20 Apr 2015

Berani Lebih Nekat

Membeli rumah itu bukan dengan modal uang saja, tapi yang utama modal nekat.

Mari kita liat buktinya. Anggaplah sekarang harga rumah sederhana seharga Rp. 200jt. Untuk mengumpulkan 200jt dengan gaji 4juta misalnya, butuh 50 bulan kali gaji supaya bisa mencapai angka tersebut. Itu dengan asumsi kalau gaji tidak kita belanjakan untuk makanan dan pakaian lho ya. Nah ketika 50 bulan atau 4 tahun kemudian, eh rumah yang diincar itu sudah laku, kalau belum laku, rumah itu sudah seharga 500jt. Ternyata uang yang dikumpulkan dengan susah payah tadi tetap tidak mencukupi untuk membeli rumah. Jadi benar kan modal nekat diperlukan?
Waktu itu umur saya 26 tahun. Saya sangat ingin membeli rumah ketika bekerja ditahun pertama sebuah perusahaan. Dan saya menargetkan itu tercapai tahun depannya. Gaji tidak seberapa, tapi cukuplah untuk seorang lajang. Disaat teman-teman sebaya berburu gadget mahal, pakaian modis, nonton, ke kafe, ke mall tiap minggu, saya dengan semangat besar tapi rekening kosong berani berbicara keorang-orang “Saya mau beli rumah, bantu carikan dong!”.
 
Belakangan saya baru tahu kalau proses kenekatanku membeli rumah itu ternyata proses Mestakung (Semesta Mendukung) yang dicetuskan oleh Prof Yohanes Surya. Ketika kita pada kondisi kritis, maka alam semesta akan membantu kita melewati keadaan kritis itu. Alam semesta (termasuk diri kita, tetangga , dan lingkungan kita) membantu mengatur diri mendukung kita agar keadaan kritis dapat terlewati (Mestakung, rahasia sukses juara dunia olimpiade Fisika, hal 147)
 
Dan memang benar, proses Mestakung terjadi.
Karena sering diomongkan dan dishare keorang-orang, karena memang sudah niatnya niat sekali. Akhirnya banyak yang bantu mencarikan rumah impian, baik itu teman, makelar, maupun orang bank yang bekerja dibagian perkreditan. Padahal duit waktu itu tidak cukup walaupun buat DP rumah. Yang penting niat dulu.
 
Dipertengahan 2007, ketemu angkoh developer perumahan yang menawarkan rumah tipe 74 dengan harga 150jt. Akhirnya setelah ditawar mentok diangka 110jt. Murah kata orang-orang waktu itu. Kemungkinan Angkohnya butuh dana atau mungkin bosan melihat rumah ini kok tidak laku-laku sementara sudah berdiri walaupun masih berupa rangka. Pihak bank yang bersedia memberikan KPR mengharuskan DP 20% dari harga rumah, jadi saya membutuhkan uang cash sekitar 22jt rupiah. Tapi lagi-lagi semesta mendukung, angkohnya berbaik hati membolehkan saya mengangsur DPnya sebanyak 3-4 kali. Dengan modal uang direkening pas-pasan alias berani lebih nekat, diakhir tahun 2007, saya akhirnya memiliki rumah senilai Rp.110jt dengan bangunan yang lebih besar jauh dari ekspektasi saya sebelumnya.
 
Sampai sekarang kalau ingat kenekatan itu, saya saja masih heran kok bisa ya senekat itu, beli rumah, rekening kosong, dikampung orang pula. Harga rumah ini sekarang kalau ditaksir sudah bernilai lebih dari 3-4 kali lipat (ehhem dengan cicilan yang masih 2 tahun lagi xixixi).

So,  #BeraniLebih nekat? Ayooo, Semesta Mendukung!!

Tulisan ini diikutsertakan di Kompetisi tulisan pendek di blog #BeraniLebih yang diadakan oleh Light of Women
Parepare, 20 April 2015
Nama    : Nur Islah
FB           : Nur Islah
Twitter : @pulau_ila

Nginap di Rumah Sakit

Satu minggu ini kuhabiskan dirumah sakit di Makassar. Sedikit cerita tentang pengalaman dirawat disalah satu rumah sakit besar disana.

Kamar yang saya tempati adalah lantai 8. Kantor berbaik hati memberikan jatah VIP, yang ternyata diluar dugaan berkamar mandi luar, dan tidak dilengkapi kunci. Perawat akan mengetuk 1-2 kali, dan langsung masuk. “Permisi…” kata mereka, dan langsung masuk, membuatku harus tetap memakai jilbab setiap saat. Dan yang tak terduga lainnya dirumah sakit ini adalah, ketukan-ketukan (baca, gangguan) itu sangat sering terjadi; ketika ganti shift, perawat pertama dan perawat pengganti akan “ketuk-masuk” melaporkan kalau terjadi pergantian shift, dan menunjuk nama teman yang berjaga. Ternyata perawat penjaga ada dua orang kukira, karena setelah dua perawat tadi pergi, tiba-tiba ada ketukan lagi, 2 perawat lagi (yang diganti dan pengganti), “ketuk-masuk” itu membuatku bangkit lagi dari posisi baring keduduk untuk menghormati mereka yang masuk. Walaupun ini jarang terjadi, biasanya mereka datang langsung berempat. Oh ya, setiap kali mereka masuk, mereka akan memasang pengaman ranjang supaya pasien tidak jatuh, yang sebenarnya pengaman ini menyulitkanku pergi ke kamar kecil karena harus membukanya dulu. “ketuk-masuk” selanjutnya adalah tentu saja perawat jaga melakukan tugasnya, melakukan ukur tensi-suhu tubuh, sekali-kali juga datang mengecek cairan infus sudah hampir habis atau tidak. Dan juga 3 kali datang menyuntik obat suntik kedalam cairan infus. Nah itu baru “ketuk-masuk” perawat yang melakukan tugasnya. Ketukan mengganggu juga datang dari staff pembersih kamar 2 kali sehari, ketukan juga datang dari pembawa teh dan snack 2 kali sehari, dan pembawa makan pagi, siang, dan malam yang dibawa jam 5 sore. Silahkan pembaca menghitung berapa kali ketukan yang saya terima dalam satu hari dalam kondisi dimana saya seharusnya lebih banyak istrirahat.

Pemandangan dari lantai 8

Dari beberapa perawat yang serang keluar masuk, ada satu favoritku…
Namanya Sabil, perawakan sedang menghampiri kecil, kulit gelap, dengan rambut yang sepertinya kalau panjang berbentuk ikal. Tidak ganteng, tidak manis, tapi terlihat baik hati. Seingatku dia ada hampir tiap hari, menganti perawat jaga sebelumnya. Hanya ada 4 perawat jaga khusus untuk kamarku; perawat perempuan yang lincah dan ramahnya agak berlebihan, perawat pakai jilbab yang agak tambun, laki-laki muda yang manis, dan si perawat Sabil kesukaanku.
Sabil sangat sopan, dia mengetuk pintu dan masuk seperti perawat lain, tapi dengan kata-kata permisi khas dia ” permisi ya bu”, dengan penekanan “ya” yang hanya dimiliki oleh Sabil barangkali. Apapun yang Sabil lakukan selalu dilakukan dengan kata permisi. Memegang infus-permisi, mengecek tanganku-permisi, menyuntikkan obat-permisi, mengukur tensi-permisi, memberikan alat pengukur suhu badan kepadaku-permisi. Memang agak berlebihan menurutku, tapi sepertinya kata permisi itu sudah menjadi bagian dari dirinya yang memang sopan. Untuk hal-hal yang sepertinya akan berdampak pada pasien, dia selalu mengawali dengan kata-kata bismillah. Ada 3 obat suntikan yang harus saya terima lewat infus dengan kurang nyaman. Pertama obat anti pendarahan, obat antibiotik, dan obat anti sakit. Sepertinya antara obat yang pertama atau yang kedua, ada yang membuat tubuh tidak enak, badan terasa seperti sudah dipukuli dengan keras terutama bagian dada dan pundak, dan saya seperti kehabisan oksigen. Sementara obat anti sakitnya malah membuat nyeri tangan dan pergelangan tangan selama 1 menit. Jika bukan giliran Sabil yang menyuntikku, ritual suntik obat ini terasa mendebarkan sekali. Tapi dampak negatif obat suntik tadi kurang terasa jika disuntik oleh Sabil yang selalu mengucapkan basmalah sebelum mulai menyuntik.

Nginap dirumah sakit selama hampir 1 minggu membuatku rindu setengah hidup sama Kakak Naylah dan Adek Ayyan. Untuk mengobati rindu, saya menelpon mereka sekali-sekali, mendengar suara adek yang super kencang yang terdiri cuma 2 kata “ Halo…halooo” atau “ Aaaa.. Aaa”. Kata Pap Nay, Kakak Naylah selalu sedih, mungkin sudah mulai bosan atau rindu juga sama mamanya. Untuk mengurangi kesedihannya, saya mengiriminya pesan via BBM sepupu atau sms ke nomer HP bapaknya. Untungnya banyak video-video anak-anakku tersimpan HP, itu juga menjadi salah satu pengobat rinduku. Favoritku video adek yang sedang menyanyi, selalu sukses membuatku tertawa. Ini videonya.


Kebosanan dirumah sakit terobati dengan kunjungan teman-teman kuliah dulu. Menyenangkan sekali menerima Choco Lava buatan Ince yang sayang sekali tidak sempat ketemu karena saya masih diruang operasi. Menerima kunjungan Ika yang menangis ketika masuk, membuatku terharu. Ika bilang dia sangat sensitive dan mudah menangis sejak hamil. Dan surprised sekali mendapat kunjungan Ica, dan Pihi yang lagi hamil 6 bulan. Kami ngakak bersama menertawakan badan-badan masing-masing yang mulai tambun dan menghibur diri bahwa badan melar adalah tanda hidup bahagia. Sayangnya mereka cepat pulang karena sudah magrib. Juga kunjungan tante dan om yang membuat rame kamar yang tadinya sepi.
 
Foto Choco Lava Ince yang juga diupload di Facebook sekalian promosi jualan dia xixixi.

Nastarnya juga enak, kalau mau pesan hubungi FBnya Ince Rani
 
Rasa bosan dirumah sakit juga berkurang karena buku-buku bacaan yang saya bawa dari parepare dan buku koleksi sepupu, om, dan tante. Salah satu bukunya bagus sudah saya tulis reviewnya disini.

Terakhir, saya mau berdoa, sehatkan saya selalu ya Allah, jangan sakit lagi..aminnn

Review: Muhammad (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik)

Buku biografi Nabi Muhammad yang dituliskan berdasarkan sumber klasik. Cara Martin Lings bernarasi membuat saya seperti baru pulang dari padang pasir setelah membaca bab terakhir. Dibuku ini pembaca akan menjumpai silsilah keturunan asal mula nabi Muhammad yang dimulai dari suku bangsa Arab Quraisy yang merupakan salah satu keturunan Nabi Ibrahim yang terkuat. Sepertinya penulis betul-betul menguasai silsilah klan-klan di zaman sebelum dan sesudah kehidupan Nabi Muhammad.
Keturunan Quraisy Lembah

Kepiawaian penulis menggambarkan wajah Muhammad, wajah istri-istri beliau yang cantik, dan bentuk fisik para sahabat nabi, membuat kisah ini seperti hidup. Penulis juga piawai melukiskan tempat-tempat, sampai jarak tempuh tempat kisah terjadi.

Pembaca tidak akan menemukan tulisan huruf Arab dibuku ini, petikan terjemahan hadist atau ayat-ayat Al Quran tetap ada, tapi tidak menghalangi pembaca menikmati narasi sejarah yang apik.

Saya pikir banyak bagian buku ini yang bisa dijadikan bahan cerita yang seru untuk diceritakan kepada anak-anak kita.

Saya membacanya saat dirawat di rumah sakit, membuat saya menikmati perawatan dan pengobatan dengan suka cita. Buku yang luar biasa.
 

 
Makassar, 15 April 2015

Mama Mertuaku Perempuan Tangguh


Banyak anekdot lucu tentang Ibu mertua, coba saja searching di google, anekdot kebanyakan tentang kebencian kepada mertua.

Konon Tuhan dan Iblis yang terkutuk sedang bercakap:
God : I cannot be anywhere, so I created Mother
Devil : Even I cannot be anywhere, so I created mother -in –law

Ada lagi yang menulis
I wanted to be a witch for halloween but my mother in law wouldn’t loan me a dress

Ih kejam-kejam ya (LOL)

Mama mertuaku bukan tipe ibu mertua bergincu tebal yang selalu berkacak pinggang menyalahkan semua tindakan menantunya (emang sinetron :p). Mama Mertuaku perempuan sederhana, berjilbab rapi, dan rajin kemesjid. Mama tidak pernah buang tenaga mencampuri kehidupan rumah tangga saya dan anaknya.(Mungkin karena memang ogah, atau kejauhan xixixi).

Mama mertuaku berumur sekitar 65 tahun. Beliau masih muda ketika menikah dengan Bapak Mertua yang baik hati. Mereka menikah di Sumbawa, dan kemudian memutuskan menetap di Selayar.

Mengandung dan melahirkan anak dua, membuatku sadar menjadi ibu itu luar biasa. Proses melahirkan yang sulit, dan proses menyusui, mendidik melelahkan jiwa raga. Tapi cerita suamiku tentang ibunya, membuat proses yang sulit itu menurutku terdengar mudah.

Mama mertuaku melahirkan sebanyak 9 kali. Anak yang pertama meninggal ketika masih batita, anak yang ketujuh meninggal ketika masih 40 hari, dan anak yang kedelapan meninggal tidak lama setelah menjadi sarjana ( baca Ketika Wana Pergi). Jadi anak mama mertuaku sekarang sisa 7 orang; 2 perempuan 5 laki-laki. Semua anaknya menetap di Selayar, kecuali suamiku yang menetap di Parepare.

Selayar adalah pulau kecil, yang dikelilingi lautan, dan hampir tidak kelihatan dipeta (baca Selayar: Objek Wisata Sepanjang Jalan). Selayar dijaman sekarang saja masih ketinggalan dibidang infrastruktur dan layanan publik dibandingkan kota-kota lain di Sulsel. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya menjadi penghuni pulau Selayar ditahun 70-80an. Saya pernah mendengar candaan saudara Ipar tentang betapa jauh dan sulitnya tranportasi antar pulau di Selayar, kata dia “pasien gawat darurat yang dirujuk ke kota sebaiknya pasrah saja”.

Kembali ke cerita mama mertua. Konon Mama mertuaku melahirkan delapan dari kesembilan anaknya dirumah saja, hanya satu yang dilahirkan di rumah sakit. Mama mertua melahirkan dibantu dukun beranak dan tetangga saja. Kalau Pap Nay cerita begini “ mama kalau melahirkan tidak terdengar keluhan kesakitan, yang terdengar dari luar, mama ngobrol-ngobrol dengan tetangganya itu dikamar, tiba-tiba ada suara bayi menangis kencang” ajaib ya!!?. Kata Pap Nay lagi “ Kalau mama melahirkan pagi, sorenya dia sudah bisa jalan dan bisa ke sumur mencuci darah bekas melahirkannya sendiri”. Wow!!

Coba bandingkan dengan kondisi emak-emak jaman sekarang….Belum melahirkan sudah mengeluh sakit ini itu, sakit dipunggunglah, dipingganglah, dikepalalah, sakit disini dan disitu. Saat melahirkan lebih ribet, musti ditemani suami dikamar persalinan. Saat proses pembukaan 1-9 minta dikipas-kipas, peluhnya minta diwashlap pake handuk.(pengalaman sendiri :p). Tapi mama mertuaku luar biasa. Dia kadangkala melahirkan saat suaminya sedang diluar pulau. Mama mertuaku pernah cerita, salah satu anaknya lahir sebelum bantuan datang…subhanallah.

Mendengar cerita tentang kemudahan beliau melahirkan, saya pernah bertanya, resepnya apa kok bisa melahirkan semudah kucing beranak begitu. Beliau menjawab bahwa setiap saat beliau rajin membaca doa nabi Yunus ketika berada diperut ikan paus.

La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minaz zolimin
(Tidak ada Tuhan yang sebenarnya disembah melainkan Engkau, ya Allah. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah dari orang yang membuat zalim)

Sehat selalu, panjang umur ya Mama…We always love you
Dari menantumu yang sering lupa nelpon

19 Apr 2015

Percakapan dengan Naylah

Naylah tipe anak yang tidak bisa diam, baik itu mulut maupun gerakan. Ini beberapa percakapan yang pernah terjadi dan sempat saya catat.

Nay : Ma, kalo Naylah besar, Naylah yang masak, Mama liat-liat saja, atau baca-baca buku saja
Me : Iya nak, makasih
Nay : Nanti Naylah masak bakso, Jalangkote, Nugget
Me : (bengong…jelas buanget mamanya kurang referensi masakan yang bisa ditiru Naylah)
****
Nay : Ma, kalo Naylah umur 30 tahun, mama meninggalkah?
Me : (gubrakkk) Mudah-mudahan tidak nak, doakan mama Bapak panjang umur ya
Nay : Supaya apa?
Me : Supaya bisa jaga Naylah terus
Nay : Tapi Naylah sudah besar, tidak usah dijaga
Me : (Gubraakkk lagi)
****
Edisi ultah…
Nay : Naylah sayang Mama karena sudah kasih Naylah hadiah
Me : Jadi, kalo ndak ada hadiah mama ndak disayang?
Nay : kusayangki juga ma, biar ndak ada hadiah
Me : mmmmuah
****
Percakapan disuatu pagi..
Nay : Ma, Mama sayang Naylah?
Me : iya nak
Nay : kenapa?
Me : Karena Naylah anakku
Nay : Saya dari perut Mama?
Me : Iya sayang (mulai duduk ambil posisi baek, hmm keknya akan panjang nih pertanyaan)
Nay : Siapa yang kasih masuk Naylah dalam perut Mama?
Me : Allah, sayang
Nay : Bagaimana caranya Ma?
Me : Allah yang simpan Naylah diperut mama
Nay : Iya, bagaimana caranya disimpan diperut Mama?
Me : Allah yang simpan sayang (mulai muter otak)
Nay : Iyaaaaa!! Bagaimana cara Allah masukkan ke perut Mama? (Naylah mulai bersuara tinggi mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan)
Me : Oh my God…Helpppppp meeee!!!
****
Nah untuk yang percakapan terakhir ini, saya agak surprised, Naylah menanyakannya diumur 4 tahun 11 bulan. Saya pikir pertanyaan ini akan muncul 2-3 tahun lagi. Dari hasil searching-searching, ternyata anak-anak bule diluar sana malah menanyakan hal tersebut diusia lebih dini.
Saya mengumpulkan beberapa tips untuk menghadapi pertanyaan sejenis:
Jangan pernah menjelaskan asal muasal mereka jika mereka tidak bertanya. Dan berhentilah menjelaskan ketika mereka berhenti bertanya atau ketika anak kembali bermain boneka atau mobil-mobilannya. Jadi ada dua kemungkinan, mereka Alhamdulillah sudah paham, atau malah bingung dengan penjelasan maknya, maknya harus belajar lagi :p

Jika anak menanyakannya asal muasalnya, ceritakan yang sebenarnya tapi dengan jawaban simple dan yang bisa dimengerti oleh anak-anak. Jangan berpanjang lebar diluar pertanyaan anak. Untuk anak 5 tahun kebawah, biasanya kepala mereka belum mampu memahami mekanisme seks, emosi dibalik percintaan, ereksi, dsb. Topik ini akan ada waktunnya kelak jika anak sudah berusia belasan tahun.

Cari dan gunakan video atau buku bergambar tentang proses melahirkan untuk anak pra sekolah. Anak-anak lebih cepat menangkap dengan visual.

Jelaskan dengan sebenarnya, misalnya Bayi itu tinggal di dalam Rahim Ibu (jangan menyebut perut), kalau dalam kasus Naylah, dia mengira saya menelan adeknya bulat-bulat dan menyimpannya di perut. Selanjutnya, jelaskan ketika sudah 9 bulan adek tinggal diperut Ibu, adek perlu keluar, adek akan bergerak-gerak minta keluar lewat jalan lahir yang disebut Vagina.

Naylah beberapa kali menanyakan perihal asal muasalnya, mungkin karena belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Untungnya tidak lama kemudian saya menemukan video ini dilaman facebook teman. Setelah menunjukkan kepada Naylah, dia menanyakan ini itu sehubungan yang dia lihat divideo, dan tidak pernah menanyakannya lagi.

Amazing Must See.
Amazing Must See.
Posted by Stylish Eve on Friday, 6 December 2013

Video for Naylah's Birthday

Alhamdulillah Kakak Naylah berumur 5 tahun akhir maret kemarin. Karena kesibukan dan harus dirawat seminggu di rumah sakit, video yang sudah saya persiapkan untuk dilaunching (halah..bahasanya :p) diyoutube tertunda, dan baru bisa saya upload sekarang. telat 20 hari xixixi.

Video ini saya buat dari program powerpoint trus diexport jadi video, ternyata hasilnya: gambar pecah dan suara soundtracknya jadi tidak mulus. Gpplah, next time mau coba pakai aplikasi Windows DVD Maker.


3 Apr 2015

Menonton Sirkus Oriental

Selama sekitar sebulan, sirkus menetap di Parepare. Sepertinya ini yang pertama. Masyarakat antusias sekali. Hari-hari pertama penonton membludak.

Tenda sirkus yang super besar ditempatkan dilapangan atau alun-alun. Gajah ditempatkan diluar tenda, sedangkan kandang hewan-hewan yang lain didalam lokasi tenda. Sore-sore, saya membawa anak-anak melihat gajahnya tanpa membayar, lumayan (mak irit hehehe).

Weekend kemarin, Saya dan suami mengajak anak-anak menonton sirkus. Bayanganku Naylah akan super senang disana. Ternyata diluar dugaan dia kurang menikmati atraksi-atraksi pemain. Naylah yang hobi meniti ketinggian bosan melihat orang-orang melompat kesana kemari dan melompat diketinggian. Beberapakali dia kutegur dan menyuruh menonton dengan tenang. Bawaannya masih seperti dirumah, duduk, berdiri, duduk lagi bukan dikursinya, tapi disandaran kursi. Kakak Naylah menyukai hewan-hewan yang beratraksi, seperti simpanse yang lagi naik sepeda motor, anjing yang menari, gajah yang berdiri, harimau yang melompat…tapi tetap saja tidak se exicting yang kusangka.

Sayang sekali, sirkus yang main sekitar satu bulan ini, meninggalkan kerusakan. Rumput-rumput lapangan yang menjadi tempat latihan sepakbola anak-anak menjadi rusak. Sepertinya lapangan ini perlu perbaikan yang lumayan besar, mudah-mudahan pemerintah yang menyetujui datangnya sirkus ini menaruh perhatian pada kerusakan setelahnya.

Tenda besar Sirkus Oriental


Menunggu sirkus dimulai dibawah pohon

Seperti biasa kakak Nay memanjat dimanapun berada

Berfoto dengan si Badut, Kakak takut sama badutnya

Berikut gambar-gambar atraksi sirkusnya, sebenarnya lumayan banyak atraksinya, tapi karena niat memang betul-betul datang untuk menikmati tontonan, aktifitas foto-foto tidak dimaksimalkan.
Badut melucu
atraksi kelenturan
bayangan pemain
simpanse naik sepeda motor
Gajah berdiri
Wajah sedih Gajah meratapi nasib menjadi pemain sirkus
wah mereka bisa duduk
beautiful
Siap-siap melompati lingkaran api
Pinjaman gambar dari Pap Key, harimaunya manjat
Poor you all, seharusnya hidup dialam bebas
Sedih juga melihat hewan-hewan itu dipaksa bekerja di tempat sirkus. Ada harimau yang sudah tua, gajah yang sudah tua yang seharusnya sudah dipensiunkan dari tempat sirkus. Menyaksikan mereka beratraksi dan tunduk pada perintah pawangnya memang menimbulkan decak kagum, tapi sedih juga melihat tatapan lesu hewan-hewan malang itu. Kawanan gajah yang ditempatkan di kandang luar sampai berdiri dengan posisi berbaris lho walaupun bukan diatas panggung. Mereka jadi kehilangan kealamiannya sebagai hewan yang sebenarnya.