27 Jul 2016

Tips Belanja Cakar atau Barang Bekas di Parepare

Tips Belanja Cakar atau Barang Bekas di Parepare. Parepare adalah kota pelabuhan, mungkin itu sebabnya barang-barang bekas dari luar negeri seperti China, Singapura, dan Taiwan mudah masuk di kota ini. Memang jika menyebut kota kelahiran Habibie ini, yang terlintas di benak pertama kali adalah cakarnya. Tak heran ajakan ke Parepare kadang kala diselipi kalimat “Ayo maccakar!” maksudnya mari kita beli cakar.
Barang bekas yang dibeli oleh penjual terbungkus di dalam karung, mungkin itulah sebabnya dinamakan cakar (cap karung). Sempat beredar di media massa, sebuah berita tentang akan adanya larangan impor barang bekas ke Indonesia. Hal ini meresahkan masyarakat yang berkecimpung di bisnis cakar, tapi ternyata wacana tersebut tidak memberi pengaruh yang berarti, geliat usaha pakaian bekas di Parepare masih tinggi. Malah pusat perbelanjaannya, yaitu Pasar Senggol sudah direnovasi besar-besaran oleh pemerintah setempat, dengan mengubah konsepnya dari pasar tradisional menjadi pasar yang lebih modern.

Tidak hanya di Senggol, cakar dengan mudah ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan tradisional di kota ini; Lakessi, Sumpang, dan Labukkang. Semuanya terbuka setiap hari, dari pagi sampai sore, kecuali pasar Senggol yang mulai beraktivitas dari ba’da azar sampai malam.

Barang-barang cakar diminati oleh masyarakat karena walaupun bekas, tapi kualitas bahan dan jahitan “sampah luar negeri” ini jauh melampaui mutu barang baru yang biasanya dijual di pasaran. Belum lagi jika “merek” disandingkan dengan banderol barunya, nominalnya bisa sangat jauh berbeda. Padahal kondisinya kadang masih sangat bagus lho.

Untuk teman-teman yang mungkin berkunjung ke Parepare dan ingin mencoba belanja cakar, ini saya kasih tipsnya:

1. Pakailah masker

Kesannya niat sekali ya :D
Tapi benar lho pelindung ini penting. Seperti contoh ini: Setiap sabtu pagi di Pasar Sumpang, kondisi pasar berbeda dari biasanya, sepertinya semua pedagang pakaian bekas di Parepare mengelar jualannya di sini, sampai-sampai areal untuk parkiran pun dipenuhi pelapak dadakan. Jangan dikata debu banyaknya bagaimana, sangat banyak. Debu cakar beterbangan sampai jelas terlihat mata. Saat begini masker sangat dibutuhkan.
lihat ibu-ibu ini, semangatnya tinggi kan :D
2. Datang lebih awal

Usahakan datang saat masih pagi jika belinya di pasar Lakessi, Sumpang, atau di Labukkang. Sedangkan jika ingin berbelanja di Pasar Senggol, datanglah pukul 4 atau 5 sore. Saat itu para penjual baru saja membuka lapaknya.
Biasanya penjual menganggap pembeli pertama bertuah, jika transaksi dengan pembeli pertama lancar, maka seluruh transaksi setelahnya akan lancar juga, saat begini kita akan diperlakukan bak raja, bisa menawar barang yang disukai. (Ingat juga jangan keterlaluan nawarnya ya)

3. Pilih penjual yang buka baru

Istilah “buka baru” ini maksudnya barang bekas yang dijual baru datang dan baru saja dibuka karungnya, jadi pembeli bisa puas memilih yang terbaik di saat begini. Tapi umumnya harga buka baru memang beda dengan barang lama, biasanya lebih mahal. Satu dua hari setelahnya, barulah harga turun, tapi ya itu tadi barang pilihannya juga akan berkurang.

4. Totalitas atau berani all out

Biasanya cakar buka baru itu dihambur saja di atas tikar plastik. Sehingga bisa jadi barang bagusnya ada di bagian paling bawah tumpukan yang menggunung. Kalau memang niatnya besar untuk hunting, maka berani malulah! singsingkan lengan baju, pasang masker! obrak-abrik tumpukan itu hahaha. Ingat keberhasilan berbanding lurus dengan usaha.

Kalau mau santai belanja bisa juga sih, barang-barang pilihan pedagang umumnya digantung atau dipajang menggunakan manekin dengan harga lebih premium.
5. Periksa barang dengan seksama

Setelah dapat barang yang kamu sukai, jangan tanya ukuran dan warna lain ya, ingat ini bursa cakar bukan di mall :D

Periksalah baik-baik barang bekas itu. Jika berupa tas, lihat seksama di tempat yang terang, apakah ada yang sobek, apakah warnanya masih bisa mengkilap, bla..bla.. Demikian pula dengan sepatu atau baju. Jika menemukan cacat tapi terlanjur sayang, ketelitian ini bisa dipakai pada proses selanjutnya nanti, yaitu menawar. Biasanya barang yang cacat harganya lebih negotiable.

6. Tawarlah

Soal tawar menawar ini memang pernah ramai di media sosial, sebuah cerita mengharu biru tentang pembeli yang kejam menawar barang semurah-murahnya pada pedagang kecil. Tapi saran saya jika berhadapan dengan penjual cakar, belanjalah dengan cerdas. Karena begini, pedagang itu membelinya per karung, dan jika dibagi per pieces jatuhnya jadi murah. Nanti setelah dipilih-pilih oleh penjualnya, yang bagus digantung dan dipajang, lalu dibanderol dengan harga jauh di atas modal. Nah yang ini perlu ditawar, harga yang disepakati bisa diskon sampai 50% -70 % dari harga pertama lho. Lagipula tidak perlu merasa tidak enak, kalau harga tawaran memang tidak cocok, mereka pasti bakalan menolak juga kok. Tambahan informasi saja, di sini penjual cakar tajir-tajir, rumah mereka mewah dan memiliki banyak properti.

Oh ya, usahakan selalu memakai bahasa lokal ya, yaitu Bahasa Bugis. Kalau tidak bisa, minta ditemani belanja sama yang bisa. Penjual selalu memberi harga yang wajar untuk orang lokal.
7. Mandi

Sepulang dari pasar barang bekas, berarti kamu baru saja selesai mengobrak-abrik debu bekas bule yang bisa jadi berpenyakitan. Mandilah, bersihkan badan sebersih mungkin.

8. Cuci bersih barang bekasnya

Mencuci barang bekas, utamanya pakaian perlu perlakukan khusus. Caranya cukup mudah; Pertama-tama rendam dengan sabun beberapa menit, lalu gosok dan bilas seperti biasa. Langkah selanjutnya diamkan dalam rendaman air panas supaya kumannya hilang. Setelahnya barulah dijemur dan disetrika.
Demikian tips membeli barang bekas atau cakar ala saya. Jika teman-teman mampir di Parepare dan ingin mencoba sensasi berburu cakar, mudah-mudahan tips di atas bisa membantu.

14 komentar:

  1. Dulu jaman masih kuliah, adik saya pernah juga beli kaos bekas bule gitu...di jogja tapinya.. dan kualitasnya mmg bagus banget. Masih awet dan bagus sampai sekarang. Dulu sebelum dipakai, kaos itu direbus dulu sama adik saya hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Mba Rita, biasanya bagus bahannya, trus tahan lama

      Hapus
  2. Unik juga ya mba bursa pasarnya. Emang pernah dengar sih dengan pasar yg demikian, tapi lupa pasti tempatnya d mana. Hehehee... Ternyata di Pare2 yak :D
    Nice share loh mba ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya di daerah lain juga ada pasar begini Mba Khoirur, mungkin cuma istilahnya yang tidak sama ya

      Hapus
  3. saya beberapa ke pasar barang bekas. Seru juga. Malah suka gak sadar waktu hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, suka jg sih kadang hunting sepatu, cuma sayang debu di pasar begini buanyak :)

      Hapus
  4. aduh itu ibu ibu semangat banget haha

    BalasHapus
  5. waah harus telaten ya mbaa..
    kalau aku pernah yg di bandung itu di gede bage..atau di jakarta dulu ada di pasar senen tp udah gak boleh buka lagi sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oow kenapa ya gak boleh buka

      Hapus
  6. Duh Mba, saya suka skali belanja cakar ini. kalo sudah memilih, bisa berjam-jam deh, hehehe

    btw saya baru tahu kalo cakar=cap karung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun baru tahu karena baca artikel mba hehehe

      Hapus
  7. Aku belum pernah beli baju second. Kalau perabotan sudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini perabotan jarang ada bekasnya, kecuali kl ada kerabat atau teman yg pindahan

      Hapus
  8. Yang tau tempat jualan cakar perbal dimana ya?

    BalasHapus

Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis