29 Sep 2016

7 Kegiatan "Me Time" Versi Ayah


7 kegiatan "me time" versi ayah. Berbicara tentang me time, biasanya lebih banyak mengarah ke ibu-ibu. Maklum, para ibu yang selalu disibukkan dengan rutinitas harian seperti mengurus anak, suami, menyiapkan makan, bahkan sebagian ibu melakukan semua itu setelah pulang dari kerja. Dengan segala macam kesibukan yang tidak ada habisnya itu, rasanya wajar jika banyak ibu mengeluhkan perlunya mereka menyenangkan diri sendiri.

Banyak artikel yang membahas tentang hal ini, mulai dari penjelasan tentang perlunya me time, jenis-jenis kegiatan yang bisa dilakukan, dan tips mencuri waktu untuk menikmatinya. Sangat penting untuk menyediakan waktu menikmati hidup agar kita tetap waras. Karena kitalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anak, ibu yang tidak bahagia akan membesarkan anak yang tidak bahagia juga. Kira-kira begitulah isi artikel yang sering saya baca baik dari buku maupun dari media online tentang pentingya me time bagi para ibu.

Bagaimana dengan ayah? Apakah perlu me time juga? Jika didefinisikan bebas, ayah adalah seorang pria yang dulunya lajang, kemudian terikat pada sebuah pernikahan, lalu dikarunia seorang atau beberapa orang anak. Panggilannya bisa ayah, bapak, abi, atau Papa.

Yang perlu saya garis bawahi di sini adalah pria pendamping kita ini dulunya adalah seorang lajang, bujangan yang memiliki kebiasaan dan hobi sendiri. Mungkin dia penyuka futsal, suka nongkrong di warung kopi sampai tengah malam, nonton atau aktifitas lainnya. Semua itu dilakukan bebas tanpa ada teguran dari siapa-siapa. Setelah menikah, aktifitas sewaktu masih bujang otomatis harus dikurangi.

Pagi kemarin terlibat obrolan dengan bapak-bapak di kantor. Rupanya mereka juga punya unek-unek seperti kita dan saling curhat sesamanya.

“ Yang saya tidak suka dari istriku, dia selalu suruh singgah beli ini itu kalau saya keluar rumah” kata si A sambil bersungut

Disambung sama si B “persis istriku, setiap pulang kantor, kalau tidak disuruh singgah beli susu, popok, macam-macam permintaannya, sepertinya selalu ada yang habis di rumah”

“Kita sama ternyata “ kata si A sambil ngajak tos si B

Cerita mereka sambung menyambung yang intinya adalah betapa repotnya mereka dengan titipan istri setiap mereka berada di luar rumah. Mereka heran kenapa semua printilan teringat saat-saat demikian, bukan pada saat belanja bulanan atau saat mereka berdua sedang keluar rumah.

Terus terang saya ngikik pas mendengar obrolan ini, persis dengan keluhan Pap Nay. SMS daftar pesanan saya kalau dia di luar lumayan panjang. Karena menyadari hal ini, dia pantang tidak menyimpan uang cadangan di dompetnya.

Wajar sebenarnya jika para suami mengeluh, otaknya tidak dirancang untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu. Mereka terbiasa fokus pada satu hal saja, kalau rencana ke toko bahan bangunan, maunya ke toko itu saja, bukannya disuruh singgah beli ini itu. Tidak seperti kita kaum perempuan, otak bercabang membuat kita mudah saja ber-multi tasking.

Saat menganalisis hal kebiasaan buruk istri mereka, si bapak-bapak yang ngerumpi mengambil kesimpulan berbeda-beda.

“Sepertinya itu bagian dari cara istri saya bermanja-manja” kata si A

“Mungkin dia takut uang yang di dompet saya dipakai untuk foya-foya, makanya disuruh ini itu untuk keperluan rumah” sahut si B

Saya yang mendengarnya langsung mengklarifikasi, mungkin karena kami para istri memang kurang fokus, karena mengurusi banyak hal, jadinya banyak yang terlupa. Lagipula yang paling sering keluar rumah kan para ayah, mereka lebih mobile, jadi nyaman bagi istri menitip kepada mereka.

Disadari atau tidak para ayah juga memiliki kerempongan, tapi jenisnya berbeda. Kita tidak tahu desakan apa yang dia terima dari bosnya di kantor, tiba-tiba dalam perjalanan pulang ada amanah singgah beli titipan istri, setiba di rumah diserbu anak yang mengajak main. Itulah makanya banyak ayah yang mengharapkan menikmati kegiatan me time seperti saat mereka masih bujangan.

Berawal dari obrolan teman pagi itu saya melakukan survey kecil-kecil apa saja jenis kegiatan yang para ayah inginkan sebenarnya. Jawaban yang saya terima berbeda-beda, beberapa cukup mengejutkan dan tidak saya sangka.

1. Ngumpul dengan keluarga

Amin (3 anak), karena rumah tinggal di Makassar sementara dia berkantor di Parepare, Pak Amin harus jauh dari keluarga selama 5 hari dalam seminggu. Teman ini mengaku bahwa sangat menikmati waktu berkumpul dengan keluarga di akhir pekan. Biasanya dia mengajak anak istrinya makan-makan di cafĂ© atau di restoran. Jika waktu libur lebih panjang, teman yang hobi jogging ini sering rekreasi bersama keluarganya.

Tampaknya seperti bukan kegiatan me time ya? teman saya ini berkilah, itulah hal yang paling menyenangkan baginya. Ya baiklah, kita masukkan kegiatan ngumpul dengan keluarga adalah salah satu kegiatan me time.

2. Main game

Boston (1 anak ) sangat menyukai game, khususnya game online. Ketika ditanya bagaimana dia ingin menikmati waktu senggangnya, jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah main game.

3. Ngumpul dengan teman

Lain lagi dengan Yopi (1 anak), dia sangat menyukai ngumpul dengan teman-temannya.

“Keluargamu dikorbankan dong, setiap weekend kamu pergi? tanyaku dengan kebiasaannya itu. Soalnya saya tahu selama 5 hari penuh dia keluar kota, berpisah dengan keluarga.

“Saya punya triknya Mba, saya bawa dulu mereka jalan-jalan, habis itu antar ke rumah, trus saya keluar lagi”

Dia menambahkan bahwa memang agar keduanya terlaksana, dia menjadi lebih capek, tapi itu menyenangkan baginya. Nice trick Yopi.

4. Nonton

Nasrul (1 anak) mengaku sangat menikmati kegiatan nonton kartun. Kata dia kartun bisa membuatnya tertawa lepas. Dengan tertawa beban hidup terasa lebih ringan. Film kartun favoritnya ipin-upin, cerita kancil dan banyak lagi.

Lain lagi dengan Yani (3 anak), bapak penggemar berat ayam KFC ini sangat menyukai film horor, uniknya dia lebih menikmati film jika suasana disekitarnya mendukung. Jadi gorden dibiarkan terbuka seakan-akan hantunya mengintip di balik jendela, nontonnya pun harus tengah malam. Katanya lagi lebih afdol lagi jika filmnya ditonton di malam jumat, lebih mencekam. Hahaha ada-ada saja.

Hadi (2 anak), bapak yang hobi fotografer ini juga memilih nonton sebagai bagian dia menikmati waktu senggang, pilihan tontonannya acara lawak di TV.

Oh ya, suami saya juga suka nonton tapi dia memilih acara berita dan national geographic.

5. Jalan-jalan

Arpan (1 anak) memilih naik motor di daerah pegunungan, selain udara lebih segar, dia juga sangat menikmati berkendara di jalanan yang sepi.

Jufri (3 anak) juga memilih jalan-jalan sebagai kegiatan favoritnya, bedanya Jufri menyukai jalan bareng teman-teman, apalagi jika hari itu berakhir dengan acara makan-makan, katanya lebih mengenyangkan menyenangkan lagi.

6. Tidur

Beberapa teman yang sering begadang memikirkan target penjualan di hari kerja memilih tidur sepanjang hari untuk memulihkan tenaganya di akhir pekan.

7. Menyendiri

Indra (4 anak), bapak yang satu ini sangat menyukai  duduk sedirian di bawah pohon depan rumahnya sambil menikmati secangkir kopi, dia bisa menghabiskan berbatang-batang rokok menyaksikan orang yang lalu lalang *anehgaksih

Othman (2 anak) mendambakan sekali-kali bisa tidur di hotel sendirian, bebas menonton sambil makan cemilan, tanpa rengekan anak dan gangguan lainnya. Boleh juga idenya nginap di hotel, apalagi kalau hotelnya seperti JW Marriot Surabaya ya, pasti lebih asyik.

Itulah jenis-jenis kegiatan "me time" versi ayah atau suami. Baru sadar tidak ada yang memilih shopping ya hehehe.

Jadi begitu ternyata, suami tercinta kita mendambakan juga sekali-kali bisa menikmati hobi seperti waktu dia masih bujang. Supaya sama-sama bahagia, yuk kenali kesukaan suami masing-masing dan biarkan mereka memiliki waktu untuk menikmatinya. Tapi para ayah juga jangan sampai kebablasan ya, jangan lupa ada anak istri di rumah menunggumu. ^_^

28 Sep 2016

Vida View Makassar: Investasi Hunian yang Nyaman dengan Passive Income yang Tinggi



Beberapa waktu lalu saya chatting dengan adik sepupu, dia bekerja di sebuah bank asing di Jakarta. Kami sangat jarang berjumpa, pertemuan terakhir kalau tidak salah 3-4 tahun silam. Saya mengetahui kabarnya dari ngobrol online atau lewat media sosialnya saja. Di sela percakapan, saya sempat menanyakan tempat tinggalnya.

“Di apartemen Kak” kata dia

Saya sudah menduga kalau sewa apartemen pasti mahal karena kos-kosan di daerah saya saja sampai sejuta per bulan, padahal hanya kota sedang, apalagi ini di Jakarta. Ternyata benar lumayan mahal, sekitar dua juta. Dia sih terlihat santai saja, mungkin karena memang penghasilan besar dan masih lajang pula. Bagi saya duit segitu bisa dialokasikan ke beberapa pos-pos pengeluaran, seperti tagihan listrik, telepon, atau susu anak. Menurut dia pilihan terbaik tinggal di apartemen karena dekat dari kantornya, agar tidak kelamaan di jalan.

Memang bagi kebanyakan orang apalagi pekerja-pekerja muda seperti adik saya itu, menghabiskan ongkos dan tenaga di jalan adalah pilihan terakhir. Mereka menginginkan kepraktisan, apalagi jika isi dompet memang memungkinkan untuk itu, ya why not.

Berbicara soal apartemen, kemarin saya sempat nonton acara dK show, acaranya asyik karena host-nya Donny De Keizer sangat kocak. Tidak terhitung berapakali saya tergelak dengan banyolan dia. Pada saat narasumber sedang serius menjelaskan, dia seringkali memotong dengan gurauan, benar-benar bikin suasana cair dan asyik.

Narasumber yang hadir pada episode tersebut adalah Panangiang Simanungkalit dan Aidil Akbar, keduanya sama-sama suhu, satunya pakar properti dan satunya lagi perencanaan keuangan. Dari mereka saya mendapatkan bayangan tentang investasi properti, khususnya apartemen.

Kenapa sih orang beli properti?

Ada tiga alasan sebenarnya, yaitu kebutuhan, gaya hidup, dan investasi. Dari ketiga alasan tersebut, kebutuhan dan investasi tentu saja adalah motivasi terbaik kita membeli properti. Misalnya pengantin baru ingin membeli rumah karena segan tinggal di pondok mertua indah (alasan kebutuhan), atau orang-orang yang sudah punya rumah tapi ingin menambah properti lagi untuk disewakan atau dijual kembali (alasan investasi).

Masyarakat kelas menengah ke atas di negara kita ini banyak, bahkan meledak dibandingkan era sebelumnya. Banyak bisnis berjalan baik, profit perusahaan tinggi, pendapatan pelaku usaha dan karyawannya pun meningkat, tapi mereka bingung menginvestasikan penghasilan mereka di mana. Di sisi lain bunga deposito mengalami penurunan, sehingga banyak yang beranggapan daripada uang ditabung lebih baik dibelanjakan properti. Lagipula properti adalah bisnis nyata, ada fisiknya dan kelihatan oleh mata. Berbeda dengan saham, deposito, dan danareksa yang dianggap lebih berisiko oleh sebagian orang. Masyarakat lebih cenderung merasa nyaman menanamkan modalnya pada sesuatu yang berwujud, lebih menimbulkan perasaan aman.

Pertanyaan selanjutnya kenapa memilih apartemen, bukan tanah atau rumah?

Alasannya macam-macam, antara lain berikut ini:

Lahan semakin sempit

Makin lama lahan semakin sempit, harga tanah bertambah mahal. Selain itu, tanah akan lebih sulit terbeli jika tidak punya dana tunai, karena saat ini bank belum menyediakan kredit pembelian tanah, melainkan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) saja. Tambahan, pun misalnya tanah sudah terbeli, terbentur lagi soal biaya pembangunan. Makin kesini biaya pembangunan rumah semakin tinggi, bayangkan kisaran rupiah untuk rumah sederhana saja sekitar 3,5-4,5 juta per meter, yang mewah tentu lebih mahal lagi, bisa mencapai angka 8 -8.5 juta per meter. Karena semakin sempitnya lahan, sementara jumlah penduduk dan kebutuhannya akan hunian semakin meningkat, solusi paling efesien bagi pengembang adalah menawarkan bangunan vertikal seperti apartemen.

Rumah semakin mahal

Tidak hanya di Jakarta, harga rumah yang semakin mahal juga berlaku di Makassar. Jangankan di pusat kota, membeli hunian di daerah tepian saja membutuhkan dana beberapa ratus juta per unitnya. Seorang teman membeli rumah 200an juta di pinggiran kota Makassar, 2-3 tahun kemudian harganya melonjak sampai 600 jt. Di kota bagaimana? Tante saya pernah menjual rumahnya seharga 4 M, rumah tersebut dia beli dengan harga 1 M, selisih waktu antara jual dan beli tidak seberapa, kurang dari 5 tahun.
Dengan pertimbangan harga rumah tersebut, masyarakat yang mendambakan hunian di pusat kota bisa menjatuhkan pilihan pada apartemen.

Alasan efesiensi

Memang dengan tinggal di apartemen berarti kita bersedia dengan living space yang terbatas, luas apartemen tentu saja tidak bisa disamakan dengan rumah yang berpekarangan. Kita harus berbagi lobi, parkiran, kolam renang dengan penghuni yang lain. Oleh karena itu untuk mengganti keterbatasan tersebut, biasanya apartemen selalu menawarkan kemudahan bagi penghuninya; fasilitas diperlengkap, akses kemana-mana mudah, ongkos jalan bolak-balik rumah-kantor-rumah diminimalkan.

Untuk Investasi

Jika calon pembeli sudah punya rumah tinggal tapi berencana menjadikan apartemen sebagai salah satu portofolio investasinya juga bisa. Pemodal yang ingin mendapat passive income yang tinggi perbulan bisa menanamkan modalnya dengan membeli apartemen. Sewa sebuah kamar apartemen relatif lebih tinggi daripada kamar kos atau rumah sekalipun. Seperti contoh sepupu saya tadi uang yang harus dia sisihkan 2 juta rupiah, bandingkan dengan sewa kamar kos yang hanya 500 rb-1000.000/bulan, bahkan jika dibandingkan dengan rumah yang sewanya per tahun pun, harga sewa apartemen masih jauh lebih mahal.

Apartemen diperjualbelikan juga tak kalah menguntungkan. Investasi properti sebenarnya adalah jenis investasi jangka panjang, tapi tidak menutup kemungkinan memberikan keuntungan ratusan persen hanya dalam kurun waktu 2-3 tahun, bahkan bisa terjadi dalam hitungan bulan. Jika sudah demikian kondisinya, Aidil Akbar menyarankan, sah-sah saja untuk menjualnya kembali.

