Pages

3 Jul 2019

Jalan-Jalan di Belitung, Singkat tapi Berkesan


Kalau kamu mau pesan tiket ke Belitung, pastikan dulu kamu tahu Bandara tujuan dengan benar. Tidak jarang orang memilih lokasi yang salah yaitu Bangka. Padahal Bangka dan Belitung adalah tempat yang berbeda. Jika berada di Bangka, kamu harus menyeberang lagi sekitar 4 jam via kapal laut, atau naik pesawat lagi sekitar 30-40 menit ke Tanjung Pandang.
Teman saya yang salah memilih penerbangan, akhirnya harus cancel tiket dan menginap semalam di Jakarta agar mendapatkan penerbangan yang langsung ke Belitung.
Jadi, pastikan kamu memilih penerbangan dengan tujuan Tanjung pandang dengan nama Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin
Harga tiket bagaimana?
Karena memesan menjelang keberangkatan, saya mendapat harga cukup mahal, pergi tiket 2,3 jt dan pulang 2,9jt.
Boleh dikata perjalanan ke Belitung membutuhkan waktu yang lama. Saya berangkat pukul 06.30 dari Makassar, transit di Jakarta, lanjut lagi ke Tanjung Pandang sekitar pukul 11.00. Itu termasuk beruntung, kalau ditengok di Traveloka, durasi perjalanan termasuk transit bisa belasan jam lho.
Baik makassar-Cengkareng maupun Cengkareng-Belitung, saya lebih banyak tidur di pesawat. Cuaca cukup baik, sesuai penyampaian pilot saat berangkat. Sepanjang jalan tidak ada guncangan yang berarti. Saya benar-benar istirahat maksimal.
Wajar saya diserang kantuk. Saya kurang tidur di malam menjelang keberangkatan. Saya harus diantar ke Bandara Sultan Hasanuddin pukul 03.00 wita. Ini akibat pemindahan penerbangan sepihak dari dari maskapai.  Saya harus tiba minimal 3 jam sebelum keberangkatan untuk proses reissued tiket. Sampai sekarang saya masih gerah jika ingat proses komplain dengan operator mereka. Tapi ah sudahlah, tak akan dibahas di sini, merusak suasana hati saja ya :D
Berhubung kesempatan kami terbatas di Belitung, hanya 3 hari termasuk waktu perjalanan (25-27 Juni 2019) Maka, setiap detik di Bumi Belitung, saya dan rombongan pergunakan dengan sebaik-baiknya.
Setiba di Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin,  kami diantar ke hotel Grand Orion oleh bus jemputan. Setelah proses checking kamar, sholat dan istirahat, pada pukul 14.00 wita, mobil yang kami sewa tiba. Kami membayar Rp. 500.000 untuk satu mobil. Jumlah itu sudah termasuk jasa sopir dan bbmnya. Lumayan murah menurut saya, apalagi kami share biaya berlima.
Sebenarnya Belitung memiliki banyak tempat wisata, tapi yang sempat kami kunjungi selama kurang lebih dua hari adalah berikut ini:
Pantai Tanjung Kelayang
Siang hari ke pantai membuat kesan pertama adalah panas. Pasir putih dan air laut memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Saya merasa agak menyesal lupa membawa kacamata dan masker, untungnya tidak lupa memakai sunblock. Oh ya, untuk kamu yang tidak pakai jilbab atau para pria, sangat disarankan memakai topi.
Setengah berlari kami mencari jalan yang lebih teduh agar mencapai pinggir pantai sesegera mungkin.
Saya terkesima dengan pemandangan batu granit yang berdiri di bagian pantai sebelah. Batu granit inilah yang menjadi ciri khas pantai di Belitung.
Tak sabar rasanya hendak ke batu tersebut. Setelah mengambil foto di beberapa spot seperti latar batu berbentuk burung garuda dan papan nama Tanjung Kelayang. Kami pun bergeser mendekati lokasi.  Batu-batu granit segera menjadi favorit kami, kami banyak menghabiskan waktu berfoto disini.

Oh ya, saya sempat keliru mengira batu berbentuk kepala burung garuda itu dapat dijangkau dengan jalan kaki. Ternyata untuk melihat dari dekat, wisatawan harus menyewa perahu dengan biaya 400.000-450.000, itu sudah bisa memuat kurang lebih sepuluh penumpang. Rombongan kami memutuskan untuk tidak menyeberang, karena ingin maksimal mengunjungi beberapa destinasi lain.

Baca juga Perjalanan ke Bogor, Sungguh Singkat dan Melelahkan
Seperti tempat wisata pada umumnya, di sekitar pantai beberapa warga mendirikan toko souvenir yang menjual aneka macam kaos, baju pantai, topi, snack khas Belitung, dan masih banyak lagi.

Pantai Tanjung Tinggi
Jejeran tenda penjual jajanan menyambut kami di pantai ini. Pantainya rameee banget. 
Aneka jenis dagangan ditawarkan penjual di sini, ada kelapa muda, jus, cilor, rujak, es krim. Ada juga yang jualan ikan kering, taripang, dan berbagai batu-batuan khas Belitung. Saya kasih bocoran ya, jangan lewatkan membeli cincin batu meteor di sini. Di semua tempat yang sudah kami kunjungi, harga disini yang paling bersahabat. Cincin sebiji dapat 100rb, di tempat lain ditawarkan 150-250rb.
Setelah melewati deretan penjual, kami disuguhi pemandangan tumpukan batu granit yang menakjubkan, tak heran kalau Indonesia selalu disebut kaya dan indah, memang luar biasa! disusun oleh arsitek maha Agung ...bagussss bangeeeet.
Lama juga kami menghabiskan waktu di tempat ini. Di sinilah lokasi syuting laskar pelangi yang fenomenal itu. Apalagi kami tiba sudah menjelang sore, panasnya tidak semenyengat tadi. Lagipula walaupun iya, akan terlupakan karena kerennya pemandangan.
Oh ya, disini juga tersedia kendaraan bebek-bebek (ini saya bingung namanya apa) yang disewakan untuk anak-anak. Jadi tempat ini ramah keluarga. Kita bisa berenang di laut, main pasir putih, petak umpet di celah batu-batuan, anak-anak naik bebek-bebek.
Danau Kaulin
Danau Biru atau danau Kaulin adalah danau yang terbentuk dari hasil penambangan pasir kaulin. Karena dikeruk, maka terbentuklah lubang yang luas dan dalam, sedikit demi sedikit terisi air dan akhirnya menjadi danau. Uniknya airnya berwarna kebiru-biruan, ini disebabkan masih adanya endapan mineral.
Saya tidak sempat menyentuh air danau Kaulin, karena lokasi danau dipagar dan tidak pernah juga kepikiran untuk turun. Di bawah  sana masih terlihat kendaraan keruk terparkir, menandakan bahwa danau ini akan semakin meluas kelak. Sementara di seberang jalan, terlihat hasil tambang berupa tumpukan pasir kaolin serupa gunung.
Tumpukan kaulin yang menggunung
Penjual cincin batu meteor di sekitar Danau Kaulin


Toko Khas Oleh-oleh Belitung
Menjelang magrib, kami singgah di Toko Klapa, toko yang menjual aneka macam oleh-oleh khas Belitung. Sebenarnya saya ingin sekali membeli jam yang dibuat dari pasir dan dihias berbagai jenis kerang dan rumah kepiting. Urung, karena membayangkan harus membawanya seperti bayi di perjalanan. Jadilah saya hanya membeli berbagai macam kerupuk saja, ringan dan praktis karena dipacking rapi pakai dos. Oh ya, diantara jenis kerupuk yang dijual saya paling suka makan pletek ikan cap keluarga, menyusul kerupuk yang berbahan dasar telur cumi. Mereka-mereka ini, dicemil atau dijadikan pelengkap saat makan nasi, sama enaknya. 

Makan Bedulang
Makan bedulang adalah prosesi makan bersama dalam satu dulang yang terdiri dari empat orang duduk bersila saling berhadapan mengitari tempat yang berisikan makanan. Secara harfiah, makan bedulang adalah makan menggunakan dulang, yaitu talam atau nampan besar yang berbentuk bulat (wikipedia)
Di Restauran WanBie, kami disuguhi makanan di atas dulang, hanya saja makannya sambil duduk di kursi, bukan bersila. Isi dulang disebut pelayan resto merupakan makanan khas Belitung. Ada ikan teri yang digoreng kering, bakso ikan, dan ikan masak kuah (Gangan). Untuk yang tersebut terakhir ini, rasanya juara! Kamu wajib cicipi.
Oh ya, harga per orang untuk satu dulang adalah 65-75ribu, bukan dihitung dulangnya ya, tapi orangnya. Sehingga jika kamu berjumlah 4 orang, berarti kamu harus bayar 75.000 x 4 = Rp. 300.000. Penting saya memberitahu ini, supaya tidak salah kaprah hehehe.

Gantung
Gantung adalah nama desa Ikal dan kawan-kawan. Di sinilah Replika SD Muhammdiyah Gantong berdiri.  Saya dan teman-teman berlagak sebagai ibu Muslimah dan anggota Laskar Pelangi di dalam kelas, acting sedang upacara, memberi hormat pada bendera. Kami mencoba meresapi suasana belajar mereka.

Di desa Gantung, kami menyempatkan diri singgah di rumah masa kecil Ahok, melihat dari jauh kediaman Ikal dan berfoto di depan musium Andrea Hirata.



Makan Empek-empek
Sebenarnya kita bisa menemukan penganan ini hampir di semua daerah. Di kota kecil saya pun demikian, ada beberapa penjual empek-empek.  Tapi apa kata dunia jika ke Belitung tanpa menikmati empek-empek. Sebagai penutup hari, kami mengganjal perut di warung Mama Rio, menyantap empek-empek asli Belitung.
Demikian catatan perjalanan saya di Belitung, singkat tapi berkesan.
Saat perjalanan pulang, dari atas pesawat saya memandang pulau Belitung mulai tertutup awan. Saya membatin semoga bisa kembali ke sini bersama suami dan anak-anak.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis