Pages

24 Jan 2017

Terbang Nyaman Bersama Anak dengan AirAsia


[Sponsored Post] Membawa anak travelling adalah tantangan tersendiri. Bayangkan kerepotan yang akan dihadapi, namun hal tersebut bukan menjadi halangan, bukan? Karena menurut penelitian membawa anak untuk liburan dan mengunjungi tempat baru akan menambah kecerdasan si anak.
 
AirAsia sebagai maskapai LCC (Low Cost Carrier), memang memiliki kebijakan untuk membawa anak saat terbang. Tapi sebelum melakukannya, pastikan sudah membaca dan mengerti semua ketentuannya ya.
 
Kadang banyak penumpang lain yang merasa terganggu jika ada anak atau bayi yang rewel dalam pesawat, dan ternyata hal tersebut dapat dicegah, lho.
 
Nah, untuk orang tua yang berniat bepergian dengan pesawat AirAsia dan akan membawa anak, ini dia beberapa tipsnya:
 
1. Perhatikan detail ketentuan maskapai
 
Beberapa maskapai mengijinkan adanya stroller di kabin, namun untuk AirAsia hal ini tidak diijinkan mengingat untuk kenyamanan bersama. Juga jangan lupa mengecek harga tiket. Beberapa maskapai menentukan tarif pesawat yang berbeda untuk infant dan anak-anak.
 
2. Siapkan dokumen
 
Jika liburan kamu masih domestik, maka dokumen tak perlu banyak disiapkan. Namun, jika kamu hendak bepergian ke luar negeri. Maka pastikan paspor dan visa ada jauh-jauh hari sebelumnya, dan simpan di tas yang mudah dijangkau.
 
3. Perhatikan jarak dan waktu penerbangan
 
Pertimbangkan berapa lama kita harus berada di atas langit, agar kita dapat memprediksi apa saja yang harus dipersiapkan untuk membuat anak lebih nyaman.
 
4. Lakukan pembagian tugas yang jelas
 
Agar tak kerepotan saat membawa si kecil, usahakan jangan membawa barang terlalu banyak. Bawa kebutuhan si kecil dalam tas kecil untuk memudahkan.Jangan lupa melakukan pembagian tugas selama perjalanan, misalnya, Ibu bertugas menggendong anak, dan mengurus kebutuhannya, dan Ayah bertugas membawa barang bawaan yang lain.
 
5. Bawa barang keperluan si kecil dalam tas yang mudah diraih
 
Siapkan keperluan si kecil dalam tas yang mudah diraih. Siapkan pula earplug atau penutup telinga khusus anak, untuk melindungi telinganya dari suara deru mesin pesawat.
 
6. Pastikan si kecil merasa nyaman
 
Agar si kecil lebih nyaman, gunakan bantal leher saat penerbangan. Untuk mengatasi udara dingin, pastikan si kecil menggunakan jaket agar ia merasa hangat dan tak kedinginan.
 
7. Datanglah ke bandara lebih awal
 
Ini dilakukan agar semua anggota keluarga tidak repot dan terburu-buru, sehingga kita memiliki banyak waktu untuk check in dan mengurangi lamanya antrian.
 
8. Pastikan si kecil kenyang
 
Agar ia tak rewel, berilah si kecil makan sebelum pergi dan pastikan perutnya kenyang saat memasuki pesawat. Jika masih menyusu, gunakan pakaian yang mudah menyusui atau siapkan botol susu di tempat yang mudah dijangkau. Hal ini juga ternyata akan mencegah anak merasa sakit telinga karena perubahan tekanan udara.
9. Bawa snack dan mainan favoritnya
 
Untuk mengalihkan perhatiannya agar tak merasa bosan, bawa mainan favorit dan juga cemilan ringan, atau hal-hal yang dapat membuatnya nyaman selama perjalanan. Bisa menonton atau membawa buku favorit mereka.
 
10. Beli tiket secara online
 
Mengapa secara online? Karena kamu dapat menghemat waktu dan tenaga. Dan pastikan beli tiket AirAsia di Traveloka di https://www.traveloka.com/airasia
 
Jadi, sudah siap melakukan perjalanan dengan anak menggunakan AirAsia? Pastikan kenyamanan kamu dan keluarga tetap menjadi nomor satu. Liburan pun akan lebih menyenangkan dan aman.
 
Kemana destinasi liburan kamu dan keluarga kali ini?

11 Jan 2017

Rumah Tanpa pembantu

 
Dinding kamar lumutan, merahnya pudar berjamur. Bagian kiri kanan terkelupas, menampakkan daging-daging semen yang menganga. Sisi yang tiga tahun silam kremnya kalem bersih, sekarang penuh coretan abstrak.
 
Di kamar mandi, air selalu tergenang, keramik jadul standar terpasang asal, membuat air susah mengalir ke arah seharusnya. Lantainya tampak kotor, bahkan pada menit pertama selesai disikat dengan susah payah.
 
Kasur ukuran nomer satu, sudah berjasa selama 10 tahun terakhir, sekarang kempes karena sering beralih fungsi jadi matras. Berapakalipun larangan dikeluarkan tidak pernah anak-anak pedulikan. Sesekali, jika ingat, pintu kamar dikunci sebelum ke kantor, hanya demi bisa tidur nyenyak nanti malam, karena seprai tidak gatal, selebihnya lupa.
 
Masih di kamar pribadi, kamar utama yang jadi tempat beristirahat Tuan dan Nyonya rumah, Lemari kayu pecah cerminnya, sudah lama sejak si bungsu menghantamnya dengan sekali tinju, sampai sekarang selalu saja belum sempat diganti dengan cermin yang baru. Triplek yang menutupinya pun tak pernah menyangka akan bertahan sekian lama tanpa diganti. Cobalah buka pintunya, kain, baju, celana semrawut, siapapun yang buka akan menutup cepat-cepat. Tengoklah di atasnya, bertumpuk koper, berhimpitan, pemiliknya pun sampai lupa entah berisi apa.
 
Di kamar ini, kami bercengkrama, memadu kasih, bercinta dengan ganas atau biasa-biasa saja. Di kamar ini, kami bercerita dengan tawa, atau saling berteriak padahal jarak tidak lebih dari semeter.
 
Di kamar ini, anak-anak suka berkumpul, bermain, bercanda atau bertengkar, dan seringkali sampai tertidur, membuat bapaknya mengungsi di belakang.
 
Yah kamar utama tak terurus.
 
Dapur berantakan dengan sisa minyak memenuhi kompor, Padahal tadi pagi kinclong mengkilap. Pakaian kotor tidak ada habisnya, bahkan pakaian baru cuci saja belum dijemur, tambah lagi yang kotor.
 
Sungguh jika bisa, ingin saya poles semua dengan lap sampai mengkilat. Tapi dengan tenaga sisa dari kantor, hanya bisa menatap nanar tak berdaya. Lemas jiwa raga melihat kekacauan saat baru tiba di rumah. Padahal masih terasa capeknya berjuang tadi pagi membersihkannya.
 
Saya merasa jadi nyonya rumah yang gagal.
 
***
 
Ada yang pernah merasakan hal yang sama? Ini kegalauan yang saya tulis beberapa hari yang lalu. Saat itu, asli sedih sekali. Saya menghakimi diri, jadi istri yang gagal menata rumah. Memang beberapa tahun ini saya memutuskan tidak mempekerjakan pembantu lagi, kapok berurusan dengan mereka, ada-ada saja alasan yang intinya mereka tidak masuk kerja. Untung ada Adik yang menolong jaga anak-anak, jadi saya masih bisa ke kantor dengan tenang. Tapi untuk urusan kebersihan rumah, kami jadi harus ekstra keluarkan tenaga.
 
Di hari-hari normal, saya masih bisa meninggalkan rumah dengan keadaan bersih. Tapi jika buru-buru rumah saya tinggalkan dengan kondisi seADAnya, maksudnya ADA piring di atas meja, ADA kaos kaki di kursi, ADA bekas tidur yang belum dirapikan.. parah ya *tersipumalu
 
Tapi percayalah ditinggalkan dengan kondisi bersih atau kotor, sepulang dari kantor saya akan mendapatinya sama..berantakan :D
 
Jika sedang tidak sensitif, tiba di rumah bisa langsung bersih-bersih. Tapi kalau habis lembur trus sedang datang bulan pula, bukannya ambil sapu, malah sedih atau marah-marah :D
 
Karena sibuk berkutat dengan rutinitas kantor, urusan domestik rumah tangga, bersih-bersih, belakangan ditambah tetek bengek kios, otomatis tidak ada waktu untuk berleha-leha. Jangankan memperbaiki yang rusak, yang rutin-rutin saja seputar cucian dan jemuran seakan-akan tidak pernah kelar. Jadi barang-barang yang rusak macam lemari, kursi, meja yang perlu perbaikan selalu terabaikan.
 
Barulah akhir-akhir ini saya sadar, wah rumah sudah mulai kurang nyaman. Ternyata sudah 3 tahun berlalu sejak renovasi terakhir, sepertinya kami perlu lagi meluangkan waktu, menyiapkan tenaga dan budget untuk memperbaiki rumah dan perabot.

Sebenarnya sudah pernah berkali-kali berniat menemui tukang, tapi Pap Nay pasti melarang. Dia bilang untuk apa membayar orang kalau dia bisa melakukannya sendiri. Saya sih bersyukur punya suami yang sanggup, masalahnya cuma satu, dia tidak punya waktu :D yah sama saja tidak.
 
Jadi begitulah…
 
Untuk sementara hanya bisa melakukan yang disanggupi dulu, macam kemarin blanja blanji tempat penyimpanan, supaya yang barang-barang seperti mainan anak-anak tidak asal taruh. Selanjutnya mudah-mudahan diberi keluasan waktu, tenaga dan budget.

6 Jan 2017

Bersyukur

 
Pada suatu siang di lorong kamar radiologi…
 
Seorang gadis kecil duduk di tepi ranjang, ditemani bapak ibunya. Mereka terlihat gelisah.
 
“Anak saya mau di MRI juga, biar suami ibu duluan, soalnya dia tidak tenang” kata si Bapak memulai pembicaraan.
 
Saat itu saya sedang mengantar Pap Nay memeriksakan pinggangnya yang terasa tidak normal, dia khawatir terkena penyakit syaraf terjepit. MRI (Magnetic resonance imaging) adalah proses pemeriksaan yang harus dia jalani untuk memastikan apakah ada yang tidak normal dengan tulang belakangnya. Proses MRI memang agak beda. Suara keras selama kurang lebih sejam akan membuat gugup siapapun yang berbaring dalam tabung, saking ributnya bahkan masih terdengar walaupun sudah memakai penutup telinga. Jadi sangat dimaklumi kalau anak si bapak tadi sampai menangis saat berada dalam ruangan MRI.
 
Si bapak pergi, sepertinya dia mengurus proses administrasi yang diperlukan. Saya sempat ngobrol ibunya.
 
 “Anak saya umur 3 tahun, tapi gak bisa jalan, ini baru aja bisa ngomong dikit-dikit” katanya sambil membelai kepala bocahnya.
 
“Adek sakit apa bu?”
 
“Kelainan sejak lahir, bu”
 
“Memang ibu ada gejala apa waktu hamil?”
 
“gak ada, malah sangat sehat, gak ada ngidam, gak ada flek, bahkan tidak sulit melahirkannya”
 
Saya memandang iba gadis cilik di sampingnya. Dia duduk tenang di sana, menatap polos tanpa suara. Jilbab hitam hampir menutupi pandangannya, tapi tidak sekalipun dia berusaha memperbaiki posisinya. Fisiknya tampak masih berumur 2 tahun. Sebentar lagi dia akan disuntik obat penenang. Anak yang malang.
 
Entah penyakit apa yang dia derita. Si Ibu menjelaskan kalau ada cairan di dalam tulang sejak lahir, bahkan tengkorak kepalanya pun tidak terbentuk sempurna. Karena kelainan itu pertumbuhan fisik jadi lambat.
 
Tiba-tiba saya menyadari betapa baiknya Tuhan kepada diriku. Dia amanahkan dua anak yang sempurna, baik fisik maupun mental. Mereka lincah dan sehat. Walaupun Kakak Naylah semasa balita juga sering sakit, tapi seiring waktu semakin jarang dia dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah Adek Ayyan malah lebih baik dari kakaknya, jarang demam, lebih sering bolak-balik UGD karena kecelakaan main saja.
 
 
Saya tidak bisa membayangkan berada di posisi ibu ini. Dia setiap saat harus kontrol, tempo-tempo harus siap tenaga dan materi demi buah hatinya bisa sehat dan normal. Mungkin ada saat dimana dia harus menahan keinginan ini itu karena harus menabung biaya berobat. Mungkin bapaknya harus berkali-kali minta cuti di kantor karena harus menemani anak ke rumah sakit. Bisa jadi suami istri ini kadang terbangun kaget di tengah malam karena anak mereka menangis kesakitan.
 
Seketika saya bersyukur.

#ODOPfor99days #1