, sosok itu hilang bak ditelan bumi. Sampai suatu ketika Andy masuk ke restoran langganannya di masa lalu, dia menemukan Jones dengan penampilan persis seperti awal dia bertemu.

Bab-bab selanjutnya menceritakan bagaimana Jones mengubah hidup banyak orang dengan nasihat-nasihatnya. Satu bab tentang sepasang suami istri yang hampir bercerai, dia rujukkan dengan nasihat menyentuh. Suami dan istri itu sebenarnya saling mencintai, tapi dialek cinta mereka berbeda, perlu kemauan dari kedua belah pihak untuk mempelajari dialek baru diluar dialek yang mereka punya.

Bab-bab lain berisi cerita Jones menyelamatkan hidup Walker dari kecemasan, menasihati anak-anak muda tentang bagaimana memilih pasangan, membangkitkan gairah hidup Willow si nenek yang merasa masa tuanya tidak berguna, mengubah cara Henry berbisnis, dan masih banyak lagi. Hampir semua orang di kota yang mengenal Jones akan menyayanginya dan merasa sangat berutang budi atas nasihat-nasihat yang mengubah hidup mereka. Nasihat dari seorang Jones, seorang gelandangan bermata jernih yang mengajarkan pentingnya “perspektif” telah mengubah hidup banyak orang menjadi lebih baik.

Buku ini jenisnya Faksi. Gabungan antara fiksi dan non Fiksi. Saya kurang tahu bagian mana dalam buku ini yang rekaan, mungkin tentang sosok Jones yang sangat misterius, yang bisa muncul dengan penampilan yang sama seperti puluhan tahun yang lalu. Saya juga bertanya-tanya apa benar semua nasihat pak tua Jones adalah karangan Andy Andrews, nasihat-nasihat Jones terasa nyata, saya sulit mendeskripsikannya, membuat saya manggut-manggut, menutup buku sejenak dan menghela nafas, dan belakangan bahkan kadang-kadang merasa Jones menasihati saya langsung.

Tidak ada yang tidak saya sukai di buku ini, cara bercerita, cara menasihati, pengandaian semuanya saya suka. Mungkin kekecewaan hanya pada bagian kenapa bukunya tipis, tidak sampai 200 halaman. Trus kenapa di bagian akhir Jones harus menghilang, hanya meninggalkan kopernya yang ternyata berisi banyak bungkusan benih dan surat ucapan selamat tinggal.

5 bintang untuk buku ini.

11 Apr 2016

Gebyar Pesta Buku Gramedia

Gebyar Pesta Buku Gramedia. Sepulang dari kantor, saya ke Gebyar Pesta Buku Gramedia di Masjid Islamic Center. Di samping bangunan utama masjid, terdapat ruangan besar yang multifungsi, bisa sebagai tempat resepsi pernikahan, bisa juga jadi tempat pameran seperti yang diadakan Gramedia sekarang. Seingat saya hampir tiap tahun Gramedia menyewa tempat ini, maklum kota kecil, belum ada toko buku yang lengkap. Jadi wajar jika Parepare menjadi salah satu tempat pelaksanaan program tahunan toko buku terbesar di Indonesia itu.
 
Hampir tiap tahun diadakan, tiap tahun pula saya jadi pengunjung. Buku-buku di sana diskon sampai 70%. Tapi ya namanya diskon, biasanya yang ditawarkan adalah buku-buku kurang laku, yang sudah lama di gudang. Tapi tenang saja, yang dijual di sini tidak semua buku begitu, kalau ogah dengan bacaan diskonan, buku-buku best seller juga ada kok di tempat ini, cuma saja tetap dijual dengan harga normal. Buku anak-anak juga melimpah, mulai dari buku mewarnai, buku cerita, dan buku-buku edukasi. Rata-rata buku untuk anak diobral dengan harga murah.
Gebyar-pesta-buku-gramedia
suasana Gebyar Pesta Buku Gramedia
 
Yang saya sukai di tempat ini, saya bisa membaca sepuas hati. Saya boleh duduk bersila, membaca buku tanpa ada yang menegur, beda kan dengan Gramedia di mall, membaca buku harus sambil berdiri, bikin kaki pegal.
 
Di toko buku, selalu saja waktu terasa cepat berlalu, tiba-tiba saja sudah mendekati magrib, saya memutuskan membeli 3 buah buku, 1 buku berharga normal, 2 buku diskon. Di depan meja kasir, mbak yang melayani bilang begini  “Ibu mau ikut lomba meraup buku? kelipatan seratus sudah bisa ikut”
 
“Bagaimana caranya?” radar langsung menyala
 
“Jadi ibu kalau belanja 100 ribu bisa catat nama di sini, sebentar jam 8 malam kami undi”
 
Boleh juga, belanjaan saya lebih dari itu. Jadi saya menuliskan nama, alamat dan nomer telepon di sebuah kertas kecil yang kemudian dipilin sama mbak kasir, lalu dimasukkan ke dalam bekas gelas air kemasan. Saya lihat kertas undian belum seberapa, kans untuk menang ada nih.
 
Setiba di rumah, saya dan Pap Nay ngobrol tentang undian ini. Kami memutuskan datang lagi sebentar malam. Saya mengambil beberapa buku koleksi di lemari, saya hambur di atas kasur. Saya berlatih meraup buku, benar-benar niat :D
 
Setengah 8 malam, kami berangkat. Kali ini saya memboyong 2 krucil. Setiba di sana, seperti biasa, anak-anak saya tidak bisa membedakan tempat, semua ruang lapang sama bagi mereka, semua adalah arena bermain. Kakak adek segera berlari setelah pintu mobil dibuka, mereka lari, lompat dari panggung, membuka buku, membawanya lari, menyimpan lagi, dan lari lagi. Kelakuan mereka membuat emaknya sering dilirik manja oleh bapak sekuriti.
 
Pukul delapan sudah berlalu, saya mulai gelisah, kok panitianya tenang-tenang saja, tidak ada tanda-tanda acara meraup buku akan dimulai.
 
“Mas, acara meraup bukunya dimulai jam berapa ya?”
“Jam 8 bu”
“ini sudah setengah sembilan lho”
Kami bela-belain datang demi raup buku itu!” batinku
 
Mas itu lalu diskusi sama temannya. Tak lama kemudian mereka melakukan pengundian.
 
Sebenarnya panitia mencari tiga orang peserta untuk bermain, tapi dari tiga nama disebut hanya satu orang yang hadir. Jadi diputuskan mencari satu orang lagi sebagai lawan. Setelah mengundi yang ke empat kalinya, Alhamdulillah nama saya disebut.
 
“Pak, pemainnya bisa diwakilikah?” tanya saya sama panitianya.
“boleh bu” kata dia
 
Jadilah Pap Nay mengganti saya mengikuti permainan meraup buku itu. Rupanya cara bermain tidak seperti perkiraan kami sebelumnya. Ini bukan lomba meraup buku, tapi lomba lari membawa buku, mungkin maksud “meraup buku” itu adalah pemenang boleh meraup semua buku yang berhasil dia kumpulkan. Latihan di rumah tadi sia-sia.
 
Jadi cara mainnya begini: Peserta yang hanya 2 orang terpilih ini berdiri berjejer, mereka harus adu kecepatan berlari mengambil buku satu persatu dan menyimpannya ke tempatnya berdiri tadi. Perlombaan berlangsung 1 menit saja. Peserta yang mengumpulkan buku terbanyak yang jadi pemenang. Untung bukan saya yang main, kebayang capeknya.
 
Lawan Pap Nay seseorang yang lebih muda dan gesit, dia berhasil mengumpulkan 11 buku, sedangkan hubby saya hanya mengumpulkan 9 buku.
 
 “Tadi itu saya tidak lari maksimal Ma” kata suami saya mengklarifikasi tanpa diminta.
 
Saya senyum mengiyakan.
 
Pemuda yang menang tadi oleh juri diumumkan boleh membawa pulang semua buku yang berhasil dia ambil saat lomba. Pap Nay karena juara 2 hanya boleh memilih 3 dari 9 buku. Setelah mempertimbangkan judul dan harga, dipilihlah 3 buku yang paling mahal di antara yang termurah itu. Iya, buku yang dijadikan lomba raup buku tentu bukan buku-buku hits yang biasanya ada di meja best seller. Kebanyakan buku-buku panduan aplikasi komputer, teenlit atau buku-buku tipis tentang makanan sehat. Ada juga buku-buku yang judulnya tentang KUHP, yang ini tentu saja tidak saya pilih, kecuali saya mau nonton debat kusir tentang hukum di televisi, mungkin boleh juga hahaha.
Gebyar-pesta-buku-gramedia
2 bocah main kejar-kejaran di panggung
 
Salah satu buku gratis yang kami bawa pulang menjadi kesukaan Naylah, buku tentang buah dan sayur yang berbahaya. Mungkin dia menyukainya untuk cari-cara alasan supaya tidak makan sayur :D
 
Selain lomba meraup buku, anak-anak kita juga bisa ikut berpartisipasi. Oleh Gramedia telah dijadualkan lomba Kolase (tgl 14 April 2016), lomba mewarnai (tgl 17 April 2016), dan lomba fashion show (tgl 23 April 2016). Hadiahnya berupa uang tunai, maaf saya lupa tanya nominalnya.
 
Acara Gebyar Pesta Buku Gramedia ini berlangsung cukup lama, tgl 01-30 April 2016. Jadi masyarakat Parepare dan sekitarnya bisa datang kapan saja di periode itu. Saran saya sebaiknya datang di malam hari sekitar pukul 19.00, jadi kita punya waktu sejam memilih buku, dan bisa langsung mendaftar untuk mengikuti lomba meraup buku saat itu juga. Lumayan kan, bisa olah raga, dapat buku gratis pula.
 
#AyoBacaBuku

9 Apr 2016

Membangun Keluarga yang Wonderful

Membangun-keluarga-yang-wonderful
 
Membangun Keluarga yang Wonderful. Ahad, tgl 03 April 2016 saya menghadiri acara pelantikan pengurus PD Salimah Parepare yang dirangkaikan dengan acara seminar keluarga Nasional dengan tema “Wonderful Family, menyulam cinta dan surga-Nya”. Materi dibawakan langsung oleh Cahyadi Takariawan, penulis buku serial Wonderful Family. Acara ini diadakan di Hotel Kenari, hotel yang tidak jauh dari rumah saya.
 
“Pernikahan itu ibarat gunung, dari jauh terlihat indah, tapi setelah menaikinya, pendaki akan menemukan banyak rintangan, baik itu jurang, jalan yang terjal, perdu, dan binatang berbahaya. Begitu juga dengan pernikahan, selalu ada aral melintang di dalamnya”
 
Demikian penulis yang akrab disapa Pak Cah memulai materinya. Beliau mengatakan bahwa data yang dikeluarkan Kemenag tentang penyebab perceraian telah bergesar dalam kurun waktu yang tidak begitu lama. Pada tahun 2014, pada pengadilan agama Makassar dan Sangata, tercatat 90 persen perceraian disebabkan oleh perselingkuhan, padahal tahun sebelumnya masih didominasi oleh masalah ekonomi. 
 
Perselingkuhan sekarang ini marak terjadi karena dipicu oleh gadget. HP yang dulunya hanya untuk menelpon dan sms, sekarang meluas fungsinya, HP menjadi benda kecil yang memiliki jangkauan tak terbatas. Handphone bisa mempertemukan kita dengan seseorang di masa lalu, membuat kita berinteraksi dengan orang lain yang jauh dan lama terpisah.
 
Hampir semua perselingkuhan tidak dimulai dengan niat ingin selingkuh. Awalnya hanya bertegur sapa biasa lewat grup alumni, lalu lanjut ngobrol di private chat. Obrolan yang berulang akhirnya menghidupkan kembali chemistry, dan bisa ditebak endingnya, rumah tangga retak, anak menjadi korban.
 
Tidak hanya menyambung cinta masa lalu (CLBK), gadget juga bisa mengintenskan hubungan dengan orang yang baru dikenal. Sebuah cerita menarik, masih dari Pak Cahyadi yang saya temukan dari salah satu tulisan beliau di Kompasiana. Dua orang, laki-laki dan perempuan, naik bus jurusan Yogyakarta diantar oleh pasangannya masing-masing. Perjalanan panjang selama 10 jam, membuat dua orang yang duduk berdekatan di bus ini bercerita panjang lebar tentang diri masing-masing. Si perempuan curhat tentang kemelut rumah tangganya, demikian pula laki-laki yang sudah beristri menceritakan tentang diri dan kehidupannya. Saat penumpang lain tertidur, dua orang yang baru saling mengenal ini justru tetap terjaga, mereka asik berbagi kisah. Setiba di kota tujuan, karena merasa obrolan mereka nyambung dan berat berpisah, merekapun saling bertukar nomer HP, nomer Whatsapp, alamat facebook dan email. Akhirnya obrolan berlanjut di dunia maya, dan terjadilah perselingkuhan.
 
Demikian singkatnya seseorang bisa mengkhianati pasangannya, oleh karena itu Pak Cah menyarankan kita agar senantiasa berusaha mengenal pasangan. Sebab sebenarnya tidak ada perselingkuhan yang tiba-tiba, semua ada prosesnya. Tanda-tanda adanya pihak ketiga mudah dikenali jika istri atau suami selalu berusaha memperhatikan pasangan hidupnya. Janganlah pernah menyangka sudah mengenal pasangan kita secara dekat karena sudah menjalani hidupnya dengannya belasan atau puluhan tahun. Karena tidak ada yang menjamin hari ini dia setia, besok tidak akan berpaling. Seperti cerita di atas ternyata awal mula perselingkuhan bisa terjadi dalam waktu 10 jam saja.
 
Menyangkut suka duka berumah tangga, kita harus memahami bahwa pernikahan itu tak lain adalah lembaga tempat kita mengelola ketidakcocokan. Alangkah banyak perbedaan laki-laki dan perempuan, tanpa pemahaman bahwa kita berbeda, maka akan sulit menghindari percekcokan. Salah satu contoh perbedaannya, perempuan memiliki struktur otak yang majemuk, sedangkan laki-laki berstruktur otak tunggal. Itulah kenapa perempuan lebih mampu multitasking dibandingkan laki-laki. Perhatikan yang dilakukan istri di pagi hari, sambil menjerang air, dia juga menanak nasi, dan memandikan anak. Sementara laki-laki tidak bisa demikian, mereka hanya bisa melakukan satu pekerjaan di satu waktu.
 
Satu perbedaan ini saja, jika tidak dipahami akan membuat istri kesal. Belum lagi kebingungan-kebingungan yang lain, contohnya seorang suami mempermasalahkan istri yang terlalu cerewet, sedangkan istri mempermasalahkan suaminya yang pendiam. Laki-laki terbiasa menjawab segala sesuatu to the point, ditanya satu jawabnya satu, sedangkan perempuan selalu menghubungkan segala hal, jadi mereka cenderung banyak bicara.
Membangun-keluarga-yang-wonderful
Berpose bersama Penulis buku Wonderful Family
 
Acara seminar keluarga ini dihadiri oleh peserta tidak hanya dari kota Parepare saja, tapi juga dari Pinrang dan Sidrap. Pada akhir acara, Pak Cah melemparkan pertanyaan kepada 3 orang laki-laki tentang bagaimana cara mereka membujuk istri yang lagi marah, jawaban terbaik dimenangkan oleh suami yang menjawab bahwa dia memeluk istri yang lagi marah dan mengajaknya belanja. Memang ya pelukan dan belanja selalu jadi obat mujarabnya perempuan :D
 
Saat Pak Cahyadi berbicara panjang lebar di depan, peserta tak berhenti tergelak. Yang diungkapkan Pak Cah umumnya dialami oleh pasangan suami istri, tapi tidak disadari bahwa itu timbul karena memang kita adalah makhluk diciptakan memang berbeda. Jadi sangat wajar hal yang mudah bagi istri sangat sulit dilakukan suami, demikian pula sebaliknya.
 
Setelah mengikuti seminar ini, sekarang saya tidak perlu heran dan kesal:
Kenapa suami saya tidak bisa menonton tv sambil melipat baju,
kenapa suami saya kalau menjawab singkat-singkat,
kenapa suami kalau marah diam,
kenapa suami saya tidak romantis,
kenapa suami saya pelit mengatakan “I love you”
 
Untuk teman-teman yang ingin belajar lebih banyak bagaimana menjadi Wonderful Family, yaitu keluarga yang dipenuhi keindahan, kebahagiaan, keharmonisan, serta kemuliaan, bisa membaca serial Wonderful Family, yang terdiri 5 judul : Wonderful Family, Wonderful Couple, Wonderful Husband, Wonderful Wife dan yang baru saja terbit Wonderful Journeys for A Marriage. Oh ya Pak Cahyadi Takariawan berbagi ilmu tidak melalui buku saja, beliau juga menulis lebih dari 500 artikel di Kompasiana tentang membangun keluarga yang wonderful, tulisan-tulisan beliau sangat inspiratif.
 
Parepare, 08 April 2016
Nur Islah