Aidil Akbar adalah seorang perencana keuangan muda yang sukses memiliki banyak asset properti. Asetnya tidak hanya di Jakarta atau kota-kota besar daerah Jawa saja tapi sampai di Papua. Ketika ditanya triknya beternak properti, tidak sungkan beliau menjelaskan sebuah contoh:

Jika punya uang 700 jt misalnya, jangan dibelikan satu apartemen saja, tapi jadikan uang muka untuk pembelian 2-3 buah apartemen. Tentu saja dengan syarat pembeli punya kemampuan menyicilnya. Jika tidak, sebisa mungkin ketiga apartemen tersebut bisa membayar cicilannya sendiri dengan cara menyewakannya. Penghasilan dari penyewaan tersebut akan menutupi cicilan. Ketika harga apartemen sudah naik berkali-kali lipat, salah satu apartemen bisa dijual kembali, hasil penjualan dipergunakan untuk melunasi apartemen yang lainnya.

Kadang kala kita menemukan penawaran apartemen yang fisiknya belum jadi tapi sudah ditawarkan ke masyarakat. Panangiang Simanungkalit menyarankan, ketika apartemen tersebut memang cukup menjanjikan keuntungannya di masa depan, sebaiknya kesempatan diambil saja. Biasanya kan harga bangunan belum jadi lebih murah ya, jadi ketika harga apartemen sudah naik minimal 30 persen saja, kepemilikan apartemen tersebut bisa dijual kembali, hasil jualnya dipakai untuk membeli apartemen baru lainnya.

Di Indonesia, apartemen sudah mulai ada sejak tahun 70an, tapi masih terbatas di ibukota negara saja yaitu Jakarta. Dari tahun ketahun pertumbuhan apartemen sejalan dengan meningkatnya penduduk Jakarta, jika pada tahun 1970-2000 jumlah apartemen hanya 25.000 unit saja, dalam kurun waktu 11 tahun saja sudah melonjak di angka 125.000, oleh Pak Panangiang, jumlah apartemen diperkirakan akan mencapai 300.000 unit ditahun 2015 - 2020.

Tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya, trend hunian vertikal juga sudah merambah kota Makassar. Perkembangan ekonomi ibu kota propinsi Indonesia bagian tengah ini terbilang sangat pesat, termasuk di bidang properti, kenaikan pertumbuhan bisnis properti sekitar 10-15 persen pertahun. Sementara di kota-kota lain, dalam kondisi perekonomian nasional yang belum putih cenderung melambat, bahkan ada yang stagnan. Hal ini dikemukan oleh Tirta Sertiawan, seorang praktisi pemasaran properti.

Vida View Makassar

Melihat potensi market tersebut Ciputra group dan Galesong group menawarkan konsep hunian vertikal di tengah kota untuk masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya. Vida View merupakan perpaduan area residensial dan komersial yang memadukan 3 tower apartemen 42 unit shophouses eksklusif dan 8 unit kios. Unit-unit apartemen ditawarkan dalam 3 tipe dengan luas mulai 21.85 – 47.3 m2, dengan penataan ruang yang ditujukan untuk menciptakan kenyamanan, spacious ambiance supaya memberikan impresi lapang dan luas serta elegan.

Kenapa memilih Vida View Makassar?

Jika dirangkum, setidaknya ada 6 poin yang membenarkan calon investor menetapkan pilihan pada Vida View Makassar.

Pengembangnya terpercaya

Siapa yang tidak kenal Ciputra Group? Seperti yang tertulis di Wikipedia, Ciputra grup adalah salah satu perusahaan properti Indonesia terkemuka. Didirikan pada tahun 1981, pengembangan properti perumahan skala besar dan komersial adalah keahlian bisnis dan inti perusahaan. Sebagai developer national yang terpercaya, perusahaan ini sudah mengantongi banyak penghargaan atas prestasinya, salah satu contohnya, pada tahun 2015 Ciputra Group meraih BTN Property Award 2015 kategori Kemitraan Utama Pengembang Prima , Sebagai Pengembang dengan Pembangunan Kawasan Hunian Terpadu Terbanyak Seluruh Indonesia. Ciputra Group memiliki Berpengalaman bertahun-tahun, bahkan bertahan melewati masa tersulit perekonomian pada tahun 1998 yang membuat ambruk banyak perusahaan lain. Nah Ciputra group inilah yang menjadi pengembang apartemen Vida View Makassar.

Return of investment tinggi

Seperti yang dikemukan di awal, pertumbuhan ekonomi kota Makassar yang sangat pesat, rata-rata di atas 9 persen per tahun, dengan potensi market yang sangat besar pula membuat Makassar tumbuh sebagai kota metropolitan. Karena itu, saat ini kota Makassar membutuhkan hunian modern (apartemen) untuk masyarakat perkotaannya. Sejak dipasarkan pada tahun 2014, Vida View Makassar sudah mengalami kenaikan harga sebanyak 3 kali. Pada tahun 2014 saja harga yang dipasarkan adalah 343jt, sekarang meningkat dengan harga paling murah 462 jt. Tingkat kenaikannya mencapai 26 persen, jadi jika ingin dijual kembali akan memberikan selisih harga yang lumayan tinggi.

Penyewaan apartemen juga cukup menjanjikan, sekitar 4-8 juta perbulan.

Berada di kawasan central business district (CBD) Makassar

Letaknya benar-benar strategis, berada di kawasan central business ditrict (CBD) Makassar, yaitu di Jl Boulevard. Apartemen ini dikelilingi mall, bank, perkantoran, sekolah, pusat kuliner, dan dekat dari pintu tol. Ke bandara juga sangat mudah, hanya sekitar 15 menit saja.

Fasilitas lengkap

Vida view Makassar akan menyediakan sarana kebugaran, seperti fitness center, mini Olympic pool, kids pool, jogging track changing room, futsal . Selain itu juga ada sky garden , children playground, SPA, smart card, mail box, BBQ area, lawn, gazebo, multi function plaza, bench & reflexology path, multipurpose room, intercom system, 1000 car parking lots dan fasilitas lainnya, sehingga penghuni apartemen tidak perlu pergi terlalu jauh untuk memenuhi kebutuhannya.

Praktis

Penghuni juga tidak perlu direpotkan untuk mencari tukang buat mengurus taman dan mengeluarkan biaya untuk perbaikan sarana pembuangan, air, atau sirkulasi udara, karena akan ada pengelola yang bertanggung jawab mengurus hal itu.

Tingkat keamanan tinggi

Seperti kita tahu bersama kejahatan di Makassar semakin meningkat, begal ada di mana-mana, bahkan seseorang bisa dibegal di teras rumahnya sendiri. Vida View Apartemen menyediakan penjagaan 24 jam dan CCTV yang memantau agar penghuninya merasa aman dan tentram beristirahat di huniannya.

Demikianlah sekilas tentang apartemen Vida View Makassar, sebuah pilihan hunian berkelas hotel bintang 5 yang menjanjikan passive income yang tinggi.

#mariinvestasi

Sumber :
http://www.vidaviewmakassar.com/booming-apartemen-di-makassar-tinggal-tunggu-waktu/

20 Sep 2016

Make up Boleh Tapi...


 
Dikisahkan dua gadis bersaudara hidup di sebuah desa di pinggiran hutan. Walaupun dilahirkan oleh ibu yang sama tapi tabiat keduanya sangat berbeda, sang kakak pendengki dan jahat, sedangkan adiknya baik hati, penyayang dan dicintai oleh banyak orang. Sang kakak sangat iri dengan kecantikan adiknya, oleh karena itu segala upaya dia lakukan agar adiknya berubah menjadi buruk rupa, dia beranggapan Adiknya memiliki begitu banyak teman karena wajahnya yang molek.

Suatu hari iri sang kakak sudah mencapai ubun-ubun. Di malam buta, diam-diam dia menyelinap di bilik Adiknya, dengan sekali gunting, rambut indah sang adik dipotong. Keesokan harinya si Adik bangun mendapati rambut panjang yang dia rawat sejak dulu sekarang tinggal sejengkal. Gadis manis itu sangat sedih, dia berlari ke hutan, di sana dia meratapi rambutnya. Teman-teman hewan di hutan menghiburnya, mengatakan bahwa rambut akan panjang lagi seiring waktu, dia hanya perlu sabar menunggu, maka rambutnya akan kembali seperti sedia kala. Tapi gadis malang ini tetap bersedih, dia sangat malu bertemu orang-orang dengan kondisi rambut yang mirip laki-laki. Seekor hewan yang bijak memberi saran agar dia memakai kerudung. Jadilah Sang Adik sehari-hari memakai kerudung. Dengan kerudung, kecantikannya bukannya berkurang malah semakin bertambah.
 
Sang Kakak semakin dengki. Pada malam hari, saat Adiknya tidur dengan lelap, sang kakak mencukur habis alis saudarinya itu. Saat pagi datang, si Adik histeris mendapati alisnya sudah hilang. Kembali dia ke hutan menemui si hewan bijak untuk meminta nasihat, sekembalinya dari sana, sang Adik tampak semakin cantik dengan lukisan alis yang melengkung sempurna.
 
Cerita ini adalah sebuah dongeng yang saya baca puluhan tahun yang lalu, sudah lama sekali. Saking lamanya, saya sampai lupa nama tokoh utama dan hewan bijak penasihat sang Adik. Sama seperti cerita dongeng umumnya, tentu saja endingnya indah; yang baik hati dan cantik akhirnya dilamar pangeran dan hidup bahagia selamanya.

Di masa kecil saya banyak belajar dari dongeng, bahwa yang baik selalu diganjar dengan kebaikan, yang jahat selalu berakhir dengan kesedihan. Khusus dari dongeng di atas, saya belajar mengenal konsep make up pertama kali, saya jadi tahu bahwa kita bisa melakukan sesuatu untuk menutupi kekurangan di wajah. Seperti putri yang hilang alisnya, dia menutupinya dengan goresan arang yang menyerupai bentuk aslinya.
 
Saat umur memasuki remaja, saya tumbuh dengan wanti-wanti ibu “Jangan mencukur alis” disertai dengan penjelasan bahwa agama kita melarangnya, Allah melarang kita mengubah pemberianNya. Saya bersyukur Ibu mengajarkan hal tersebut, jika tidak mungkin saya akan punya jadwal rutin mencukur alis seumur hidup, karena alis saya selebat hutan, membuat saya tampak mirip pendekar saja :D
 
Pernah, lupa tahun berapa. Entah kenapa semua orang berubah menjadi keriting. Saya menduga memang itulah mode yang lagi ngehits, bintang filem semua berambut keriting. Tidak ketinggalan orang-orang di sekitar saya; dewasa, remaja, anak-anak semua berambut keriting. Saya yang berambut lurus menjadi aneh sendiri. Untung waktu itu bapak melarang keras saya ikut-ikutan mode tersebut. Memang benar, anak-anak perlu arahan orang tua, mana yang patut mana yang salah. Lagipula manalah saya tahu akan ada zaman catok rambut merajalela, di mana semua orang mendambakan rambut lurus seperti punya saya :D
 
Setelah melalui berapa puluh tahun hidup..tsaah, seperti teman-teman saya mengamati bahwa kecendrungan orang berubah mengikuti mode, kita tidak tahu mungkin hari ini semua orang mendambakan rambut lurus, besok kembali lagi seperti tahun 80an, orang-orang ingin ikal. Demikian juga dengan model rambut, make up, model alis, model baju, semua akan berubah. Apakah kita akan mengikuti mode, setia dengan gaya sekarang, atau menentang arus, semua tergantung pada pilihan masing-masing.
 
Menurut saya beruntung kita mempunyai agama, membatasi apa yang boleh apa yang tidak, Bolehlah kita make up, dandan, dan apa saja untuk menyenangkan diri sendiri atau menambah kepercayaan diri. Tapi… ada aturannya, ikuti aturan pencipta kita. Bagaimana menurut kamu?
 
Artikel ini untuk menanggapi tulisan Mak Lia di sini.

8 Sep 2016

Ada Pak Akli?

 
Saya baru saja diterima kerja, masih unyu-unyu tanpa pengalaman sama sekali. Ini kali pertama saya kerja di perusahan, sebelumnya hanya pernah magang 2 bulan di sebuah jasa konsultan. Saya diterima di perusahaan yang baru 3 tahun buka cabang di Parepare. Divisi sales yang saya masuki terdiri dari puluhan salesman dan beberapa supervisor serta 2 orang bagian administrasi yang mengurusi segalanya. Karena salah seorang admin baru saja resign setelah melahirkan anak pertama, sisa satu admin mengerjakan semua pekerjaan sampai karyawan baru datang. Nah sayalah karyawan pengganti tersebut.

Adalah Tanti nama senior yang membimbing waktu itu. Dia melakukan double job dalam waktu yang lumayan lama. Beliau merasa sangat lega mendapatkan teman kerja. Karena akhirnya bisa tidak lembur lagi, bisa pulang lebih cepat, dan bisa cuti. Sayang sekali belum juga komplit transfer ilmu dilakukan, Tanti sudah mengajukan cuti, saya maklum sih, dia sudah berbulan-bulan tidak menikmati waktu luang bersama anaknya. Akibatnya saya yang ditinggalkan kelimpungan.
 
Sebenarnya sebelum cuti, senior saya itu sudah menitip pesan melakukan ini itu, tapi secara teknis sebenarnya saya masih kurang cakap. Namanya baru saja lulus ya, masih kagok dengan dunia kerja yang semuanya serba cepat; ngetik harus cepat, baca cepat, dan paham harus cepat. Pokoknya ini itu harus dilakukan dengan cepat dan benar, kalau tidak akan keteteran sendiri.
 
Nah tibalah hari H teman saya itu cuti, off-nya singkat sebenarnya, kalau tidak salah 2-3 hari. Tapi saya merasa dia meninggalkan diriku seabad.
 
Kebetulan saat itu kantor berencana menambah daya listrik, seorang supervisor mengingatkan saya supaya segera menghubungi pihak terkait agar urusan menambah daya ini bisa cepat terlaksana.
 
Dengan sigap saya telepon teman yang cuti.
“Bu, kalau mau nambah daya telepon siapa ya?”
 
“Telepon Akli” jawab dia di seberang sana
 
“Nomernya berapa?”
 
“Ada di kalender, di situ ada tertulis Akli, telepon nomer itu”
 
“Terima kasih bu”
 
Segera setelah menutup telepon, saya carilah nomer yang dia maksud di kalender mejanya. Eh benar ada, di situ Akli tertulis dengan tinta merah. Segera saya memencet nomer yang tertera .Tidak butuh waktu yang lama, telepon tersambung dan diangkat oleh seorang laki-laki.
 
Saya : “Halo Pak”
 
Mas : “ ya Halo”
 
Saya : “Bisa bicara dengan Pak Akli?”
 
Mas : “Maaf bu ini kantor”
 
Saya : “Iya pak, saya tahu, bisa disambungkan dengan Pak Akli”
 
Si mas diam sejenak…
 
Mas : “Bukan bu..bukan Pak Akli”
 
Saya : “oow bukan bapak ya, kalau gitu bisa bicara dengan Bu Akli?”
 
Mas : “Di sini tidak ada Pak Akli maupun Ibu Akli bu, ini kantor!”
 
Saya : "Baiklah kalau begitu pak, terima kasih ya"
 
Saya pun kembali lagi ke kalender meja tadi sambil mikir ini sudah benar kok, tertulis Akli : 0421- sekian..sekian. Saya hubungilah teman saya untuk menyampaikan bahwa nomer yang dia catat di kalender keliru, dan menegaskan bahwa tidak ada orang yang bernama Akli di nomer itu.
 
Teman saya terbahak “Akli itu …..” kalimatnya terputus oleh tawanya yang kencang.
 
“Islah, Akli itu bukan orang tapi singkatan“
 
Hahahahaha
 
Setiap kali kami membicarakan kejadian tersebut, tawa kami akan membahana sampai terdengar di pantry. Kami menertawakan kebodohan saya yang mengira Akli nama orang. Rupanya AKLI singkatan dari Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia.
 
Sampai sekarang saya masih sering geli sendiri membayangkan ekspresi Si Mas yang menerima telepon waktu itu.
 
Itu salah satu kejadian menggelikan yang saya alami saat pertama kerja dulu, teman-teman punya pengalaman lucu? Bagi ya di kolom komentar. Hari ini pengen banyak ketawa :D