7 Sep 2017

Merdeka Saat Menjadi Ibu Rumah Tangga


Eh sekarang hari apa ya? 

Kamu pernah lupa hari? Saya sering 6 bulan belakangan ini. Mengira jumat padahal kamis, menyiapkan seragam batik padahal harusnya pakaian pramuka buat dipakai Si Kakak. 

Itu baru persoalan hari, kalau ditanya tanggal, saya lebih sering lupa dari pada ingat.

Apakah saya terserang insomnia? 

Tidak. 

Saat menjadi ibu yang full time di rumah, saya menjadi kurang memperhatikan kalender. Sangat berbeda ketika kerja kantoran, tempo-tempo menengok kalender meja, lantaran kerap membuat email dan update data. 

Selama 6 bulan, saya cuma hilir mudik di bangunan 7 x 10 meter, yaitu dapur, kamar, dan teras. Paling jauh ke pasar, itupun selalu bersama Pap Nay dan anak-anak. Sangat jarang saya pergi sendiri. Seringnya rombongan sekeluarga. Kedengarannya sedih amat ya, terkungkung di rumah. 

Bisa jadi orang yang melihat berpikiran begitu, tapi percayalah 6 bulan itu masa-masa paling merdeka saya sebagai manusia.

Saya tidak harus buru-buru mandi,tidak dikejar laporan, tidak harus delapan jam di kantor, dan tidak perlu lembur. Saya bebas mau mandi jam berapa pun, entah itu pagi, siang, atau dijamak di sore hari. 

Walaupun bukan akhir pekan, saya enteng membawa anak-anak ke cafe. Menikmati semilir angin laut sambil menyantap penganan pisang goreng keju dan jus jeruk kesukaan Ayyan. Pap Nay tidak pernah melarang, kalau sempat, beliau mengantar. Jika tidak, kami bertiga menunggu pete-pete kuning, cukup bayar Rp.5000, pak sopir mengantar sampai tujuan.

Saya bisa menjalankan bisnis dengan nyaman. Tidak perlu khawatir terdengar si bos kalau lagi menerima telepon pelanggan. Bebas menuangkan ide-ide marketing tanpa harus terganggu pikiran masih ada email yang harus di follow up. 

Tentu saja merdeka bukan berarti semua harus indah. Langit saja gak selalu biru cerah, sering mendung, bahkan sesekali ada petirnya. Tayangan sinetron India kesukaanmu pun ada jeda iklannya, padahal jantungmu sudah berdegup kencang menunggu kelanjutan adegan si aktor dan aktris bertatap-tatapan dan berbicara dalam hati :D 

Sama. 

Menjadi ibu rumah tangga memang menyenangkan, sambil dasteran bisa menjalankan hobi tanpa terikat jam kerja. Tapi iklan menguras emosinya juga buaaayaakkkkkkkk. (tuh kan sampai butuh K berlapis)

Berbulan-bulan saya berusaha menyesuaikan diri dengan ritme kerja IRT, kadang merasa lemas duluan melihat pakaian kotor menggunung, sementara keranjang penuh pakaian bersih menunggu dilipat. 

Saya teringat istilah produk jualan di kantor dulu, barang yang cepat laku disebut fast moving product. Nah pekerjaan IRT itu perputarannya tak kalah cepat. Lantai disapu sekarang sebentar kotor, disapu lagi kotor lagi. Dibereskan di sini, di situ berantakan. Kondisi rumah rapi menjadi berantakan itu terjadi dalam hitungan menit. 

Bukan hanya beradu dengan kekompakan dua bocah mengobrak-abrik keranjang mainan, menggunting kertas, memasukkan segala macam ranting ke dalam rumah. Saya juga beradu dengan angin yang selalu merontokkan daun dua pohon mangga depan rumah. Kalau lagi rajin dua kali sehari saya menyapu halaman. Saat berat tulang diajak gerak, ya menunggu angin membawa pergi tuh daun :D 

Sekarang, saya mulai bekerja lagi. Diamanahi profesi baru yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Yang sekarang ini tidak memakai jam kerja harus datang pukul 8 pulang jam 4 teng, tapi harus siap bekerja setiap saat jika dibutuhkan. 

Saya percaya setiap profesi ada suka dukanya. Setiap jalan hidup ada tantangannya. Kalau mau senang terus, ya nanti...di surga. 

Tulisan ini untuk menanggapi artikel #KEBloggingCollab Mak Diah Kusumastuti di sini.

1 komentar:

  1. Hihihi, mandinya kadang dijamak. Itu saya, Makkk :D
    Setuju banget dengan paragraf terakhir, bahwa setiap profesi ada suka dukanya, setiap jalan hidup ada tantangannya. Semerdeka apa pun, ya maksudnya enggak harus selalu bebas semaunya dan senang kebablasan :)

    BalasHapus

Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis