20 Sep 2016

Make up Boleh Tapi...


 
Dikisahkan dua gadis bersaudara hidup di sebuah desa di pinggiran hutan. Walaupun dilahirkan oleh ibu yang sama tapi tabiat keduanya sangat berbeda, sang kakak pendengki dan jahat, sedangkan adiknya baik hati, penyayang dan dicintai oleh banyak orang. Sang kakak sangat iri dengan kecantikan adiknya, oleh karena itu segala upaya dia lakukan agar adiknya berubah menjadi buruk rupa, dia beranggapan Adiknya memiliki begitu banyak teman karena wajahnya yang molek.

Suatu hari iri sang kakak sudah mencapai ubun-ubun. Di malam buta, diam-diam dia menyelinap di bilik Adiknya, dengan sekali gunting, rambut indah sang adik dipotong. Keesokan harinya si Adik bangun mendapati rambut panjang yang dia rawat sejak dulu sekarang tinggal sejengkal. Gadis manis itu sangat sedih, dia berlari ke hutan, di sana dia meratapi rambutnya. Teman-teman hewan di hutan menghiburnya, mengatakan bahwa rambut akan panjang lagi seiring waktu, dia hanya perlu sabar menunggu, maka rambutnya akan kembali seperti sedia kala. Tapi gadis malang ini tetap bersedih, dia sangat malu bertemu orang-orang dengan kondisi rambut yang mirip laki-laki. Seekor hewan yang bijak memberi saran agar dia memakai kerudung. Jadilah Sang Adik sehari-hari memakai kerudung. Dengan kerudung, kecantikannya bukannya berkurang malah semakin bertambah.
 
Sang Kakak semakin dengki. Pada malam hari, saat Adiknya tidur dengan lelap, sang kakak mencukur habis alis saudarinya itu. Saat pagi datang, si Adik histeris mendapati alisnya sudah hilang. Kembali dia ke hutan menemui si hewan bijak untuk meminta nasihat, sekembalinya dari sana, sang Adik tampak semakin cantik dengan lukisan alis yang melengkung sempurna.
 
Cerita ini adalah sebuah dongeng yang saya baca puluhan tahun yang lalu, sudah lama sekali. Saking lamanya, saya sampai lupa nama tokoh utama dan hewan bijak penasihat sang Adik. Sama seperti cerita dongeng umumnya, tentu saja endingnya indah; yang baik hati dan cantik akhirnya dilamar pangeran dan hidup bahagia selamanya.

Di masa kecil saya banyak belajar dari dongeng, bahwa yang baik selalu diganjar dengan kebaikan, yang jahat selalu berakhir dengan kesedihan. Khusus dari dongeng di atas, saya belajar mengenal konsep make up pertama kali, saya jadi tahu bahwa kita bisa melakukan sesuatu untuk menutupi kekurangan di wajah. Seperti putri yang hilang alisnya, dia menutupinya dengan goresan arang yang menyerupai bentuk aslinya.
 
Saat umur memasuki remaja, saya tumbuh dengan wanti-wanti ibu “Jangan mencukur alis” disertai dengan penjelasan bahwa agama kita melarangnya, Allah melarang kita mengubah pemberianNya. Saya bersyukur Ibu mengajarkan hal tersebut, jika tidak mungkin saya akan punya jadwal rutin mencukur alis seumur hidup, karena alis saya selebat hutan, membuat saya tampak mirip pendekar saja :D
 
Pernah, lupa tahun berapa. Entah kenapa semua orang berubah menjadi keriting. Saya menduga memang itulah mode yang lagi ngehits, bintang filem semua berambut keriting. Tidak ketinggalan orang-orang di sekitar saya; dewasa, remaja, anak-anak semua berambut keriting. Saya yang berambut lurus menjadi aneh sendiri. Untung waktu itu bapak melarang keras saya ikut-ikutan mode tersebut. Memang benar, anak-anak perlu arahan orang tua, mana yang patut mana yang salah. Lagipula manalah saya tahu akan ada zaman catok rambut merajalela, di mana semua orang mendambakan rambut lurus seperti punya saya :D
 
Setelah melalui berapa puluh tahun hidup..tsaah, seperti teman-teman saya mengamati bahwa kecendrungan orang berubah mengikuti mode, kita tidak tahu mungkin hari ini semua orang mendambakan rambut lurus, besok kembali lagi seperti tahun 80an, orang-orang ingin ikal. Demikian juga dengan model rambut, make up, model alis, model baju, semua akan berubah. Apakah kita akan mengikuti mode, setia dengan gaya sekarang, atau menentang arus, semua tergantung pada pilihan masing-masing.
 
Menurut saya beruntung kita mempunyai agama, membatasi apa yang boleh apa yang tidak, Bolehlah kita make up, dandan, dan apa saja untuk menyenangkan diri sendiri atau menambah kepercayaan diri. Tapi… ada aturannya, ikuti aturan pencipta kita. Bagaimana menurut kamu?
 
Artikel ini untuk menanggapi tulisan Mak Lia di sini.

8 Sep 2016

Ada Pak Akli?

 
Saya baru saja diterima kerja, masih unyu-unyu tanpa pengalaman sama sekali. Ini kali pertama saya kerja di perusahan, sebelumnya hanya pernah magang 2 bulan di sebuah jasa konsultan. Saya diterima di perusahaan yang baru 3 tahun buka cabang di Parepare. Divisi sales yang saya masuki terdiri dari puluhan salesman dan beberapa supervisor serta 2 orang bagian administrasi yang mengurusi segalanya. Karena salah seorang admin baru saja resign setelah melahirkan anak pertama, sisa satu admin mengerjakan semua pekerjaan sampai karyawan baru datang. Nah sayalah karyawan pengganti tersebut.

Adalah Tanti nama senior yang membimbing waktu itu. Dia melakukan double job dalam waktu yang lumayan lama. Beliau merasa sangat lega mendapatkan teman kerja. Karena akhirnya bisa tidak lembur lagi, bisa pulang lebih cepat, dan bisa cuti. Sayang sekali belum juga komplit transfer ilmu dilakukan, Tanti sudah mengajukan cuti, saya maklum sih, dia sudah berbulan-bulan tidak menikmati waktu luang bersama anaknya. Akibatnya saya yang ditinggalkan kelimpungan.
 
Sebenarnya sebelum cuti, senior saya itu sudah menitip pesan melakukan ini itu, tapi secara teknis sebenarnya saya masih kurang cakap. Namanya baru saja lulus ya, masih kagok dengan dunia kerja yang semuanya serba cepat; ngetik harus cepat, baca cepat, dan paham harus cepat. Pokoknya ini itu harus dilakukan dengan cepat dan benar, kalau tidak akan keteteran sendiri.
 
Nah tibalah hari H teman saya itu cuti, off-nya singkat sebenarnya, kalau tidak salah 2-3 hari. Tapi saya merasa dia meninggalkan diriku seabad.
 
Kebetulan saat itu kantor berencana menambah daya listrik, seorang supervisor mengingatkan saya supaya segera menghubungi pihak terkait agar urusan menambah daya ini bisa cepat terlaksana.
 
Dengan sigap saya telepon teman yang cuti.
“Bu, kalau mau nambah daya telepon siapa ya?”
 
“Telepon Akli” jawab dia di seberang sana
 
“Nomernya berapa?”
 
“Ada di kalender, di situ ada tertulis Akli, telepon nomer itu”
 
“Terima kasih bu”
 
Segera setelah menutup telepon, saya carilah nomer yang dia maksud di kalender mejanya. Eh benar ada, di situ Akli tertulis dengan tinta merah. Segera saya memencet nomer yang tertera .Tidak butuh waktu yang lama, telepon tersambung dan diangkat oleh seorang laki-laki.
 
Saya : “Halo Pak”
 
Mas : “ ya Halo”
 
Saya : “Bisa bicara dengan Pak Akli?”
 
Mas : “Maaf bu ini kantor”
 
Saya : “Iya pak, saya tahu, bisa disambungkan dengan Pak Akli”
 
Si mas diam sejenak…
 
Mas : “Bukan bu..bukan Pak Akli”
 
Saya : “oow bukan bapak ya, kalau gitu bisa bicara dengan Bu Akli?”
 
Mas : “Di sini tidak ada Pak Akli maupun Ibu Akli bu, ini kantor!”
 
Saya : "Baiklah kalau begitu pak, terima kasih ya"
 
Saya pun kembali lagi ke kalender meja tadi sambil mikir ini sudah benar kok, tertulis Akli : 0421- sekian..sekian. Saya hubungilah teman saya untuk menyampaikan bahwa nomer yang dia catat di kalender keliru, dan menegaskan bahwa tidak ada orang yang bernama Akli di nomer itu.
 
Teman saya terbahak “Akli itu …..” kalimatnya terputus oleh tawanya yang kencang.
 
“Islah, Akli itu bukan orang tapi singkatan“
 
Hahahahaha
 
Setiap kali kami membicarakan kejadian tersebut, tawa kami akan membahana sampai terdengar di pantry. Kami menertawakan kebodohan saya yang mengira Akli nama orang. Rupanya AKLI singkatan dari Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia.
 
Sampai sekarang saya masih sering geli sendiri membayangkan ekspresi Si Mas yang menerima telepon waktu itu.
 
Itu salah satu kejadian menggelikan yang saya alami saat pertama kerja dulu, teman-teman punya pengalaman lucu? Bagi ya di kolom komentar. Hari ini pengen banyak ketawa :D

31 Agt 2016

SMSbunda: Sebuah Upaya Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

SMSbunda. Salah satu Tante mengandung anak kembar, sayang sekali anaknya lahir jauh sebelum waktunya dan meninggal. Masih jelas terbayang di ingatan saya, bagaimana dua orok dengan posisi melengkung saling berhadapan diletakkan di baskom besar. Kedua bayi sudah berbentuk sempurna sebagai manusia, dengan ari-ari, air ketuban dan darah bercampur baur di tubuh mereka. Ingatan akan mereka lumayan lama terpatri di kepala dan menghantui mimpi-mimpi saya di malam hari.

Beberapa tahun setelahnya Tante tersebut hamil lagi. Tidak ada masalah yang berarti saat hamil. Ketika tanda akan melahirkan mulai muncul, Tante dibawa ke rumah sakit terdekat. Saya tidak tahu pasti ada masalah apa, yang jelas Tante kemudian dirujuk ke rumah sakit di Makassar. Di tengah perjalanan ke rumah sakit, keadaannya memburuk, tiba-tiba beliau mengucapkan pesan kepada suami agar menjaga ibunya sepeninggalnya nanti. Seusai mengucapkan pesan terakhir tersebut Tante saya menutup mata selamanya.

Kematian Tante sungguh indah, Insya Allah syahid, karena meninggal saat berjuang melahirkan. Sungguh banyak orang yang melayat, puji-pujian tak berhenti mengalir dari bibir mereka yang datang, betapa mereka mengenang Tante saya sebagai pribadi yang baik hati dan murah senyum.

Keluarga tidak bisa menahan air mata, melihat anak bungsu almarhumah, duduk tenang di pangkuan neneknya. Dia masih balita, belum mengerti bahwa ibu yang sepanjang hari bersamanya kemarin, tidak akan ada lagi selamanya.

Masih menyangkut kematian ibu hamil, beberapa bulan lalu teman saya bercerita. Sepupunya yang sedang hamil tua meninggal dunia, penyebabnya karena sang ibu terkena penyakit cacar yang sangat parah. Saking beratnya penyakit tersebut, sampai-sampai sudah menjangkiti organ dalamnya. Kata teman saya lagi, sepupunya itu meninggalkan 3 anak yang semuanya masih kecil-kecil.

Memang dari semua, yang paling merasakan penderitaan akibat kematian ibu adalah anak-anaknya. Masih untung jika ada kerabat dekat yang mengasuh mereka, seperti nenek, tante atau kakak yang sudah dewasa. Salah satu dari kerabat tersebut bisa mengambil alih fungsi ibu, merawat dan membesarkan anak malang yang ditinggal mati ibu tercinta.

Kematian karena melahirkan seperti yang dialami Tante dan sepupu teman pada cerita di atas sangat banyak terjadi di Indonesia. Karena tingginya tingkat kematian ibu hamil, sampai-sampai Indonesia mendapat predikat sebagai negara dengan tingkat kematian ibu hamil tertinggi se Asia Tenggara. Tercatat 2 orang ibu hamil meninggal setiap hari, itu baru di Jawa tengah saja. Jika ditotalkan, di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 9.600 ibu meninggal karena gangguan kehamilan dan melahirkan, sedangkan kematian bayi mencapai 66.000 dalam kurun waktu satu tahun saja.

Penyebab angka kematian ibu melahirkan terjadi karena bermacam-macam sebab, namun tiga penyebab utamanya adalah karena pendarahan, hipertensi dan Infeksi. Sebenarnya semua ganguan kehamilan bisa diatasi jika dideteksi dan ditangani sejak dini. Sayangnya banyak ibu hamil tidak memperhatikan gejalanya. Atau bisa jadi mereka sadar, tapi karena minim pengetahuan makanya tanda bahaya kurang cepat ditangani. Belum lagi jika ibu-ibu hamil berasal dari kelurga kurang mampu, seringkali mereka mengesampingkan kontrol rutin ke bidan atau puskesmas terdekat. Mereka lebih banyak menggunakan waktu mencari nafkah atau kegiatan lain yang bernilai ekonomi.

SMSbunda

Dengan latar belakang tingginya angka kematian ibu dan bayi tersebut, Jhpiegoo dengan dukungan GE Foundation mengembangkan pelayanan berbasis sms. Targetnya adalah para ibu hamil, ibu yang baru saja melahirkan, dan mereka yang jarang bersentuhan dengan pelayanan kesehatan. Tujuannya sangat mulia, agar semua ibu hamil di berbagai lapisan masyarakat bisa mendapatkan layanan informasi mengenai kehamilan, paska melahirkan dan tata cara pengasuhan bayi sampai berumur 2 tahun.
SMSbunda akan mengirimkan informasi kepada ibu langsung ke telepon genggamnya. Informasinya tentu saja dapat dipercaya, berisi informasi tentang kehamilan dan masa nifas, serta bagaimana menangani anak baru lahir. SMSbunda juga mendorong para ibu untuk selalu terhubung dengan sistem kesehatan. Usaha promotif dan preventif tentang pencegahan kematian akibat kehamilan dan melahirkan serta tata cara pengasuhan anak baru lahir lewat sms adalah ide yang brilian, patut diacungi jempol. Seperti kita tahu bersama, Indonesia adalah negara berpenduduk terbanyak ke 4 di dunia, handphone hampir dimiliki oleh semua kalangan. Sekitar 308.2 juta rakyat Indonesia sudah memiliki telepon genggam.

Di kota saya menetap, Parepare, usaha mensosialisasikan SMSbunda sudah dilakukan sejak sekitar 4-5 bulan. Poster-poster ajakan menggunakan layanan SMSbunda sudah banyak dipajang di puskesmas dan di rumah sakit, penggunanya pun sudah lumayan banyak.
Bagaimana cara mendapatkan layanan SMSbunda?
Sejak mengetahui tentang SMSbunda, saya langsung menyarankan kepada teman-teman yang sedang mengandung untuk segera mendaftar. Caranya mudah, cukup sms dengan cara, ketik SMSbunda dan kirim ke nomer 08118469468, kita akan segera mendapatkan balasan dari SMSbunda. Selanjutnya kita cukup membalas sms tersebut dengan menjawab data yang diminta, antara lain: tanggal perkiraan bayi lahir dan kota tempat tinggal.


Contoh sms melalui SMSbunda
Sesederhana itu. Ibu hamil akan resmi tercatat sebagai ibu yang akan mendapatkan informasi berkala, antara lain tentang apa saja tanda-tanda bahaya kehamilan, asupan gizi apa yang seharusnya dikonsumsi ibu hamil, mengingatkan jadwal kontrol rutin, dan pesan-pesan lain seputar perawatan kehamilan. Tidak hanya sampai di situ, SMSbunda akan mengawal ibu-ibu sampai melahirkan dan mengasuh anak mereka sampai berumur 2 tahun. Keren kan?

Bagaimana biaya smsnya?
Jangan khawatir, ibu-ibu hanya dikenakan biaya sms dengan tarif normal saat pendaftaran saja. Selanjutnya sms yang diterima gratis sampai anak berumur 2 tahun.

Implementasi dan saran-saran

Dalam sebuah wawancara, beberapa staf KIA puskesmas di Parepare mengakui bahwa mereka sangat terbantu dengan adanya SMSbunda ini. Setelah implementasi SMSbunda, para ibu hamil yang berkunjung memiliki lebih banyak pertanyaan terkait kehamilan daripada sebelumnya.

Bidan Nursanti Ramli, salah seorang bidan kordinator di Puskesmas Lakessi Kota Parepare mengatakan bahwa SMSbunda sangat bermanfaat, membantu tugas mereka menyampaikan informasi kepada pasien. Info yang ibu hamil dapatkan dari SMSbunda, bisa dikonsultasikan lebih lanjut saat kunjungan ke puskesmas atau bidan. Demikian pula sebaliknya apa yang terlupakan oleh bidan bisa didapatkan infonya dari SMSbunda.

Karena masih baru, masih ada saja hal yang terasa perlu perbaikan, penulis menghimpun masukan dari berbagai sumber baik dari pengguna maupun dari staf rumah sakit dan puskesmas yang banyak bersentuhan dengan layanan ini, antara lain:

1. SMS masih satu arah

Ibu hamil hanya menerima informasi melalui sms masuk. Semoga kedepannya sms bisa diaplikasikan 2 arah. Karena manusia adalah makhluk yang unik. Kebutuhan dan masalah yang dihadapi setiap ibu hamil berbeda-beda. Alangkah baiknya jika pendaftar bisa mengajukan pertanyaan dan mendapat balasan lewat sms. Tentu saja dengan tidak lupa mengingatkan ibu hamil agar segera mengkonsultasikan masalahnya kepada bidan atau dokter terdekat.

2. Lebih meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat

Jika tadinya SMSbunda sudah disosialisasikan lewat radio, TV, internet dan media sosial, sebaiknya metode sosialisasi ditambah, dengan cara yang langsung menyentuh masyarakat umum, seperti lewat masjid-masjid, gereja, atau tempat perkumpulan-perkumpulan warga yang lain.

3. Konten sms ditambah

Edukasi yang disampaikan melalu sms dibuat lebih banyak dan lebih sering jika membahas masalah-masalah kehamilan dan merawat bayi, utamanya lebih detail menginformasikan tanda-tanda bahaya kehamilan.

4. Dibuat sebuah aplikasi SMSbunda untuk android yang user friendly.

Seperti kata orang bijak “Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Mari kita mengajak saudari, tetangga, dan masyarakat sekitar kita agar menggunakan layanan SMSbunda, agar informasi yang mereka dapatkan bisa menjadi langkah awal tindakan preventif agar kehamilan bisa berjalan lancar sampai melahirkan.

30 Agt 2016

POLIGAMI


poligami

Seorang teman memperlihatkan foto wanita dari handphone-nya, sesosok perempuan cantik berkerudung biru bernuangsa lembut sedang tersenyum. Dia manis, kulitnya putih bersih, mata besarnya dihiasi maskara dan celak yang dipoles rapi, membuat bulu matanya semakin terlihat lentik. Senyumnya boleh dikata menawan, kedua pipinya berlesung kembar.

“Siapa ini?”

“Dia istri kedua suamimu”

Gemuruh jantungku mengalahkan ombak laut di musim barat. Aku jatuh terkulai.

Kenapa… Kenapa!!!

Aku berteriak bertanya kepada angin, tak ada suamiku yang bisa kutanyakan kebenaran.
Orang-orang mulai berbisik, memandang dengan kasihan.

“Padahal mereka kelihatan bahagia ya”

“Iya, coba lihat foto-foto di media sosialnya, selalu berdua kemana-mana”

Aku menunduk, menyembunyikan duka dan malu. Teman yang tadi memberi kabar merangkulku. Aku membalasnya dengan rangkulan lebih erat, membasahi kerudungnya dengan air mata yang menganak sungai.

Bagaimana rasanya berada di posisi wanita yang berduka di atas? Saya merasakannya kemarin malam, untungnya itu hanya mimpi. Saat terbangun, saya bersyukur mendapati suami sedang tertidur pulas. Tidak terbayangkan kalau hal itu terjadi di dunia nyata. Aduh jangan sampai ya.

Perkara suami mendua sudah menjadi hal yang lumrah di zaman sekarang. Sebuah seminar yang pernah saya ikuti pernah membahas soal ini “Perselingkuhan lebih banyak dipicu oleh gadget” kata narasumbernya.

Benar juga, apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh gadget? kabar seseorang di ujung dunia atau di benua lain pun bisa kamu lacak dengan sentuhan jempol saja. Seseorang yang pernah mengisi hati dan sudah hilang di ingatan tiba-tiba foto-fotonya berseliweran di wall facebook-mu dengan gaya yang menawan, sedang jomblo pula. Mungkin awalnya hanya sekedar menyapa, menanyakan kabar dan basa basi lainnya, tapi setan tak pernah luput menggoda manusia, bahkan di dunia maya sekalipun.

Poligami selalu menyisakan sesak. Istri-istri nabi Muhammad saw yang dijuluki ummul mukminin saja masih selalu cemburu setiap kali Rasulullah menikah lagi, sampai-sampai Tuhan pun beberapa kali campur tangan dengan menurunkan wahyu sehubungan dengan kelakuan mereka.

Hafsah cemburu kepada Mariya. Mariya adalah salah satu istri nabi Muhammad yang berparas cantik, Rasulullah sangat mengaguminya, sampai-sampai membuatkan rumah yang memiliki taman untuk dia. karena kecemburuan Hafsah itu membuat Rasulullah bersumpah tidak akan menyentuh Mariya lagi. Allah swt kemudian menurunkan ayat menegur RasulNya kenapa mengharamkan apa yang sudah Tuhan halalkan baginya.

Lain waktu, istri-istri nabi yang muda yaitu Aisyah dan Hafsah juga pernah mengerjai mempelai baru nabi di hari pernikahannya. Mereka membujuk Asma agar mengatakan kalimat yang ternyata merujuk kepada perceraian. Padahal kalimat tersebut tidak dipahami oleh Asma. Akibatnya pengantin perempuan yang malang itu dikembalikan kepada orang tuanya.

Demikian pekanya perasaan perempuan kalau harus berbagi suami, juga berlaku pada istri-istri junjungan kita Muhammad Saw. Soal perasaan perempuan yang tersakiti karena poligami pernah dipertegas nabi Muhammad Saw. Dalam suatu riwayat, saat beberapa Bani Hasyim bin al-Mughirah menawarkan istri baru untuk Ali bin Abi Thalib ra, suami Fatimah. Nabiyullah sampai naik ke mimbar berseru kalau Ali Bin Abi Thalib ra sampai menikah lagi, maka itu seperti menyakiti hati rasulullah sendiri. “Ketahuilah putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga”

Itu di zaman lampau, yang ceritanya kita ketahui dari membaca kisah dan hadist, di masa sekarang bagaimana? Masalah suami berpoligami juga pernah menimpa Teh Ninih. Awalnya Teh Ninih mau membagi suaminya dengan Teh Rini, tapi sempat minta cerai juga kan dari AA Gym. Walaupun akhirnya Alhamdulillah mau rujuk kembali. Nah Teh Ninih saja yang berwajah teduh dan taatnya subhanallah tidak tahan dimadu, apalagi saya yang imannya masih kayak memompa ban sepeda, kembang kempes.

Makanya ketika suatu hari beberapa teman iseng menanyakan pendapat saya soal poligami

“Kamu mau berbagi suami? dapat surga lho”

Dengan pertimbangan jumlah perempuan yang tidak sebanding dengan laki-laki, logika berbagi suami memang masuk akal.
Alih-alih saya menjawab IYA, malah menjawab
“Benar saya mau surga, tapi bukan lewat pintu itu”

Seperti sabda Rasulullah “Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya maka dikatakan kepada wanita tersebut : “Masuklah ke surga dari pintu mana saja sesuai yang engkau kehendaki.”

Mudah-mudahan kita semua jadi salah satu wanita di hadist itu ya. Amin

25 Agt 2016

Banyak Drama Ketika Menyusui

 
 
 

Banyak drama ketika menyusui. Sangat disayangkan, Naylah, anak pertama saya tidak mendapatkan ASI exclusive. Bagaimanapun saya membuat pemakluman, tetap saja tidak mampu menghapus perasaan bersalah saya sebagai ibu yang lalai. Saya menyesali diri kenapa di umur yang bisa dibilang sudah matang waktu itu, tidak membekali diri dengan ilmu yang cukup tentang ASI. Begitulah penyesalan, selalu datang belakangan.

Dua tahun kemudian, ketika dipercayai hamil lagi oleh Allah, saya bertekad tidak akan mengulang kesalahan yang sama, saya harus mempersiapkan diri dengan lebih baik. Adek Ayyan lahir saat kakaknya berumur 3 tahun, dengan berat badan 3.2 kg. Tidak Seperti proses persalinan kakaknya, kelahiran adek Ayyan terbilang cepat. Tidak ada drama tali pusar terlilit di leher. Memang banyak yang bilang persalinan anak kedua selalu lebih mudah karena jalan lahirnya sudah terbuka. Walaupun demikian, sakitnya melahirkan baik yang pertama maupun yang kedua sama-sama luar biasa dahsyat…sakittttt. Jadi tak salah ungkapan orang tua kita, ketika ibu melahirkan sebelah kakinya menjejak bumi, sebelahnya lagi menjejak kubur.

Adek Ayyan nongol ke dunia langsung mengisap kolostrum dengan lahap. Alhamdulillah air ASI saya juga mengucur dengan deras. Duh bahagianya waktu itu. Sakit dan lelah karena melahirkan langsung sirna. Rasanya tak terlukiskan menimang bayi mungil dengan mulut yang masih beraroma surga.

Anggapan bahwa bayi laki-laki lebih kuat nenen daripada bayi perempuan ternyata benar. Adek sebentar-sebentar minta minum. Bahkan saat dia tidur pun harus sambil nenen, jadi saya harus berbaring miring agar dia nyaman menyusui. Kebiasaan tidur Adek ini berlangsung cukup lama, sampai-sampai saya lupa bagaimana rasanya tidur dengan telentang. Di periode itu, adek tumbuh dengan pesat, berat badannya tiap bulan bertambah di atas rata-rata, Adek gemuk dan menggemaskan.

Memasuki bulan ke-2 umur Adek, Kakak Naylah terkena cacar air. Cacar kakak tidak parah sebenarnya, hanya beberapa biji. Sembuhnya pun lumayan cepat, tidak sampai seminggu. Tapi sakit kakak ini menulari mamanya. Mungkin karena kondisi fisik saya yang lemah akibat kurang tidur, cacar yang saya derita lumayan parah.

Cacar adalah penyakit yang menakutkan, awalnya hanya ruam kecil, setelah beberapa hari ruam itu bermetamorfosis menjadi lenting-lenting yang berisi cairan. Virus cacar juga tidak akan berhenti jika belum menyerang seluruh badan.

Saya sangat khawatir dengan Adek Ayyan. Saban hari dia tidak pernah berpisah dengan emaknya, lagipula sumber makanan dia satu-satunya hanyalah dari ASI. Dokter yang kami temui mengatakan bahwa kami tidak perlu cemas karena bayi baru lahir memiliki pertahanan anti bakteri yang terbentuk saat berada dalam rahim ibunya. Dari penjelasan dokter tersebut saya memberanikan diri tetap menyusui Adek.

Qadarullah, Adek tertular cacar. Bisa dibayangkan bayi terkena cacar rewelnya bagaimana. Jangankan bayi, orang dewasa saja kalau terkena penyakit ini rasanya mau gila saking gatalnya. Apalagi cacar tidak boleh digaruk, semakin digaruk akan semakin parah. Rambut serasa berdiri menahan gatal. Adek menjadi luar biasa rewel. Dia jadi sering menangis minta digendong setiap saat. Saking rewelnya, saya bahkan harus menyusui Adek sambil berdiri, duduk sekejap saja dia langsung menangis. Padahal saat itu kondisi saya sangat lemah. Sekitar 2-3 minggu penderitaan itu berlangsung, akhirnya cacar kami mengering.

Drama cacar pun berlalu, tidak terasa jatah cuti melahirkan habis. Tiba saatnya saya harus kembali ke kantor. Adek pelan-pelan saya ajari memakai dot, di sinilah masalah mulai timbul. Tak terhitung merk dot yang saya beli, semua ditolak Adek Ayyan. Padahal tahu sendiri kan bu ibu, dot-dot untuk baby born kan lebih premium. Terpaksa saat saya di kantor, Adek diberi ASI menggunakan sendok. Cara ini cukup membantu, tapi sayang jumlahnya tidak sebanyak jika Adek menyusu langsung. Akibatnya, berat badan adek menurun dratis . Aduh sedihnya waktu itu, rasanya ingin resign saja. Untunglah penolakan Adek pada dot tidak berlangsung lama, Adek akhirnya menyukai dot merk chicco yang saya beli dari online shop.

Saya semakin semangat 45 memerah ASI di kantor. Memerah ASI juga ada dramanya. Saya tidak boleh stress atau sedih, kalau banyak pikiran ASI akan sangat berkurang bahkan bisa macet. Sebisa mungkin saya harus santai. Biasanya membayangkan wajah Adek yang menggemaskan membuat ASInya keluar deras.

Beberapa bulan sejak menyusui Adek, tiba-tiba muncul benjolan di payudara kanan. Buru-buru suami mengantar saya ke dokter. Dokter Kamaruddin (sekarang sudah almarhum) menyarankan sebaiknya benjolan tersebut diangkat. Tapi saya dan suami memutuskan akan mengikuti saran dokter setelah Adek lulus ASI semerter pertama . Pertimbangannya saat itu Adek sudah bisa diberi makanan tambahan seperti buah atau bubur.

Di umur Adek yang ke 7 bulan, akhirnya saya dioperasi. Karena pengangkatan benjolan termasuk operasi ringan, saya menginap di rumah sakit satu hari saja. Adek ditinggal di rumah dengan beberapa botol ASIP yang sudah saya siapkan beberapa hari sebelumnya.

Ternyata proses penyembuhan pasca operasi berlangsung cukup lama. Pasalnya luka bekas operasi menjadi jalan keluar ASI. Karena derasnya ASI yang mengucur dari bekas luka tersebut, dokter sampai memasang semacam kateter untuk menampung ASInya yang sudah bercampur dengan darah. Walhasil karena selalu basah, terjadilah infeksi. Untunglah seiring waktu, luka tersebut akhirnya sembuh juga.

Di luar dugaan, hanya beberapa lama setelah operasi, muncul benjolan baru di tempat yang sama. Dokter mengatakan, benih benjolan itu tidak terlihat waktu operasi, seandainya iya bisa langsung diangkat sekalian. Saya memutuskan menunda operasi beberapa bulan lagi.

Seiring perkembangannya, gigi Adek mulai tumbuh. Mungkin karena gusinya gatal, Adek sering sekali menggigit. Semua barang-barang yang dia pegang digigitnya. Saat menyusu juga demikian, duh rasanya puting hampir putus saja, sakitnya luar biasa. Saya menyusui dengan air mata mengalir saking perihnya. Lama-lama saya tidak tahan lagi, jadi saya biarkan Adek menyusu di payudara kanan saja. Karena jarang dipakai otomatis payudara kiri tidak pernah kosong. Bodohnya lagi waktu itu tidak pernah kepikiran memompanya. Kebiasaan buruk ini akhirnya menimbulkan penyakit baru, ditandai dengan munculnya benjolan di ketiak kiri.

Benjolan kali ini berbeda, sakit jika disentuh. Selain itu membuat saya demam berhari-hari. Leukosit naik dratis, mengindikasikan dalam tubuh ada infeksi akut. Saya sampai harus ke ibukota propensi untuk konsultasi kepada dokter ahli. Oleh dokter saya diberi obat penghenti ASI agar bengkak di ketiak mereda. Sedihnya waktu itu, karena Adek masih berumur 1 tahun 4 bulan, seharusnya 8 bulan lagi dia menikmati air susu ibunya.

Bagaimanapun saya tetap bersyukur dengan segala macam drama dan keterbatasan, saya tetap diberi semangat berikhtiar memberikan Adek yang terbaik. Alhamdulillah berkat ASI, Adek jarang sakit. Ke rumah sakit saat cacar itu saja. Adek juga tidak sering demam. Sekarang Adek sudah berumur 3 tahun, sangat hobi lari dan lompat. Mungkin karena sangat suka bergerak, badannya susah gemuk. Walau berbadan imut, Adek sangat bangga dengan betisnya. Setiap saat dia selalu memuji betisnya yang berotot.
Itu pengalaman saya menyusui, pengalaman bunda bagaimana?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway ASI & Segala Cerita Tentangnya yang diselenggarakan oleh Dunia Biza dalam rangka menyemarakkan Pekan ASI Dunia.

Giveaway ASI & Segala Cerita Tentangnya

22 Agt 2016

Full day School? Yes or No?

full-day-school-yes-or-no
Jika disuruh mengulang masa-masa sekolah, tentu saja saya menolak. Pergi pagi, pulang siang, dengan setumpuk oleh-oleh PR yang harus disetor besok adalah makanan sehari-hari siswa. Bukan 1-2 pekerjaan rumah, tapi hampir di semua mata pelajaran. Kadangkala saya bingung memilah mengerjakan yang mana, PR dulu atau belajar untuk ujian keesokan harinya.

Contohnya begini, dalam satu hari: Guru matematika memberikan 10 nomer pekerjaan rumah, guru Bahasa menyuruh membuat karangan satu halaman, dan guru Fisika bilang “besok kita ujian”

Rasanya jika sudah begini, kepala seperti akan terbelah.

Tapi dari semua, yang paling menakutkan adalah ulangan harian Fisika. Saya sangat lemah di bidang studi ini. Nilai tertinggi paling banter dapat 5, apalagi gurunya ketat memberikan nilai. Walaupun turunan rumus yang kami buat sepanjang tol, kalau hasil akhirnya salah poin yang didapatkan nyaris nol. Saya pernah bertekad dapat nilai yang lebih baik, penasaran juga kok dapat merah terus, jadilah saya belajar mati-matian sampai tengah malam, ternyata hasilnya tetap sama. Akhirnya saya menyerah, menerima kenyataan bahwa fisika tidak menyukai diriku dan demikian pula sebaliknya :D

Kadangkala, demikian banyaknya PR, saya dan gank langsung ke rumah teman belajar kelompok. Biasanya di rumah Nina yang mamanya terbaik sedunia. Jika ke sana seringkali sop ubi mengepul sudah menanti kami yang memang sudah kelaparan. Biasanya kami menyeret Mamat. Dia sangat cerdas dalam ilmu eksakta, dialah yang selalu mengajari kami. Mamat sangat baik, rajin mengingatkan kami sholat. Dan satu lagi, dia naksir berat sama Nina hahaha.(Namanya pakai samaran ya, takut ada yang protes)

Kalau sudah belajar kelompok begini, penderitaan sedikit berkurang, malam harinya diisi mengerjakan PR yang lain, atau mempelajari bahan ujian untuk keesokan harinya. Kalau mengingat penderitaan zaman sekolah dulu, saya kadang heran sendiri, kok bisa saya melaluinya sampai bertahun-tahun tanpa kepala bocor karena over load *Maaflebay

Pada tahun pertama sekolah di SMU, saya sempat merasakan full day school, walaupun waktu itu tidak begitu lama karena kebijakan masih dalam tahap percobaan. Tak jarang saya harus membawa bekal supaya lebih irit. Maklum untuk balik lagi ke rumah rasanya lebih merepotkan. Jalanan menuju rumah menanjak dan lumayan jauh, jika dikombinasikan dengan rasa lapar dan sengatan matahari yang tepat di atas ubun-ubun, pulang makan siang adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan.

Untungnya zaman SMU memang masa entah kenapa sepertinya persoalan hidup tidak ada. Secapek apapun, menjalani keseharian tetap terasa enteng. Tidak ada cicilan, tidak ada tagihan listrik. Seputar kepala kita, palingan tentang berat badan. Selalu ada praduga; setiap kali selesai ngebakso berat badan pasti naik sekilo. Kami selalu belok ke ruang UKS pinjam timbangan sepulang dari kantin. Atau seputar ini: memikirkan surat-surat cinta pacar di kota sebelah yang semakin lama semakin pendek, dan akhirnya terhenti sama sekali.

Eh sepertinya saya sudah sangat melenceng dari topik ya, padahal inti tulisan saya kali ini adalah menanggapi tulisan mak Yuniarti Nukti tentang full day school yang diwacanakan pak menteri baru-baru ini. Tulisannya bisa dibaca di sini.

Apa sih Full day school itu?

Sekolah full day artinya siswa/siswi berada di sekolah dari pagi sampai sore. Salah satu pertimbanganmnya adalah karena banyak kaum ibu yang tidak full time di rumah, tapi kerja di luar sampai sore. Diharapkan anak-anak sepulang dari sekolah tidak menjadi liar tanpa pengawasan orang tua. Anak-anak bisa lebih terkontrol di sekolah dengan pelajaran tambahan dari gurunya. Kan asyik, pas anaknya pulang, ibu bapaknya juga sudah di rumah.

Kira-kira begitulah tujuan konsep ini. Apakah saya setuju?

Bisa ya dan bisa tidak.

Saya tidak menyarankan full day school apabila diterapkan di sekolah umum seperti tempat saya sekolah dulu. Saya tidak tahu pasti sistem pendidikan sekolah menengah sekarang bagaimana, apakah masih banyak tugas dan PR, tapi jika demikian, sekolah full day akan menjadi neraka bagi anak-anak. Bayangkan saja, sekolah menyita hampir semua waktu, mulai dari pagi sampai sore. Pulang ke rumah pun demikian, PR-PR harus segera dikerjakan dan akan menyita waktu anak-anak di malam hari. Jadi tujuan untuk merekatkan hubungan orang tua dan anak setiba di rumah tidak tercapai.

Saya setuju untuk full day school, tapi jangan diterapkan sapu rata.

Untuk sekolah seperti tempat Naylah belajar sekarang, saya merelakan dengan ikhlas anak saya menghabiskan waktunya dari pagi sampai sore di sana.

Anak saya sekolah di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu). Sekolahnya terbilang masih baru, belum punya lulusan dengan siswa tingkat tertinggi duduk di kelas 5. Ini tahun pertama Naylah belajar di sekolah itu, sehingga jam pulangnya masih cepat, pukul 2 siang, tapi kakak-kakak kelasnya yang lain belajar sampai sore.

Pelajaran di SDIT subhanallah sekali. Sampai-sampai saya sempat menyesali diri telah menghabiskan masa kecil di desa tanpa sekolah sejenis.

Setiba di sekolah, anak-anak harus sholat dhuha berjamaah terlebih dahulu. Mau tidak mau Naylah harus ikut. Sholatnya dilakukan dengan bacaan yang kencang, baik bacaan surah-surah maupun bacaan-bacaan sholat yang lain, seperti bacaan saat rukuk, sujud, dll. Jadi anak-anak terbiasa dengan bacaan sholat tanpa sengaja menyuruh mereka menghapalnya.
full-day-school-yes-or-no
Anak SDIT sholat dhuha sebelum kelas eskul dimulai
Anak-anak hiperaktif yang suka ribut di kelas, diberi waktu sejenak sebelum pelajaran dimulai. Mereka dibiarkan ribut dan memukul meja sesukanya dengan syarat jika sudah waktunya belajar mereka harus mengikuti pelajaran dengan tenang.

Aduh, zaman saya sekolah saya dulu, memukul meja bukannya dibiarkan, malah dijewer.

Di sini, anak saya lebih banyak belajar etika, tata karma dan bagaimana akhlak yang mulia, bukannya fokus mengejar nilai harus tinggi. Anak-anak juga dibiasakan dengan sistem pemberian bintang. Murid yang diberi bintang bukan yang mampu menjawab dengan benar, tapi mereka yang berani mengajukan diri untuk menjawab. Bintang juga didapatkan oleh anak yang berkelakuan baik, seperti mau berbagi bekal dengan temannya, memungut sampah tanpa diminta, sholat dengan khusuk dll. Bintang yang dikumpulkan anak-anak dihitung setiap jumat, anak yang memiliki sepuluh bintang atau lebih akan diberi penghargaan berupa bintang emas dan hadiah.
full-day-school-yes-or-no
Siswa-siswi kelas Abu Bakar 
Naylah selalu melapor soal bintang ini tanpa diminta, kata dia bintang terbanyak dia dapatkan karena selalu patuh perintah Bunda untuk tidur siang.

Jadi di sekolah, setelah melakukan aktivitas, anak-anak dibiarkan tidur pada pukul 11 sampai menjelang sholat dhuhur. Ini bukannya tidak beralasan, anak-anak akan menjalani aktivitas sampai pukul 4 sore, sementara mereka sudah bangun sejak subuh, jika tidak tidur siang, bisa dipastikan mereka kesulitan menerima pelajaran dengan baik karena lelah dan mengantuk.

Selama kurang lebih 2 bulan sekolah, Naylah belum pernah dapat PR. Waktu tes masuk dulu, gurunya sempat mengsosialisasikan hal ini, PR akan sangat jarang diberikan kepada siswa, karena itu tadi, anak-anak butuh istrirahat dan bermain di rumah.

Bagusnya lagi sekolah hanya berlangsung 5 hari, adapun hari sabtunya diisi dengan kegiatan ekstra kurikuler selama 3 jam saja, eskulnya terdiri dari beberapa pilihan antara lain karate, tahfidz, dan pidato. Naylah sendiri saya pilihkan eskul tahfidz, supaya kelak jika lulus di SDIT dia bisa hapal minimal 3 juz Al Quran. Aminnnn *aminkan yang kencang ya.

Karena hanya 5 hari sekolah, saya bisa punya 2 hari berkualitas bersama Naylah di rumah.

Sepertinya membahas postingan tentang SDIT tempat Naylah belajar akan panjang jika dibahas semua, mungkin akan saya tulis di blog post yang lain.

Tapi intinya begitu, saya setuju dengan tanggapan ibu Menteri Sosial Khofifa Indar Parawansa bahwa wacana full day school  diterapkan sebagai program nasional harus melihat kesiapan dan daya dukung sekolah.  Jadi dilihat sekolahnya dulu. Apakah fasilitas sekolah sudah siap, terutama lingkungannya harus ramah siswa; tersedia cukup guru untuk mengawasi kegiatan anak-anak, no bullying, pelajaran ditransfer dengan tidak membosankan, PR diminimalkan, dan yang terpenting pendidikan karakter dan akhlak yang diutamakan.

Saat itulah sekolah layak menerapkan full day school.

Bagaimana pendapat teman-teman?

19 Agt 2016

Zaman Sudah Berubah

Gerak-jalan-bencong

Dalam Bahasa Bugis bencong disebut calabai, sedangkan kaum lesbian dinamakan calalai. Ada pula golongan lain yang digelari Bissu, tapi menurut beberapa peneliti, Bissu tidak dianggap sebagai waria, karena pakaiannya tidak meniru gender apapun. Samar-samar saya mengingat pernah melihat Bissu ini, biasanya mereka ada saat acara adat, penampilan agak berbeda dari laki-laki kebanyakan, dan tampaknya memang lebih gemulai. Bissu seingat saya dihormati karena memiliki kemampuan supranatural. Di zaman sekarang Bissu yang dipercayai sebagai perantara manusia dan dewa ini hampir tidak bersisa lagi, satu dua mungkin masih ada, tapi keberadaannya hanya sebagai sisa sejarah adat saja.

Kembali ke topik mengenai bencong, jaman saya masih imut. Di desa, manusianya lurus-lurus saja, semua tampak normal. Laki-laki ya memakai celana, perempuannya memakai rok atau sarung. Sekelurahan tidak ada bencong sama sekali, kecuali seorang pendatang bernama Susi. Dialah satu-satunya bencong yang saya tahu namanya. Susi biduan kampung yang cukup top waktu itu, dia pandai bernyanyi dan suaranya merdu. Karena rumah tempat Susi sering nginap tidak terlalu jauh dari kediaman kami, saya pernah beberapakali diajak teman-teman sepermainan mengintip dia sholat. Kalau lagi mujur kami melihatnya sholat memakai sarung dan kopiah, wujud aslinya di hadapan Tuhan sangat berbeda ketika berada di atas panggung.

Selain Susi dan para pekerja salon di kota kabupaten, boleh dikata saya jarang berinteraksi dengan bencong. Sampai suatu ketika kami dikagetkan dengan sebuah berita.
Fadil menjadi bencong!

Di suatu acara pernikahan keluarga, salah satu kerabat digunjingkan oleh ibu-ibu. Saya yang masih kecil ikut mendengar. Fadil (samaran) remaja jebolan pesantren menjadi bencong. Saya mengenal Fadil, tapi kami tidak begitu dekat. Saya tahu dia karena beberapa kali melihatnya di acara keluarga. Anaknya pendiam, berambut klimis, dengan kulit yang lumayan putih. Dia memang lebih rupawan dibandingkan teman-temannya.

Berita memalukan itu dikonfirmasikan langsung oleh seorang tantenya yang tahu persis asal mula Fadil bermetamorfosis jadi bencong. Penjelasan si tante agak mistis dan mencengangkan, setidaknya bagi saya yang masih kanak-kanak kala itu.

“Dia tiba-tiba berubah setelah dikasih makan bencong” kata si tante dengan nada horror.

Para ibu yang menyimak bergidik ngeri. Si Tante melanjutkan ceritanya sambil mewanti-wanti pendengarnya agar menjaga anak-anak jangan sampai diculik bencong.

“Kalau sudah tinggal di rumah bencong, aihh tunggumi…!”

Mama Fadil sangat malu dengan kenyataan ini. Mungkin karena itulah saya tidak pernah melihat Fadil lagi, dia membuang diri, tidak pernah muncul di acara keluarga. Saya tidak pernah melihat wajah barunya. Dia tenggelam bak ditelan bumi. Mungkin Si Fadil sudah berganti nama menjadi Fadilah atau Farah, entahlah.

Itu pengalaman saya dengan bencong dulu, sekarang bagaimana?

Beberapa hari yang lalu saya menonton satu rombongan bencong! Mereka berpartisipasi dalam acara lomba gerak jalan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Acara ini adalah acara tahunan yang melibatkan sekolah-sekolah dan kerukunan masyarakat sekota Parepare. Makanya tidak heran yang jadi peserta di hari terakhir berasal dari banyak kalangan, mulai ibu-ibu pengajian dari berbagai kelompok majelis taklim, para penjual di pasar-pasar tradisional, karyawan-karyawan salon kecantikan dan para bencong.
Gerak-jalan-parepare
para peserta gerak jalan dari berbagai kalangan
Rupanya bencong sekarang sudah terorganisir, punya kerukunan segala. Mungkin karena mereka termasuk anggota masyarakat juga, makanya panitia memperkenankan mereka ikut menjadi peserta lomba.

Siang itu, sekitar 20an bencong bergerak kompak memakai kostum merah putih; baju kaos ketat, rok mini lengkap dengan stockingnya. Dua di antaranya berpakaian adat Bugis memegang nama kerukunan yang mereka wakili IWARPA (Ikatan Waria Parepare) *ngurut dada
Gerak-jalan-bencong
Beberapa kali para bencong melakukan atraksi dengan goyangan erotis. Pantaslah jika dari semua kelompok barisan, grup ini yang paling ditunggu masyarakat. Wajar, karena memang grup benconglah yang paling menghibur, paling mengundang gelak tawa. Saat saya berada di sana, teman-teman para bencong menyemangati, ada yang mengiringi dengan motor, ada yang menunggu di jalan sambil berteriak-teriak memanggil yang lagi atraksi, yang dipanggil semakin semangat, dan semakin erotislah tariannya.
Gerak-jalan-bencong
seorang anak minta difoto dengan salah satu bencong
Gerak-jalan-bencong
penonton yang antusias
Zaman sudah berubah

Hal-hal yang tabu dalam masyarakat 20 tahun silam, sekarang sudah dianggap biasa. Jika dulu, keluarga yang anak gadisnya hamil di luar nikah harus jual rumah dan pindah ke kampung yang jauh, sekarang tidak lagi. Kawin kemarin anak lahir besok lusa sudah dianggap lumrah. Masyarakat sudah sangat permisif.

Kalau dulu si Fadil membuang diri demi menjaga nama baik keluarga, sekarang sudah terbalik. Bencong berani show up, berani terang-terangan mengungkapkan identitas mereka dengan pawai di depan ratusan bahkan ribuan penduduk di tengah kota. Mungkin karena dunia sudah semakin tua ya, para penghuninya kena penyakit alzheimer, lupa dengan azab yang pernah menimpa kaum nabi Luth.

Bagaimana dengan acara Agustusan di kotamu? Ada bencong jugakah? Saya harap tidak ada.

Salam merdeka!

#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN