17 Mar 2015

Ibu dan Tetangganya


Setiap kali mengingat ibu hati pasti mengharu biru. Kali ini kenangan ibu yang sangat baik pada tetangganya.

Nak, Engkatue Fetta Kali sibawa Wa’ Sia

Dalam Bahasa Indonesia kira-kira artinya begini “ Nak, saya titip Petta Kali dan Wa’ Sia
Ketika akan meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu, Ibu tidak mengatakan saya harus menjaga adik-adikku atau beliau tidak menyuruhku memperhatikan Bapakku. Tapi beliau menyebut tetangga kami.

Wa’ Sia adalah seorang Nenek tua yang membantu kami sejak lama. Wa’ Sia seorang janda beranak tiga yang ditinggal mati suaminya. Beliau tinggal diseberang jalan, masuk lorong beberapa meter lagi. Tapi jika menghitung angka 40 rumah dalam mendefinisikan kata “tetangga”, Wa’ Sia masih terhitung tetangga kami. Beliau sering datang kerumah kami, hampir tiap hari. Ada-ada saja bantuannya. Dia yang membantu Ibu menjaga adik ketika ibu mengajar disebuah sekolah menengah pertama di dusun sebelah. Mungkin karena merasa terbantu dengan hasil kebun yang dipercayakan padanya. Wa Sia selalu ada saat kami butuhkan. Dia selalu ada disetiap acara-acara yang membutuhkan tenaga, dia selalu ada membantu kami mencuci piring, dan menggosok panci-panci kotor. Setiap menjelang lebaran, ibuku tidak pernah membuat ketupat atau burasa seperti kebiasaan Ibu-ibu lain sehari sebelum hari raya, burasa selalu disediakan oleh Wa’ Sia yang baik hati. Ibuku selalu hormat kepada Wa’ Sia , tidak sekalipun pernah kudengar beliau mengucapkan kalimat-kalimat kasar atau jahat kepada tetangganya itu.

Ketika ibuku meninggal dunia, Wa’ Sia lah orang yang paling terisak keras ketika kusebut wasiat terakhir Ibu untuk memperhatikannya. Beberapa tahun setelah Ibuku meninggal, Wa’ Sia sakit keras beberapa lama. Menurut anaknya dia selalu menyebut-nyebut nama Mia, adikku yang dijaganya dulu sewaktu kecil. Wa’ Sia meninggal tenang sehari setelah ketemu Mia.

Orang kedua yang disebut diwasiat Ibu adalah Petta Kali. Petta Kali adalah seorang Kakek yang tinggal bersama anak menantunya pas di seberang jalan depan rumah. Dia dan istrinya memiliki warung kelontong kecil didepan rumah anaknya. Bisa dipastikan dia akan ada dirumah setiap hari, kalau bukan pagi, siang, sore atau malam. Biasanya disaat-saat selesai sholat berjamaah dimesjid samping rumah kami. Dia orang yang diberi tugas melakukan iqamat atau mengganti tugas imam masjid jika imam mesjidnya berhalangan kemesjid. Petta Kali suka ngobrol, dia akan mampir ngobrol dengan siapa saja yang dia lihat sedang duduk santai diteras rumah kami. Jika sedang liburan kuliah dikampung, setiap hari saya ngobrol dengan Petta Kali. Ada-ada saja obrolan kami, kadang-kadang tentang keadaan dikampung, atau mengomentari gossip terakhir orang-orang yang lewat depan rumah hahahaha. Setelah Ibu meninggal, dialah yang menyuruh kami agar segera memperbaiki pusara ibu. Kelak, dia juga yang sempatkan menghadiri pernikahanku yang dilangsungkan dikota lain, saat salah seorang kerabatnya meninggal dunia. Petta Kali juga sudah meninggal dunia, karena sakit. Sayangnya pemakaman kedua orang yang dititipkan Ibu tidak sempat kuhadiri. Anak-anak mereka tidak mengabari.

Ibu memang baik kepada para tetangganya. Beliau tidak pernah berselisih dengan tetangga. Tetangga kami samping rumah, salah seorang penghuninya juga seorang janda, jika kami keluar kota, kadang-kadang Ibu teringat tetangga kami itu, dia membelikannya sesuatu walaupun bukan sesuatu yang mahal. Ibu juga sering meminjamkan beras kepada tetangga yang membutuhkan. Walaupun kami juga bukan orang kaya, tapi Alhamdulillah belum pernah terjadi, kami tidak mempunyai stok beras.

Tidak terasa Ibu sudah meninggal sudah sepuluh tahun. Wajah ibu yang cemas ketika kami sakit masih terbayang jelas diingatanku. Hati masih ngilu-ngilu jika mengingat beliau yang meninggalkan kami begitu cepat. Semoga terhampar pemandangan surga yang hijau dan harum dikuburan Ibu, karena Ibu sangat baik kepada tetangganya. Al Fatihah buat Suharti binti Abu Haseng.

4 komentar:

  1. Tulisannya indah sekali tentang almarhum ibunya. Semoga ibunda Mak Nur mendapat tempat terbaik di sisiNya. Aamiin.

    BalasHapus
  2. Makasih Mak Sary, amiiin

    BalasHapus
  3. Ngilu mengenang almarhumah, maafkan anakmu yg paling susah diatur. Andaikan bisa hidup kembali aku akan selalu menjaga ta su'. Tunggu aku dipintu sorga ta'😭

    BalasHapus
  4. iya ndi, mudah2an kita semua bisa berkumpul di JannahNya. Amin

    BalasHapus

Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis