11 Jan 2017

Rumah Tanpa pembantu

 
Dinding kamar lumutan, merahnya pudar berjamur. Bagian kiri kanan terkelupas, menampakkan daging-daging semen yang menganga. Sisi yang tiga tahun silam kremnya kalem bersih, sekarang penuh coretan abstrak.
 
Di kamar mandi, air selalu tergenang, keramik jadul standar terpasang asal, membuat air susah mengalir ke arah seharusnya. Lantainya tampak kotor, bahkan pada menit pertama selesai disikat dengan susah payah.
 
Kasur ukuran nomer satu, sudah berjasa selama 10 tahun terakhir, sekarang kempes karena sering beralih fungsi jadi matras. Berapakalipun larangan dikeluarkan tidak pernah anak-anak pedulikan. Sesekali, jika ingat, pintu kamar dikunci sebelum ke kantor, hanya demi bisa tidur nyenyak nanti malam, karena seprai tidak gatal, selebihnya lupa.
 
Masih di kamar pribadi, kamar utama yang jadi tempat beristirahat Tuan dan Nyonya rumah, Lemari kayu pecah cerminnya, sudah lama sejak si bungsu menghantamnya dengan sekali tinju, sampai sekarang selalu saja belum sempat diganti dengan cermin yang baru. Triplek yang menutupinya pun tak pernah menyangka akan bertahan sekian lama tanpa diganti. Cobalah buka pintunya, kain, baju, celana semrawut, siapapun yang buka akan menutup cepat-cepat. Tengoklah di atasnya, bertumpuk koper, berhimpitan, pemiliknya pun sampai lupa entah berisi apa.
 
Di kamar ini, kami bercengkrama, memadu kasih, bercinta dengan ganas atau biasa-biasa saja. Di kamar ini, kami bercerita dengan tawa, atau saling berteriak padahal jarak tidak lebih dari semeter.
 
Di kamar ini, anak-anak suka berkumpul, bermain, bercanda atau bertengkar, dan seringkali sampai tertidur, membuat bapaknya mengungsi di belakang.
 
Yah kamar utama tak terurus.
 
Dapur berantakan dengan sisa minyak memenuhi kompor, Padahal tadi pagi kinclong mengkilap. Pakaian kotor tidak ada habisnya, bahkan pakaian baru cuci saja belum dijemur, tambah lagi yang kotor.
 
Sungguh jika bisa, ingin saya poles semua dengan lap sampai mengkilat. Tapi dengan tenaga sisa dari kantor, hanya bisa menatap nanar tak berdaya. Lemas jiwa raga melihat kekacauan saat baru tiba di rumah. Padahal masih terasa capeknya berjuang tadi pagi membersihkannya.
 
Saya merasa jadi nyonya rumah yang gagal.
 
***
 
Ada yang pernah merasakan hal yang sama? Ini kegalauan yang saya tulis beberapa hari yang lalu. Saat itu, asli sedih sekali. Saya menghakimi diri, jadi istri yang gagal menata rumah. Memang beberapa tahun ini saya memutuskan tidak mempekerjakan pembantu lagi, kapok berurusan dengan mereka, ada-ada saja alasan yang intinya mereka tidak masuk kerja. Untung ada Adik yang menolong jaga anak-anak, jadi saya masih bisa ke kantor dengan tenang. Tapi untuk urusan kebersihan rumah, kami jadi harus ekstra keluarkan tenaga.
 
Di hari-hari normal, saya masih bisa meninggalkan rumah dengan keadaan bersih. Tapi jika buru-buru rumah saya tinggalkan dengan kondisi seADAnya, maksudnya ADA piring di atas meja, ADA kaos kaki di kursi, ADA bekas tidur yang belum dirapikan.. parah ya *tersipumalu
 
Tapi percayalah ditinggalkan dengan kondisi bersih atau kotor, sepulang dari kantor saya akan mendapatinya sama..berantakan :D
 
Jika sedang tidak sensitif, tiba di rumah bisa langsung bersih-bersih. Tapi kalau habis lembur trus sedang datang bulan pula, bukannya ambil sapu, malah sedih atau marah-marah :D
 
Karena sibuk berkutat dengan rutinitas kantor, urusan domestik rumah tangga, bersih-bersih, belakangan ditambah tetek bengek kios, otomatis tidak ada waktu untuk berleha-leha. Jangankan memperbaiki yang rusak, yang rutin-rutin saja seputar cucian dan jemuran seakan-akan tidak pernah kelar. Jadi barang-barang yang rusak macam lemari, kursi, meja yang perlu perbaikan selalu terabaikan.
 
Barulah akhir-akhir ini saya sadar, wah rumah sudah mulai kurang nyaman. Ternyata sudah 3 tahun berlalu sejak renovasi terakhir, sepertinya kami perlu lagi meluangkan waktu, menyiapkan tenaga dan budget untuk memperbaiki rumah dan perabot.

Sebenarnya sudah pernah berkali-kali berniat menemui tukang, tapi Pap Nay pasti melarang. Dia bilang untuk apa membayar orang kalau dia bisa melakukannya sendiri. Saya sih bersyukur punya suami yang sanggup, masalahnya cuma satu, dia tidak punya waktu :D yah sama saja tidak.
 
Jadi begitulah…
 
Untuk sementara hanya bisa melakukan yang disanggupi dulu, macam kemarin blanja blanji tempat penyimpanan, supaya yang barang-barang seperti mainan anak-anak tidak asal taruh. Selanjutnya mudah-mudahan diberi keluasan waktu, tenaga dan budget.

6 Jan 2017

Bersyukur

 
Pada suatu siang di lorong kamar radiologi…
 
Seorang gadis kecil duduk di tepi ranjang, ditemani bapak ibunya. Mereka terlihat gelisah.
 
“Anak saya mau di MRI juga, biar suami ibu duluan, soalnya dia tidak tenang” kata si Bapak memulai pembicaraan.
 
Saat itu saya sedang mengantar Pap Nay memeriksakan pinggangnya yang terasa tidak normal, dia khawatir terkena penyakit syaraf terjepit. MRI (Magnetic resonance imaging) adalah proses pemeriksaan yang harus dia jalani untuk memastikan apakah ada yang tidak normal dengan tulang belakangnya. Proses MRI memang agak beda. Suara keras selama kurang lebih sejam akan membuat gugup siapapun yang berbaring dalam tabung, saking ributnya bahkan masih terdengar walaupun sudah memakai penutup telinga. Jadi sangat dimaklumi kalau anak si bapak tadi sampai menangis saat berada dalam ruangan MRI.
 
Si bapak pergi, sepertinya dia mengurus proses administrasi yang diperlukan. Saya sempat ngobrol ibunya.
 
 “Anak saya umur 3 tahun, tapi gak bisa jalan, ini baru aja bisa ngomong dikit-dikit” katanya sambil membelai kepala bocahnya.
 
“Adek sakit apa bu?”
 
“Kelainan sejak lahir, bu”
 
“Memang ibu ada gejala apa waktu hamil?”
 
“gak ada, malah sangat sehat, gak ada ngidam, gak ada flek, bahkan tidak sulit melahirkannya”
 
Saya memandang iba gadis cilik di sampingnya. Dia duduk tenang di sana, menatap polos tanpa suara. Jilbab hitam hampir menutupi pandangannya, tapi tidak sekalipun dia berusaha memperbaiki posisinya. Fisiknya tampak masih berumur 2 tahun. Sebentar lagi dia akan disuntik obat penenang. Anak yang malang.
 
Entah penyakit apa yang dia derita. Si Ibu menjelaskan kalau ada cairan di dalam tulang sejak lahir, bahkan tengkorak kepalanya pun tidak terbentuk sempurna. Karena kelainan itu pertumbuhan fisik jadi lambat.
 
Tiba-tiba saya menyadari betapa baiknya Tuhan kepada diriku. Dia amanahkan dua anak yang sempurna, baik fisik maupun mental. Mereka lincah dan sehat. Walaupun Kakak Naylah semasa balita juga sering sakit, tapi seiring waktu semakin jarang dia dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah Adek Ayyan malah lebih baik dari kakaknya, jarang demam, lebih sering bolak-balik UGD karena kecelakaan main saja.
 
 
Saya tidak bisa membayangkan berada di posisi ibu ini. Dia setiap saat harus kontrol, tempo-tempo harus siap tenaga dan materi demi buah hatinya bisa sehat dan normal. Mungkin ada saat dimana dia harus menahan keinginan ini itu karena harus menabung biaya berobat. Mungkin bapaknya harus berkali-kali minta cuti di kantor karena harus menemani anak ke rumah sakit. Bisa jadi suami istri ini kadang terbangun kaget di tengah malam karena anak mereka menangis kesakitan.
 
Seketika saya bersyukur.

#ODOPfor99days #1

28 Des 2016

[Sport Jantung] Adek Dijahit Lagi


Kalau boleh memilih saya tidak mau label sport jantung ini bertambah sampai kapan pun, tapi yang namanya kemalangan yah, kalau datang tak dapat ditolak. Hanya dapat diterima dan dilihat sisi baiknya saja. Selalu saya tulis di blog bukan untuk diratapi, tak lain agar kelak dapat dikenang, suatu hari saat membacanya kembali kami akan tertawa dan berkata “oh pernah begini rupanya”

Lagi-lagi Ayyan jatuh sampai lukanya harus dijahit, kejadian yang sama saat dia berumur 2 tahun, terulang hari ini jadi serasa de javu.

Baca juga Ahh Adek Jatuh lagi

Awal hari semua baik-baik saja, suasana adem, anak-anak tidak rewel karena malamnya tidur banyak. Pagi-pagi saya menghadiri acara di Hotel Parewisata, talk show “Ibu dirindukan surga” diadakan oleh Rumah Keluarga Indonesia (RKI). Saya berangkat bersama Kakak Nay, sementara Pap Nay ke toko grosir langganan di pasar. Memang hari sabtu atau ahad adalah jadwal rutin kami belanja keperluan kios.

Belum juga berapa lama acara talk show berlangsung. Saya yang duduk di depan menyimak, tiba-tiba dicolek salah satu panitia, dia mengabarkan kalau saya ditunggu suami di luar. Mulai disini, perasaan saya sudah tidak enak, musti ada kabar yang sangat penting kalau begini.

“Adek jatuh, mau dibawa rumah sakit, kayaknya perlu dijahit!” Kata Pap Nay

Ya Allah…

Namanya ibu ya, kabar yang begini pasti bikin jantung berdegup lebih kencang. Saya tidak bisa membayangkan ada orang tua yang suasana hatinya adem saat menerima kabar serupa.

Saat itu tiba-tiba pula saya panik, kakak Nay yang tadi pamit ke belakang tidak ada. Tadinya saya pikir kakak mau main dengan temannya di bangku belakang. Saya dan Pap Nay mencari dia sampai di lantai bawah, bahkan dibantu panitianya, tapi tidak ketemu juga. Mana kepikiran pula ada Adek Ayyan yang kepalanya berdarah-darah. Ya Allah, gusarnya perasaan waktu itu. Untung tidak lama kemudian, ketemu. Rupanya kakak di WC sedang buang hajat. Ini anak sampai dua kali bolak-balik buang air besar gara-gara kebanyakan makan :D

Saat tiba di mobil, saya lihat Adek sedang duduk tenang dipangku Omnya, dahinya sudah diplester seadanya, pertolongan pertama dari bapaknya tadi.

“Adek kenapa” tanyaku

“Adek Jatuh”

“ini berapa Dek?” sambil saya angkat jari di depan matanya

“Dua” kata dia mantap

Perasaan jadi agak lega, setidaknya mata sama otaknya masih nyambung.

Kami membawa Adek ke UGD rumah sakit Fatimah, tempat andalan kami jika sedang mengalami kejadian darurat. Rumah sakit ini paling recommended untuk urusan beginian. Layanannya cepat.

Kami ditanya penyebab Adek jatuh, apakah langsung nangis setelahnya atau pingsan, dll

Adek jatuh saat lompat. Sebenarnya dia sudah ahli lompat dari atas meja, jarang jatuh. Tapi karena ramai dengan teman-temannya, terlalu semangat, juga sebelumnya sering berputar-putar, jadi dia kehilangan keseimbangan. Pasti jatuhnya keras, kepala bagian kanan yang menyentuh lantai duluan. Dahinya robek lumayan, terbuka, mengucurkan darah banyak sekali.

Di rumah sakit, sepertinya Adek ingat kejadian setahun yang lalu, ingat betapa sakitnya disuntik dan dijahit. Adek memeluk erat digendongan. Tidak mau sama sekali diletakkan di ranjang. Sambil menunggu persiapan jahit menjahit kelar, saya mulai membujuk…

“Dek, kalau Adek tidak nangis nanti Mama belikan es krim dua, kalau nangis cuma satu, Adek mau yang mana?”

Adek malah bilang begini… “Satu untuk kakak, bapak, Tata Uul…bla-bla” dia mengabsen nama-nama.

Sampai detik ini Adek belum nangis, hanya merengek tidak mau lepas dari pelukan. Cerewet Adek juga tidak berkurang, dia mengomentari bantuan pernapasan seorang anak di ranjang sebelah, komputer, dll.

Saat tindakan mau dimulai, barulah dia nangis kencang. Butuh bantuan bapaknya, saya dan satu orang perawat untuk menahan tangan dan kaki Adek agar dokter bisa memulai menyuntik. Wajah Adek mulai ditutup. Benjol yang terbuka di dahi Adek ternyata butuh 4 jahitan!

Masya Allah, Adek meronta-ronta. Darah di dahinya mengucur banyak. Susternya bilang

 “ Kalau nangis nanti darahnya tambah banyak”

Adek lalu lebih merendahkan lengking tangisannya. Tapi saat di suntik Adek menangis kencanggggg sekaliiii. Memang sakit ya pasti. Saya beberapa kali memalingkan wajah, tidak tega melihatnya. Adek teriak-teriak minta dipeluk, saya jadi tambah sedih, saya memegang tangannya sambil memeluk dia.

Setelah obat bius bekerja tangisan Adek mereda lagi. Sembari dia dijahit kami berusaha mengajak Adek ngobrol tentang rasa es krim yang dia inginkan. Setelah selesai saya tanya Adek begini

“Adek mau es krim satu atau dua?”

“tiga” kata dia mantap

Hahaha bagus nak, akalnya masih jalan terus.

Tahu tidak bun, sampai di rumah Adek langsung lompat-lompat lagi, bikin kami seisi rumah kompak berteriak melarang.

Begitulah salah satu kelebihan punya anak yang suka bergerak, bikin emaknya sering-sering sport jantung. Sehat selalu ya Nak, malampe sungeta, salamaki lino ahera.

Parepare, 25 Desember 2016

21 Des 2016

Demi Masa


Demi Masa
kemarin adalah kemarin
Tak ada yang dapat dilakukan untuk mengulangnya
Hanya menyesali betapa banyak kita menghamburkan waktu luang

Umur 20an tidak akan terulang
Masa-masa itu sekejap saja Kamu terbangun, mendapati diri berumur 30an, bersuami beranak dengan penyesalan tidak menghabiskan masa muda dengan maksimal
Umur 40an juga hanya sebentar, tahu-tahu flek hitam satu persatu muncul, kulitmu tidak sekenyal dulu
Tanda-tanda yang dikirimNya semakin banyak, supaya kita segera bertobat
Jarak pandangmu semakin pendek, satu dua uban menyembul di balik lebat rambutmu
Makan banyak kepala pening, capek sedikit badan lemas
Tapi pertanda itu pun berlalu begitu saja
Masih sama berlalu begitu saja

Dia yang maha penyayang
Memberi ampun selama jantung masih berdetak
Mengampunimu bahkan sejam sebelum nyawa meregang
Kita tinggal meminta Bersujud mengiba padaNya

Ya Allah
Rengkuhlah kami
Jangan biarkan kami menjauh dari jalanMU
Tidak apa terseok merangkak
Asalkan diriMu selalu menuntun

20 Des 2016

#TemuBunda2016: Serunya Kegiatan Mombassador SGM Eksplor di Yogyakarta


Beberapa hari ini mungkin teman-teman sering melihat timeline saya penuh dengan gambar-gambar berhestek #temubunda2016 ya? Saking seringnya mungkin mulai bosan, untung tidak di-unfriend hihihi. Memang, pada tgl 13-15 Desember 2016 kemarin saya diundang ke Yogyakarta sebagai salah satu mombassador SGM eksplor. Duh senangnya, tidak sabar berbagi cerita kepada kalian.

PT Sari Husada Mahardika atau Sari Husada, sebuah perusahaan yang memproduksi produk nutrisi untuk ibu hamil, menyusui dan anak membuka program Mombassador SGM sejak tahun 2014. Awalnya proses perekrutan hanya diambil dari ibu-ibu yang aktif di fans page facebook "Aku anak SGM". Mas Akri, selaku penanggung jawab project ini mengaku mengalami kesulitan pada awal program. Karena masih baru, Team Sari Husada kesulitan meyakinkan ibu-ibu terpilih. Bunda-bunda yang dihubungi lewat inbox FB mengira ajakan untuk menjadi mombasador itu hoax atau penipuan. Maklum ya, memang semakin kesini, makin marak juga penipuan lewat medsos, jadi kekhawatiran tersebut wajar muncul di benak mereka.

Belakangan, di tahun ini program Mombassador dilakukan dengan cara lain. Saya dan teman-teman batch 4 direkrut dengan mengisi formulir online terlebih dahulu. Untuk blogger termasuk saya, formulir didapatkan dari komunitas yaitu Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Blogger Perempuan (BP), sementara bunda-bunda lain mendapatkan formulirnya dari komunitas masing-masing.

Tidak hanya proses perekrutan yang berbeda, jumlah peserta batch-batch sebelumnya juga lebih sedikit, hanya belasan. Nah untuk batch 4, jumlah kami lebih banyak, sejumlah 61 orang. Mas Akri mengatakan jumlah Mombassador akan terus ditingkatkan setiap tahun agar semakin banyak bunda turut serta mendukung misi menutrisi bangsa. Jadi jika teman-teman berminat, bisa daftar di batch selanjutnya di tahun 2017. Caranya bagaimana? Aktif dan pantau terus fanspage Aku Anak SGM di facebook ya.

Sejak mengisi formulir, saya sebenarnya sudah lupa, sampai suatu hari team dari Sari Husada menelpon untuk melakukan wawancara. Pertanyaannya macam-macam; apakah saya sudah tahu apa itu Mombassador? Yang saya jawab belum :D, mengapa saya ingin ikut? Apakah saya terlibat di kegiatan sosial? Dll. Sepertinya pertanyaan yang saya sebutkan terakhir itu menjadi indikator penting, karena saat ketemu dengan teman-teman di sana, saya baru menyadari mereka adalah bunda-bunda hebat yang sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya, ada yang care dengan dunia parenting, ada yang sangat concern dengan budaya baca, edukasi lewat dongeng dan masih banyak lagi. Saya jadi keder sendiri karena merasa belum begitu banyak sumbangsih selama ini.

Selang seminggu setelahnya, saya ditelepon kembali dikabarkan bahwa saya terpilih menjadi salah satu Mombassador dan diundang mengikuti acara temu bunda di Yogyakarta pada tgl 13-15 Desember 2016. Saat itu juga saya ditanya ukuran baju kaos, sekaligus diinformasikan bahwa akan ada team menelpon soal tiket keberangkatan. Kala itu senangnya bukan main, Alhamdulillah pikirku, emak yang kurang piknik bakalan jalan-jalan keluar kota, gratis lagi hihihi.

Beberapa hari berlalu, penyampaian soal tiket kok tidak ada ya, baik telepon maupun email. Saya mulai khawatir, ini beneran atau cuma di PHP(Pemberi Hiket Palsu) *maksa
Apalagi si hubby sendiri kurang percaya saya benar-benar diundang karena pemberitahuannya by phone saja. Untungnya dua hari menjelang hari H keberangkatan, e-tiket PP Makassar Jogja masuk di-inbox email saya…Yeyyy Jogja I’m coming!

Tahu tidak bun…
Saya kaget lho, rupanya ya….
Kami benar-benar diperlakukan seperti tamu istimewa. Awalnya Pap Nay berencana ambil cuti di kantornya demi mengantar saya ke bandara, tiba-tiba di malam keberangkatan saya dikabari akan ada sopir menjemput. Singkat cerita, si sopir menghubungi, dia sengaja berangkat pukul 11 malam dari Makassar untuk menjemput saya di Parepare. Kami janjian jam 2 dini hari. Asli malam itu tidak bisa tidur karena persiapan packing dan memang susah nyenyak saking senangnya hihihi.

Pak Akbar, nama sopir yang menjemput. Orangnya sopan, bahkan menurutku yang tidak terbiasa diperlakukan istimewa begini, dia agak berlebihan menerapkan SOPnya perusahaannya .Bahkan buat minum saja, sopirnya menunggu kesempatan sampai saya minta turun pipis dulu, dia tidak mau minum sambil nyetir. Kata Pak Akbar, perusahaan travel tempat dia kerja ini tidak menerima penumpang umum, biasanya khusus tamu-tamu perusahaan saja. Saya manggut-manggut, pantas perlakuannya jauh berbeda dengan sopir angkutan yang lain, yang biasanya mengganggu penumpang dengan asap rokoknya sepanjang jalan.

Karena dijemput kepagian, waktu yang dihabiskan di Bandara Hasanuddin jadi lumayan lama. Sementara mau melanjutkan tidur juga tidak bisa, maklum tidak ada yang menemani, ntar kebablasan malah ketinggalan pesawat pula, kan sayang :)

Proses keberangkatan lumayan lama juga ternyata, Makassar- Jakarta memakan waktu satu jam,transit kurang lebih 2 jam, trus lanjut lagi terbang kurang lebih satu jam. Lelah, ngantuk, lapar lah pokoknya.

Tiba di Bandara Adisutjipto hari sudah sore. Baru juga hp dinyalakan, muncul panggilan masuk dari team penjemput, mereka sudah menanti di depan. Jadi kekhawatiran Pap Nay istrinya kesasar Alhamdulillah tidak terjadi. Oh ya, saya baru tahu ternyata satu pesawat dengan Mba Milda dan Mba Ria di sini, dua blogger asal Bengkulu. Coba tahu dari awal, tadi waktu transit kan bisa lebih asyik ngobrol, tidak membosankan.



Dari bandara, kami dibawa langsung ke sebuah resort yang luasnya luar biasa, 4 ha! Namanya The Westlake Resort. Saking besarnya nih tempat, dari lobi ke kamar harus naik mobil mini. Karena datangnya telat, koper-koper disimpan dulu di lobi, kami disuruh foto dulu, buat foto profil. Aduh, penampilan lagi tidak cetar; loyo dan capek. Tadi saya pikir hasilnya pasti kurang memuaskan. Untung mas gondrong tukang jepretnya jago, foto-foto kami terlihat bagus, tidak ada tanda-tanda belum mandi.

Karena laparnya sudah tingkat dewa, saya, Mba Milda, dan Mba Ria dijamu minum dan makanan ringan dulu buat ganjal perut sementara, sebelum makan malam sejam lagi. Saya pilih minum wedang jahe, perut langsung terasa segarnya. Angin-angin jahat yang tadi merecoki langsung kabur.

Tak lama kemudian, kami langsung diajak ke restoran untuk makan malam, padahal ini kami belum sempat ke kamar lho buat salin pakaian. Sepanjang perjalanan naik bus, emak-emak ini ya ampun hebohnya, kami saling memperkenalkan diri satu persatu, ramai dari ujung barat sampai timur Indonesia, yang terjauh ada Bunda Harlin dari Ambon, menyusul saya dari Parepare dan yang terdekat ibu-ibu dari Omah Pareting Yogyakarta. Tiba-tiba kami semua langsung akrab saja.


Sekalian kopdar blogger
Di Sekar Kedathon Restaurant, kami diberi penjelasan singkat tentang Sari Husada dan program mombassador serta kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh mba Naumi, Connection Manager Sari Husada.

Acara makan malam kelar, kami diajak lagi naik bus menuju Alun-alun Kidul. Di sana kami ngegowes pakai sepeda mobil yang sudah dihiasi dengan lampu warna warni. Lumayan bikin keringatan, membakar kalori makan malam tadi. Acaranya singkat saja, tapi berkesan. Kami akhirnya kembali ke resort.

Kejutan lain, ternyata saya sekamar dengan Mba Lidya Fitrian. Blogger femes yang sering saya baca tulisannya. Akhirnya bisa ketemu juga di dunia nyata. Mba Lidya orangnya ramah. Anak mba Lidya sudah besar-besar lho, tapi mamanya masih kelihatan imut saja.


Hari kedua…

Kegiatan #temubunda2016 ini padat..dat..dat…

Pagi pukul 6 pagi, sudah harus siap sarapan, karena pagi benar harus ke Rama Shinta Resto. Awal acara ada kuis yang paling tidak sanggup saya ikuti.. “hapal nama terbanyak”. Kalau soal hapal-menghapal begini saya angkat bendera putih, memori tiba-tiba lemot kembali ke zaman dos. Teman-teman banyak yang ngacung, yang menang menyebut 18 nama kayaknya. Dapatlah dia vouchernya.
Mba Risalah Husna yang menang

Acara selanjutnya, oleh panitia kami dibagi beberapa kelompok, saya kebagian kelompok C. Tugas masing-masing kelompok membuat poster semenarik mungkin agar orang-orang tertarik membeli susu SGM. Sebelum membuat poster, kami juga harus menyiapkan yel-yel kelompok. Jadi dengan waktu yang terbatas masing-masing kelompok merancang dan latihan yel-yel, lalu mendesain, menggunting, menempel, dan merangkai kalimat poster dengan bahan seadanya. Memang ya, kalau soal ber-multitasking, emak-emak memang jagonya. Tidak sampai di situ, setiap kelompok harus mempresentasikan posternya juga lho. Presentasi teman-teman semua keren, kalau melihat penampilan mereka kamu tidak akan menyangka persiapannya sangat singkat.

Di Rama Shinta Resto ini kami juga menghabiskan waktu dengan makan siang dan foto-foto. Memang pemandangan di tempat ini keren, berlatar belakang Candi Prambanan. Kalau di saya candinya berbisik minta didekati, sayang hanya bisa memandang dari jauh. Next time ya Pram (panggilan sayang Prambanan :D)

Kunjungan pabrik Sari Husada

Kebetulan saya anak SGM, karena ibu dulu melahirkan saya saat sedang kuliah, jadi buat pengganti ASI minumnya SGM. Makanya makin semangat saya pas tahu akan ada kunjungan ke pabrik.

Kesan pertama saat ke pabrik ini…Besar, ketat. Luas pabriknya sampai 15 hektar!

Sebelum memasuki pabrik kami diberitahu aturannya seperti; tidak boleh jalan bergerombol, jalan mengikuti garis kuning, dan tidak boleh foto-foto. Tapi sebelum masuk gedung, beberapa bunda masih sempat mengabadikan momen ini.

Untuk bagian produksi yang menuntut kehiegenisan tinggi, para pekerja menggunakan baju tertutup dan helm macam astronot itu lho bund, Kata mas pemandu, bahkan baju pekerjanya pun harus di laundry khusus. Kami diajak melihat mesin satu persatu dari mulai dari proses awal sampai mesin packingnya. Dari situ kami diajak melihat gudang susu yang besarrrrrrrrrya luar biasa.

Puas melihat-lihat pabrik, kami foto-foto lagi. Pokoknya di mana ada gerombolan bunda di situ pasti ada acara jepret-jepret. Acara plant visit kelar sore, kami diantar ke resort, istirahat dan siap-siap dandan untuk acara gala dinner.

Gala Dinner

Ini acara puncak temu bunda sebenarnya. Kami dipertemukan dengan senior-senior dari batch sebelumnya. Acaranya meriah, penuh rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Sepanjang acara kami dihibur penyanyi dan host yang gokilnya luar biasa. Sepanjang malam mengocok perut, tawa benar-benar pecah malam itu. Cicilan, cucian, setrikaan terlupalah pokoknya :D

Selain makanan enak dan hiburan, malam gala dinner bertabur voucher. Ada tebak judul lagu, tebak-tebakan, atau hanya sekedar angkat tangan tiba-tiba dikasih voucher. Kejutannya lagi, poster yang team C bikin tadi siang, menang! Yey team kami dapat voucher juga 1.6 juta!

Gala Dinner temu bunda benar-benar berkesan. Hostnya benar-benar kocak. Recommended lah buat hajatan kantor atau personal. Yang berminat bisa contact duo ini di akun IGnya @jabangbayi dan @tako.mintardja

Saking serunya, acara sampai molor sampai pukul 23.00, gagallah kami ke Malioboro.

Hari ketiga

Seperti hari sebelumnya, kami diharapkan sarapan pukul 6 pagi, karena acara workshop akan dimulai lebih awal, supaya kita-kita punya kesempatan jalan-jalan. Kali ini tidak perlu naik bus lagi, workshop diadakan di restoran resort. Selama dua malam nginap di The Westlake, barulah kali ini menginjakkan kaki di restonya. Wah, ternyata di sana banyak ikan, besar-besar pula. Ada yang ditempatkan di aquarium, ada yang di kolam. Jadi spot baru lagi buat emak-emak gifo (gila foto) hihi

Workshop ini ada tantangannya lagi, peserta gabungan seluruh batch (kecuali batch 2) ditantang membuat ide kegiatan sosial. Ide kelompok saya “Fruit and vegetable goes to school” dengan target sekolah yang kami kunjungi menetapkan satu hari siswa-siswi harus membawa bekal buah dan sayur, tidak harus buah atau sayur utuh, tapi olahan kreatif masakan bundanya masing-masing. Keren ya? Sayang tidak menang :p

Di acara workshop ini, kami diperlihatkan iklan baru SGM. Iklan ini belum tayang di TV, jadi kami tidak boleh merekam, masih rahasia. Karena temanya tentang ibu, bunda-bunda yang sudah 3 hari tidak ketemu buah hati jadi pada mewek. Apalagi saat Mba Defanie minta dua orang bunda bercerita tentang ibu, sukses bikin peserta workshop banjir air mata. Setelah acara workshop, kami makan siang lagi.
makan terusss

Oh ya salah satu yang paling menonjol dari acara temu bunda adalah…acara makan-makannya. Tiap dua jam pasti disuguhi makanan, makan besar-snack-makan besar lagi-snack lagi. Habis ini mau timbang bb, entah naik berapa kilo :p

Di hari ketiga ini lagi-lagi bunda-bunda dihujani voucher dengan macam-macam pertanyaan. Ada bunda yang hapal iklan SGM anak yang di bus, tebak-tebakan, dan banyak lagi.

****

Kalau disuruh memilih satu kata untuk menggambarkan acara #temubunda2016 secara keseluruhan, saya akan memilih kata “SERU!!” sampai-sampai bikin kita susah move on dari hestek ini di medsos hihihi

Sarannya, mungkin dari sisi penyampaian informasi kepada peserta saja, selain by phone alangkah baiknya pakai email juga, supaya peserta bisa mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke acara Temu Bunda yang keren cetar membahana.

Sukses terus ya Sari Husada!!

Parepare, 19 Des 2016

 

8 Des 2016

Sehari Bersama Ayah di Pantai Tonrangeng Parepare


Acara yang kami hadiri ahad tgl 27 November 2016 “Sehari bersama Ayah, ayah yang merindukan surga” terasa istimewa. Bagaimana tidak, acara yang diselenggarakan oleh guru dan staf SDIT Bina insan Parepare ini memberikan paket komplit: ada materi parenting yang menginspirasi, games yang menyenangkan, dan acara tukar kado yang mengharu biru.
 
Sekitar 280 peserta yang terdiri dari orang tua dan murid memadati Pantai Tonrangeng pagi itu. Pantai berpasir putih yang terletak di kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat, kota Parepare ini biasanya jadi tempat rekreasi warga, tapi kali ini jadi lokasi acara kegiatan yang bertujuan  silaturahmi sekaligus me-refresh kembali hubungan ayah dan anak.

Pukul 08.00 pagi, kami yang baru datang dipersilahkan duduk di atas terpal yang disediakan oleh panitia. Rombongan kelas satu termasuk kami berkumpul di pojok kanan, paling dekat dengan air laut (untung Adek tidak ngamuk minta nyebur), kelas dua di sebelahnya, demikian seterusnya sampai mentok di terpal paling kiri yang diisi orang tua dari murid kelas lima. Semua membaur sebagai keluarga besar SDIT Bina Insan Parepare.
 
Pembukaan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Quran kemudian dilanjutkan sambutan-sambutan. Setelah pembukaan kelar, anak-anak dipersilahkan tampil di depan. Mereka memperagakan pakaian profesi sesuai cita-cita masing-masing. Ada anak memakai baju atronot, polisi, tentara, pemain sepak bola, guru, ustad, ustadzah, dan lain sebagainya. Yang paling dominan dipakai anak perempuan termasuk Naylah adalah baju dokter, sedangkan anak laki-laki banyak yang memilih jadi tentara. Saya maklum sih, selain memang kedua profesi itu yang paling populer, juga karena tempat penyewaaan umumnya menyediakan dua baju tersebut.
 
Naylah sendiri sebenarnya entah kenapa beberapa hari terakhir ini menyebut-nyebut profesi pramugari, tapi karena mamanya tidak ketemu baju pramugari yang syari’i, mau ke tukang jahit diy  waktu mepet, makanya cita-citanya dialihkan sementara ke dokter. Lagipula habis itu Naylah sempat bilang tidak mau jadi pramugari lagi, ditanya kenapa, “tidak mau tinggal di pesawat terus, nanti jatuh” kata dia :D
 
Fashion show dimulai, penonton yang tadi duduk rapi sontak berdiri, utamanya para ibu, mereka sibuk merekam dan mengambil gambar anak masing-masing. Sampai ada bapak yang nyeletuk “Ibu mundur-mundurki ini acaranya ayah”
 
Materi Parenting
 
Yang mengisi acara parenting adalah Ust. Yusuf Kholik. Pak ustaz mengatakan bahwa umumnya orang tua salah kaprah pada dua hal ini:
 
Pertama,  berharap anaknya menjadi soleh/solehah tapi tidak berusaha membaikkan diri sendiri terlebih dahulu. Ada orang tua yang merasa sudah mendidik anak dengan baik karena sudah menyekolahkan anaknya di SDIT atau menitip di TPA. Mereka menyerahkan penuh pendidikan agama anaknya pada guru di sekolah. Mereka lupa bahwa rumah adalah madrasah utama, tentu saja yang jadi teladan  adalah orang tua.
 
Kedua,  jangan sampai kita sebagai orang tua tidak paham prioritas mendidik yang sebenarnya. Misalnya menganggap tingkat kebaktian anak sebatas mau menurut kepada orang tua saja, atau tingkat kesolehan dilihat dari sholat 5 waktu saja. Padahal yang utama menurut ustaz, sangat penting mengajarkan kepada anak tentang tauhid terlebih dahulu, dan menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada yang boleh disembah selain Allah, perintahNya diikuti dan laranganNya harus dihindari.
Menyimak wejangan Ustaz
 
Sebenarnya beberapa nasihat lagi yang sempat saya catat, tapi akan kepanjangan kalau ditulis di sini, mudah-mudahan bisa diposting di blogpost yang lain.
 
Acara Lomba
 
Ini bagian serunya.
 
Anak kelas 1 dan 2 berlomba memasang kaos kaki. Anak-anak berdiri dengan mata tertutup, sementara di seberang sana para ayah duduk selonjor menanti anak masing-masing. Supaya lebih seru, posisi si anak ditukar-tukar dulu, jangan sampai berhadapan langsung dengan ayahnya. Anak-anak berjalan ke arah di mana suara ayahnya berasal. Setelah ketemu, anak akan memasangkan kaos di kaki ayahnya. Kaos kaki yang terpasang sempurna tercepat yang jadi pemenangnya.

/
Seorang ayah yang punya dua anak berbeda kelas selalu menang di lomba ini. Rupanya triknya mudah, dia menggunakan kaos kaki yang sangat longgar, jadi si anak enteng memasangnya, sedangkan peserta lain kaos kakinya masih baru, karetnya masih alot, tentu saja tidak dapat juara
Awas Abi yang tertukar :D
Kaos kaki si bapak saya pinjam, berharap mudah-mudahan Naylah bisa menang juga. Tapi ternyata jauh harapan dari kenyataan, saat giliran Naylah tiba, dia ditempatkan sangat jauh dari bapaknya, Naylah mendatangi ayah yang lain. Akhirnya bisa ditebak, kakak kalah! :D
 
Untuk anak kelas 3-5, lombanya lain lagi. Para ayah dan anak-anak bekerjasama membawa bola yang ditempatkan di atas rangkaian tali rapiah. Permainan ini memerlukan kekompakan dan kerjasama ayah dan anak, yang paling cepat sampai membawa bola dengan selamat (tidak jatuh) jadi grup pemenang.


Bagian mengharu birunya apa?
 
Jadi setelah rehat sejenak sambil menyantap bekal masing-masing, para ayah kumpul lagi. Mereka membawa kado kejutan. Rupanya para ayah pun mendapat suprised. Setiap anak juga sudah memegang surat untuk ayahnya. Ayah anak berdiri berhadapan, sembari memegang kado masing-masing. Lalu ayah disuruh membacakan harapan anak-anaknya. Pas bagian ini, saya terharu ihhh.. sepanjang acara tukar kado mata saya berkaca-kaca.
 
Anak-anak kita mungkin tidak pandai mengungkapkan keinginan dengan kata-kata secara langsung. Sayangnya kita sebagai orang tua kurang empati, melihat mereka baik-baik saja. Kita tidak peka dengan gelagat mereka sehingga tidak mengetahui keinginan anak sendiri. Anak diam, ortu tidak cari tahu, akhirnya harapan mereka hanya terpendam. Buktinya saat mereka disuruh menulis sama gurunya, semua punya harapan, bahkan ada yang sampai dua halaman :)
 
Ada anak menulis puisi yang panjang tentang kebaikan ayahnya dan mendoakannya, ada yang meminta ayahnya lebih sering menemani di rumah, ada yang ogah diantar jemput pakai ojek tapi pakai ayah dan ada yang merasa Ayah lebih sayang Adek. Malah yang paling bikin saya terharu ada anak yang sekedar pengen sholat berjamaah dengan ayahnya.
 
Naylah bagaimana?
 
Waktu buka surat si kakak, kami langsung ketawa.
 
Naylah menulis sangat singkat..
 
 “Saya berharap dibelikan….SEPEDA BARU”
 
Hahahaha
 
Saya bilang begini sama bapaknya “Bagus berarti Pa, Naylah bukan kurang kasih sayang dari bapaknya tapi kurang hadiah” hahahaa

 
Btw, nano-nano acara ini tidak berakhir sampai di situ, pas balik pulang ada bagian sedihnya juga. Kado Naylah jatuh di tengah jalan. Padahal isinya speaker Al quran supaya kakak Nay tambah semangat menghapal. Yah mau bagaimana lagi, bukan rezeki si kakak berarti. Akhirnya cuma bisa merelakan, berdoa semoga yang menemukan bisa memanfaatkannya dengan baik.
 
Overall acaranya bagus, misinya dapat. Mudah-mudahan acara ini bisa dilakukan tiap tahun.

25 Nov 2016

4 Cara Sederhana Mengurangi Dampak Global Warming

Sebagai seorang ecomom, ada baiknya kita update sama perkembangan zaman. Saya pernah membaca artikel tentang global warming. Ternyata serem juga dampak yang bisa ditimbulkan si gobal warming. Salah satu impact buruknya adalah terjadi perubahan iklim dan cuaca, gunung es akan mencair dan es yang mengapung di laut akan semakin berkurang. Ini berarti bumi terkena pemanasan global. Aduh, tidak kebayang bagaimana jadinya kalau seluruh dunia kena pemanasan global.

Walaupun cuma artikel, tapi ini benar-benar berpengaruh pada diri saya. Tiba-tiba jadi takut saja kalo apa yang saya lakukan selama ini malah menambah dampak global warming. Dari situ saya berpikir buat mengatasi global warming, minimal dari keluarga saya dulu. Ada beberapa rencana yang akan saya lakukan buat mengatasi global warming, beberapa rencana ada yang sudah berjalan sih. Berikut beberapa hal yang sudah saya lakukan sama keluarga.

1. Mengajarkan anak-anak untuk cinta lingkungan
Anak saya dua, masih kecil. Yang satu kelas satu SD yang satunya belum sekolah . PR buat saya untuk selalu menanamkan kepada mereka tentang pentingnya cinta lingkungan. Pelan-pelan memberi tahu mereka untuk mencintai lingkungan. Misalnya nih, kalo mereka lagi jajan, bungkus makanannya saya suruh buang langsung ke tempat sampah, jangan sampai di buang seenaknya. Ya pokoknya as simple as that.  

2. Memberikan contoh

Kita yang mengajak, kita yang mengajarkan, ya pasti kita juga harus ikut mempraktekan hidup cinta lingkungan buat mengatasi dampak dari global warming. Salah satu contoh kecil, saya sering keluar keluar rumah bawa tumbler sendiri, jadi tidak perlu beli air minum kemasan di luar sana. Di rumahpun saya jarang beli minuman manis kemasan,lebih sering bikin minuman sendiri, seperti jus atau es buah. Makanya saya selalu sedia buah-buahan di dalam kulkas yang punya teknologi econavi inverter, energy savingnya bisa menghemat energy dan mendinginkan lebih cepat, jadi kalau bikin jus saya jarang pakai es batu, cukup disimpan sebentar di kulkas juga dingin.

3. Kerja bakti keluarga

Kemarin sempet baca artikel tentang tips parenting di sini ecomom.co.id ternyata ya banyak juga kegiatan sederhana yang bisa kita lakukan supaya bikin si anak aktif. Salah satunya ya dengan ngajak dia bekerja bakti, kasih dia tugas-tugas kecil buat lingkungan, misal menyiram tanaman.

4. Memberikan barang-barang ramah lingkungan

Kasih mereka barang-barang ramah lingkungan, misalnya sapu tangan, tumbler dll. Biar mereka terbiasa saja sih buat lebih ramah lingkungan dengan pakai barang-barang yang bisa digunakan terus menerus, bukan barang yang sekali pakai terus dibuang, yang bikin sampah di dunia ini semakin bertambah. Kalau memang cinta lingkungan, ayok kita ajak orang-orang terdekat kita buat turut andil dalam usaha mengurangi dampak global warming. Tidak usah yang berat-berat, cukup dengan memulai dengan membuang sampah pada tempatnya. :D