Pages

30 Mar 2016

Selamat Jalan Tata Usu

 

Yang paling menyakitkan dari kematian adalah "penyesalan"

Keyfa menangis sesegukan. Bocah 7 tahun itu memanggil-manggil kakeknya, isaknya timbul tenggelam oleh suara orang-orang yang sibuk menutup mayat dengan tanah, semakin meninggi tanah menimbun kakeknya, semakin keras tangisan anak itu.
 
“Fung Nene..Fung Nene!” dia memanggil-manggil sang kakek, air matanya berderai-derai.
 
Saya tergugu. Air mata menganak sungai tak terbendung melihat keluarga kecil yang sedang berkabung ini, menantu dan cucu almarhum berangkulan saling menguatkan.
 
H.M. Yunus Andi Abd Karim atau Tata Usu baru saja meninggal dunia kemarin pagi. Tata Usu adalah kakek saya, beliau adik kandung nenek saya dari bapak. Tata Usu sudah lama pensiun, dulunya mengajar di salah satu SMU negeri di tanah kelahiran saya. Beliau dikarunia 1 anak saja, hal yang tidak lazim di keluarga besar kami yang rata-rata beranak banyak. Tata Usu seorang yang sangat supel, dia pandai berbicara. Karena kemampuannya itu, selalu saja dia yang didaulat menjadi MC atau juru bicara di berbagai perhelatan keluarga. Jadi bukan kebetulan kalau dia menjadi MC di acara pernikahan saya 7 tahun silam.
 
Tata Usu sangat menikmati masa pensiunnya. Dia bersama istrinya yang juga mantan guru bisa pergi ke acara keluarga kapan dan di mana saja asalkan diundang. Mereka tidak segan-segan keluar uang untuk itu, beli tiket kapal atau pesawat tidak masalah, apalagi mereka memiliki banyak waktu luang. Jadi bisa dipastikan di mana ada acara keluarga, mereka pasti ada disana.
 
Sayangnya, tak berapa lama kemudian tiba-tiba Tata Usu terserang stroke, dia yang tadinya gagah dan sehat untuk orang seumurannya tiba-tiba lumpuh tak berdaya; wajahnya miring, badannya kurus. Dia menjadi sangat bergantung kepada orang lain. Sang istrilah yang setia merawat, mulai dari menyuapi, mengganti popok dan menemaninya berobat.
 
Rupanya istri Tata Usu, Fung Hade, demikian saya memanggil beliau, juga menginap penyakit jantung menahun. Beberapa kali Fung Hade dirawat di rumah sakit karena penyakitnya itu. Tata Usu terlihat sedih sekali. Saya terharu menyaksikan Tata Usu yang masih terlihat lemah harus menemani sang istri di rumah sakit. Mereka berdua saja, saling mengasihi, saling memperhatikan. Menulis ini tergenang lagi air mata.
 
“Ta Usu mana Pung?” waktu saya mendapati Pung Hade sendirian dalam kamar perawatan.
 
“Pergi masjid Nak barusan”
 
Memang, walaupun Tata Usu terlihat menua dengan cepat, Tata Usu tampak mulai membaik, dia bisa berjalan, bahkan bisa ke masjid sholat 5 waktu. Asalkan tidak hujan, dia akan mengusahakan ke masjid dekat rumah ditemani tongkatnya, belakangan dia bisa tanpa tongkat. Mungkin karena sudah jadi kebiasaan, di rumah sakit pun beliau mencari mushollah untuk sholat berjamaah.
 
Qadarullah, tak berapa lama bolak-balik masuk rumah sakit, Fung Hade meninggal dunia mendahului suaminya.
 
Itu kejadian hampir tiga tahun yang lalu. Kini Tata Usu menyusul istri tercinta. Tata Usu yang dalam segala suasana selalu terlihat riang dan tidak pernah kesal itu telah pergi. Saya menyesal selalu menunda menengoknya, padahal tak ada 10 menit perjalanan jarak kami. Setiap mau singgah, selalu saja ada alasan: nanti dulu, lagi hujan, anak rewel, besok saja.

Saya sesali diri, mungkin Tata Usu sedang kesepian. Dia memang punya anak dan cucu menemani di rumah, tapi bisa jadi beliau sedang merindukan suasana baru, kangen melihat kami berkumpul. Sekarang air mataku benar-benar tak bisa berhenti berderai. Belum juga berapa lama, saya sudah merindukannya. Selamat jalan Tata Usu, pria murah senyum, pria baik hati kesayangan keluarga.  Kami akan selalu mengenangmu, semoga Allah menerima amal kebaikan Tata Usu, kelak berkumpul dengan Fung Hade di sebuah rumah di surga.
 
Parepare, 30 Maret 2016

28 Mar 2016

Pelajaran Hidup : La Mading

pelajaran-hidup

Pelajaran hidup. La Mading (samaran) menetap bersama anak istrinya di sebuah rumah dekat areal pekuburan. Tepat di sebelah kanan rumahnya, ada jalan setapak yang tak akan muat dilalui dua orang yang berjalan bersisian, rombongan peziarah kubur harus berjalan beriringan melaluinya. Tempat ini selalu melekat dibenak saya karena tanaman pagarnya berbiji unik, jika sudah matang, biji-bijinya yang serupa manik itu bisa dirangkai menjadi kalung. Saya dan kawan-kawan sepermainan memetik manik hanya di siang atau sore hari, karena menjelang magrib atau malam, menoleh ke arah jalan itu pun kami enggan, bulu kuduk selalu berdiri. Pohon-pohon di depan rumah La Mading seakan membentuk tubuh mayat yang menggantung, kafannya melambai-lambai diterpa angin. Jangan dikata bagaimana seremnya penampakan rumah La Mading di malam hari kala itu, apalagi dulu lampu jalan belum ada, rumah-rumah saja masih minim lampu, sungguh menakutkan!

La Mading berprofesi sebagai penjual Buroncong. Buroncong adalah kue khas bugis yang dibuat dari tepung beras dan kelapa (sepertinya begitu), cara masak dan penampilannya seperti kue pukis yang sering dijual mas-mas memakai gerobak di pinggir jalan atau di pasar, hanya saja kue buroncong ini tidak ditaburi cokelat atau keju. Rasa kue buroncong gurih. Tapi di masa kanak-kanak saya, saya tidak doyan kue ini. Mungkin karena sering dikasih gratis, jadinya tidak istimewa. Kadang kala Tata membelikan, tetap jarang saya sentuh, saya tidak suka. Setelah dewasa, anehnya beberapa kali saya merindukan kue ini.

Di masa kecil saya, nasihat tentang pentingnya tidak berfoya-foya selalu dikaitkan dengan nama La Mading. Konon, La Mading adalah seorang yang kaya raya dulu, entah pekerjaannya apa sehingga uangnya begitu banyak, Tata tidak pernah cerita soal itu, titik berat cerita selalu berkisar seputar bagaimana La Mading menghabiskan uangnya. Menurut cerita Tata, La Mading selalu tidur di hotel, makan di restoran, dan berjudi. Dengan gaya hidup yang tanpa perhitungan itu, uang La Mading yang melimpah segera habis. La Mading yang bangkrut akhirnya kembali ke desa membangun rumah kecil, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Dia menjadi penjual buroncong. Begitulah selalu penutup cerita Tata disertai dengan nasihat panjang tentang pentingnya berhemat.

Usia 9 tahun saya meninggalkan rumah lama, kami hijrah ke desa lain. Jaraknya tidak begitu jauh, tapi cukup membuat kami jarang berinteraksi dengan keluarga La Mading. Sesekali saya masih sering menemukan La Mading atau istrinya jika kebetulan menemani Tata ke pasar, mereka masih kerap memaksa menghadiahi kami dengan sebungkus buroncong hangat untuk dibawa pulang.

Beberapa tahun berlalu, saya berkunjung ke kampung yang lama. Sungguh menakjubkan, rumah La Mading kini besar dan megah untuk ukuran rumah di sekitarnya. Keseluruhan bagiannya terbuat dari kayu seppu, kayu ini adalah kayu berkualitas nomer satu, yang karena langkanya sampai ada larangan menebang pohon jenis ini sekarang. Rumah panggung La Mading lebih tinggi, lebih besar dan kokoh dibandingkan rumah yang dulu. Dua tiga kali saya menyempatkan singgah, bersilaturahmi dengan mereka sekeluarga. Rupanya anak sulung yang merantau di Malaysia sudah menikah dan cukup sukses di sana, dia pulang kampung dan membangun rumah yang bagus untuk orang tuanya.

Kehidupan La Mading mengajarkan saya dua hal, pertama sesuai nasihat Tata, jangan berfoya-foya. Kedua ini saya resapi sendiri, bahwa benar dunia itu berputar. Hari ini kamu kaya tidak menjamin kamu tidak akan jatuh miskin keesokan harinya. Pun demikian sebaliknya, melarat sekarang tidak boleh memutus harapan bahwa besok kita bisa berpunya. Layaknya melangkah, tak akan bisa kita maju jika kaki kanan dan kiri tidak bergantian di depan. Tak patut hamba berputus asa ketika cobaan menimpa, begitupun sebaliknya, tak seharusnya disikapi berlebihan jika dilimpahi anugerah.

Parepare, 28 Maret 2016

20 Mar 2016

Tentang Berat Badan

Tentang-berat-badan
Tentang Berat Badan. Satu hal yang saya syukuri dari suami selain tanggung jawab dan tangan serba bisanya adalah dia tidak pernah bilang saya gendut. Entah itu kalimat candaan atau serius. Ataukah saya memang serius menanyakan langsung atau sekedar celetukan dia. Dia belum pernah mengatai saya gendut (semoga tidak pernah)

Sudah tak terhitung dalam beberapa kesempatan saya pernah bertanya pada dia " Pa, saya gendutkah?"

Pap Nay akan diam dengan wajah salah tingkah, dan akhirnya bilang tidak. Jika sikapnya sudah demikian maka disimpulkan saya pasti sedang gemuk. Kalau dia menjawab cepat dan tanpa ragu- ragu berkata tidak, itu artinya badannya saya sedang stabil.

Suami saya tipe orang yang suka berolah raga. Dia suka meluangkan waktu berlari memutari lapangan atau bersepeda setiap hari. Dan dia melakukannya bukan karena terpaksa, tapi memang hobi. Tidak seperti saya, yang baru membayangkan keliling lapangan saja sudah merasa capek. Apalagi jika matahari menjelang terik, berlari di bawah sengatan panas matahari adalah hal yang paling tidak ingin saya lakukan. Saya lebih menyenangi berleha-leha membaca daripada olah raga. Beberapa waktu lalu sebenarnya saya juga pernah rajin jogging, tapi hanya bertahan 1-2 bulan, alasannya ya karena itu tadi, bukan hobi. Ketika semangat turun, apalagi kalau jarang dimotivasi keinginan untuk olah raga menjadi lenyap dengan sendirinya. Biasanya semangat tercolek lagi ketika salah seorang kerabat sakit atau meninggal dunia karena tidak hidup sehat.
Dulu, awal-awal hidup berumah tangga dengan hubby, saya sampai tercengang-cengang melihat dia berolahraga setiap saat. Waktu-waktu luang yang biasanya orang lain nikmati dengan duduk santai menonton TV akan diisinya dengan mengangkat barbel sambil nonton. Barbel dia buat dari cetakan semen dengan berbagai berat dan ukuran. Dia angkat berluang-ulang tanpa bosan. Jika tidak sedang angkat barbel, dia terbiasa sit up atau push up. Sekarang, kegiatan pengisi waktu luang yang menurut saya ajaib itu masih sering dia lakukan, tapi tidak sesering dulu.

Soal makanan, sebenarnya Pap Nay tipe orang pemakan segala, tapi dibandingkan saya, dia yang lebih memperhatikan kandungan gizi makanan yang masuk di mulutnya. Contohnya begini, ketika makan telur dia lebih menyukai putih telur, sementara menurut saya bagian kuningnya yang paling enak. Dia menyukai dada ayam, sedangkan saya lebih suka paha ayam, dagingnya terasa lebih lembut.

Pap Nay juga seorang penggemar ikan, tapi harus ikan laut. Dia sangat jijik dengan ikan air tawar; baunya amis, rasanya tawar. Mungkin karena dia lahir dan besar di pulau, jadi terbiasa dengan ikan air laut. Apalagi bapak mertua saya seorang nelayan, setiap hari mereka bisa makan ikan gratis nan segar. Sementara saya yang berasal dari daerah pegunungan sangat jauh dari ikan, jadi tidak terlalu terbiasa makan ikan laut, malah masa kecil saya dianugerahi penyakit alergi. Alergi akan kambuh setiap menyantap makanan yang berasal dari laut. Penyakit alergi itu baru sembuh ketika remaja. Oh ya yang melimpah di kampung saya hanya asam dan gula merah, ikan laut ada juga dijual di pasar tapi hasil impor dari kabupaten tetangga, sudah tidak segar ketika sampai di tangan pembeli. Bahkan karena sulitnya ikan, sebuah mitos sering saya dengar adalah “jangan terlalu banyak makan ikan, nanti cacingan”. Di kemudian hari, setelah tahu manfaatnya ikan, saya rasa ancaman itu sungguh kejam.

Dulu, Pap Nay tidak menyukai bakso, mie, dan jajanan lain sejenis. Di kepala dia makan itu ya nasi + ikan atau ayam. Nanti setelah bergaul dengan saya barulah dia terkontaminasi menyukai jajanan. Untunglah kebiasaan positif dia ada juga mempengaruhi saya, dari yang awalnya tidak begitu suka ikan menjadi pecinta ikan. Tiada hari hidangan di meja makan kami tanpa lauk ikan. Alhamdulillah anak-anak pun jadi penggemar ikan.

Jadi dengan segala perbedaan kebiasaan dan hobi kami, bisa disimpulkan seandainya diumpamakan kami ini seekor ayam, Pap Nay adalah ayam jantan kampung berdaging alot, sedangkan saya adalah ayam broiler karbitan yang berdaging lembek. Bisa ditebak, siapa yang jarang sakit, ya Pap Nay. Saya? Bos sampai bosan menyetujui cuti sakit saya :D
Mungkin itu sebabnya kalau saya tanya tentang berat badan yang sudah mulai mengganggu. Pap Nay akan menjawab dengan sayang "ndak apa apa, yang penting sehat”
Duh baiknya!

Walaupun demikian. Bersuamikan dia yang langsing dan atletis itu berat Bu, beban psikologinya sungguh tidak ringan. Apa kata dunia kalau jalan bersama dikira angka 10. Dia nomer satu saya nolnya. Makanya walaupun dia terlihat santai saja, sebisa mungkin saya harus tetap menjaga kewarasan kalau sedang makan, maklum jika sedang kelaparan terus ketemu makanan enak sering kalap. Saya berusaha untuk tidak terlalu gembul. Walaupun sebenarnya itu masih taraf usaha yang sering saya lupa. Namanya juga manusia ya, tempatnya khilaf dan salah :p

Faktanya, gemuk itu dari makanan. Semakin banyak makanan masuk ke mulut semakin banyak yang menjadi daging dan lemak. Makanya agak aneh kalau ada yang menyalahkan obat KB sebagai penyebab kegemukannya, menurut saya walaupun disuntik segalon obat KB kalau makannya sedikit ya tetap saja kurus. Tapi kalau makan banyak ya gemuk juga.

Ok benar, saya suka makan, senang menyantap yang enak-enak. Tapi itulah mengapa lidah menempel di mulut kan? dia mengecap dan merasa. Coba bayangkan jika otak yang berada di mulut, bisa-bisa tidak ada penjual bakso atau coto di dunia ini, KFC dan Pizza Hut akan gulung tikar. Yang berjaya tentu saja penjual buah, sayur, ikan dan makanan sehat lainnya.

*edisi nelangsa lihat angka lima puluhan tujuh satuan 

18 Mar 2016

8 Hal Penting Sebelum Berhaji atau Umrah

8-Hal-penting-Sebelum-Berhaji-atau-umrah

8 hal penting sebelum berhaji atau umrah. Siapa sih yang tidak ingin ke tanah suci. Saya yakin mayoritas umat muslim bercita-cita naik haji minimal sekali dalam hidupnya. Menginjakkan kaki di tanah berkah dan melihat langsung tempat kelahiran Nabi. Begitu banyaknya umat islam yang ingin menyempurnakan keislamannya dengan berhaji, tapi belum mendapatkan kesempatan itu akhirnya memilih untuk umrah, umumnya alasan mereka karena 2 hal ini:
 
Waktu
 
Semakin lama, daftar tunggu jemaah haji di Indonesia semakin lama. Pada website resmi kamenag tercatat daftar tunggu berada di range tahun 2022-2054, luar biasa! Bayangkan jika umur sudah menua baru diberi kemampuan materi, bisa-bisa ajal keburu datang, rukun islam yang kelima ini belum juga terlaksana (apalagi malaikat maut semakin kesini semakin tega saja, tanpa ba bi bu mencabut nyawa, orang sehat hari ini, tiba-tiba besok meninggal dunia dengan bermacam-macam sebab). Untuk itu, orang-orang yang sudah sangat ingin berhaji tapi tak bisa menunggu lagi, akhirnya memilih melakukan haji kecil atau umrah.
 
Materi
 
Jika bukan kendala waktu, ya kendala materi. Berhaji membutuhkan uang yang tidak sedikit. Untuk orang kaya hal ini tentu tak masalah. Lain halnya untuk orang yang pas-pasan, keinginan berhaji disubtitusi dengan paket ibadah yang lebih murah, yaitu umrah. Tentu saja tetap dibarengi niat akan melakukan haji besar suatu saat insya Allah.
 
Ibadah umrah beberapa tahun belakangan ini memang sangat marak. Saking banyaknya permintaan untuk umrah, travel-travel baru bermunculan, mereka berlomba-lomba menawarkan paket umrah, mulai dari yang super murah sampai yang super premium. Calon jemaah tinggal pilih, mana yang sesuai budget.
 
Pahala yang didapatkan juga tidak main-main. Bayangkan sholat dua rakaat di masjid Nabawi lebih baik dari sholat 1000 kali di masjid lain kecuali Masjidil Haram. Subhanallah, siapa yang tak ingin. Belum lagi melintasi jejak-jejak nabiyullah tercinta Muhammad saw, meresapi keindahan daan keanggunan masjid-masjid megah, dan menyentuh Hajar Aswad di Masjidil Haram. Membayangkannya membuat kerinduan berangkat ke tanah suci semakin menggebu-gebu.
 
Tapi tunggu dulu, berangkat haji atau umrah ada syaratnya lho. Syarat utama tentu saja “mampu”. Selain mampu, ada 8 hal yang benar-benar harus diperhatikan melakukan ibadah tersebut. Delapan poin ini sengaja saya catat agar suatu saat kelak (*komat-kamit semoga kesampaian sebelum tua) diberi kemampuan memenuhi panggilan bertamu ke rumahNya, dan insya Allah kedelapan hal ini sebisa mungkin sudah terpenuhi.
 
1. Taubat
 
Labbaik!” yang artinya “aku datang memenuhi panggilanMU” . Kalimat ini selalu diulang-ulang ketika melakukan ibadah haji. Sebelum berangkat, kita harus bertaubat terlebih dahulu, mensucikan diri dari dosa. Lagipula masa iya kita menemui maha pencipta dengan kondisi kotor, malu kan?
 
2. Melunasi utang-utang
 
Utang adalah sesuatu yang dipinjam. Seseorang atau badan usaha yang meminjam disebut debitur. Entitas yang memberikan utang disebut kreditur (wikipedia)
 
Dari pengertian utang di atas, jelas utang yang dimaksud di sini bukan utang kepada keluarga, teman, atau rentenir saja, tapi juga utang dari badan usaha pembiayaan dan bank, termasuk KPR. Selama pinjaman tersebut belum lunas, itu masih masuk kategori utang.
 
Nah lho?
 
Jika ada utang yang tidak mampu dilunasi, kita harus meminta izin dulu terhadap pemiliknya. Jika yang bersangkutan mengizinkan maka bertawakkallah kepada Allah, kalau tidak diiizinkan, apa boleh buat kita tidak boleh pergi haji atau umrah.
 
*mungkin bank/pembiayaan ikhlas-ikhlas saja ya, semakin panjang kredit, mereka semakin senang :p
 
Tapi belakangan ini yang terjadi di masyarakat agak berkebalikan dengan syarat ini. Jangankan melunasi utang, saya bahkan pernah mendengar seseorang meminjam untuk umrah. Malah kabarnya ada pembiayaan yang menyediakan fasilitas kredit umrah segala.
 
3. Mengembalikan titipan-titipan
 
Sebelum umrah atau berhaji, amanah atau titipan-titipan harus dikembalikan terlebih dahulu. Kalau belum mengembalikan, minimal menyampaikan kepada empunya barang bahwa kita akan pergi, dan titipan dia ada pada kita.
 
4. Mengembalikan hak orang lain
 
Jika kita pernah mengambil hak atau mendzolimi orang lain, segera mungkin temui dan kembalikan hak orang tersebut. Supaya kita bertamu ke rumah Allah benar-benar dalam keadaan bersih.
 
5. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah
 
Alangkah ruginya menghabiskan uang, waktu dan tenaga hanya untuk berniat pamer. Hanya untuk berfoto-foto narsis agar memiliki cerita seru sekembalinya nanti ke kampung halaman. Atau niat hanya ingin dipanggil bu hajjah atau pak haji, supaya kalau kekondangan lebih dimuliakan yang punya hajatan. Mari luruskan dan ikhlaskan niat karena Allah SWT semata.
 
6. Pamit dengan keluarga
 
Berpamitan kepada keluarga ini salah satu hal yang disunnahkan rasul sebelum kita berangkat haji atau umrah. Saling mendoakan, agar yang ditinggalkan bisa segera menyusul, sedangkan yang berhaji semoga dapat haji mabrur.
 
7. Sholat dua rakaat di rumah
 
Mengerjakan sholat dua rakaat dengan membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas.
 
8. Berjanji kepada diri sendiri
 
Sebelum menunaikan ibadah haji atau umrah, sebaiknya selalu mengingat dan meresapi 5 hal berikut:
 
  • Hindari perbuatan maksiat di tanah suci,
  • Hendaklah betul-betul menghormati sunnah-sunnah Rasulullah,
  • Menjadikan tujuan dan segenap pikiran terfokus pada ridha Allah,
  • Menggunakan kesempatan semata-mata untuk beribadah,
  • Meninggalkan perdebatan, pertikaian, keributan, dan sibuk dengan orang lain.
 
Demikianlah 8 hal penting yang harus diperhatikan sebelum melaksanakan ibadah haji dan umrah. Semoga kerinduan kita untuk memenuhi undangan Allah dan menziarahi Rasullulah segera terwujud, utang-utang cepat lunas dan sebisa mungkin dijauhkan dari godaan untuk menambahnya lagi… Ayo aminkan yang kencang yaa.
 
Sumber: Amru Khalid. Ibadah Sepenuh Hati

14 Mar 2016

Membuat Keputusan yang Baik

membuat-keputusan-yang-baik

Kita sering membuat keputusan yang buruk dalam hidup, baik di lingkungan kerja maupun di kehidupan personal. Dampaknya tentu saja sangat mengganggu, selain perasaan bersalah karena telah mengambil keputusan yang keliru, keputusan yang buruk juga tentu saja mengakibatkan kerugian ekonomi. Jika keputusan pribadi yang terkait pemilihan pasangan hidup misalnya, maka kerugiannya akan lebih kompleks lagi.

Keputusan yang baik selalu membuat kita merasa lebih nyaman, walaupun dengan mengambil keputusan itu akan ada kerja keras dan duka (baca: tantangan) setelahnya, tapi tetap memberikan energi positif kepada si pengambil keputusan.

Sebagai catatan pengingat diri sendiri ketika suatu saat mempertimbangkan suatu keputusan, saya merangkum beberapa point yang harus diperhatikan :

Untuk membuat keputusan yang baik, pertama berhentilah melanjutkan keputusan yang buruk

Perumpamaannya begini, kita sedang mencari alamat seseorang. Pada pertengahan jalan, saat itu kita menyadari telah berjalan ke arah yang salah. Maka cara terbaik supaya bisa sampai tujuan adalah berhenti berjalan dan berputar haluan menuju ke arah yang benar. Demikian juga ketika menjalani keputusan yang salah. Berhenti melanjutkan lebih baik daripada meneruskan hal keliru.

Menerapkan sistem yang dapat diandalkan

Seorang ahli statistik yang juga ahli konsultan manajemen ternama di Amerika, W. E. Deming mengatakan bahwa delapan puluh lima persen kegagalan terletak pada sistem.

Makin baik sistem yang kita pakai dalam mengambil keputusan, makin mudah menghindari kesalahan. Penerapan sistem pengambilan keputusan secara konsisten akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Hanya mengejar kebutuhan nyata

Penting untuk membedakan keinginan dan kebutuhan saat akan menetapkan keputusan. Suatu kebutuhan adalah keperluan, suatu keinginan adalah harapan. Jadi kuncinya adalah fokus pada kebutuhan nyata, melihat visi hanya pada hasil yang sungguh-sungguh dibutuhkan, dengan demikian kita akan lebih tegas membuat keputusan yang baik dengan segera dan mudah.

Ingat, katakan YA untuk tindakan yang memenuhi kebutuhan nyata, dan katakan TIDAK untuk selainnya.

Menginformasikan pilihan

Sebenarnya kita memiliki banyak pilihan-pilihan keputusan, hanya saja kita tidak mengetahuinya. Dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, kita akan menyadari keberadaan pilihan-pilihan tersebut.

Seperti halnya kenyataan bahwa banyak orang mengetahui pentingnya riset, tapi entah kenapa mencari informasi yang lebih banyak terkait keputusan yang akan diambil tidak dilakukan. Padahal meluangkan waktu melakukan riset membutuhkan waktu yang lebih sedikit daripada mengoreksi keputusan yang buruk.

Begitupula ketika kita mendapatkan informasi dari orang-orang sekitar kita, terimalah informasi tersebut tapi jangan lupa mengecek kebenarannya. Dengan mengetahui banyak fakta-fakta yang telah dikonfirmasi, kita memiliki semakin banyak pilihan yang lebih baik.

Cerita ini cukup menarik…

Suatu malam Henry Ford mengundang tiga orang regional managernya untuk makan malam. Dia segera memilih salah satu orang untuk menjadi manager nasional. Ketika kemudian orang itu bertanya apa sebab dia dipilih, Ford berkata “Anda semua orang yang sukses dalam penjualan, tetapi Anda satu-satunya yang mencicipi makanan sebelum memberinya garam. Saya menyukai manajer yang mendapatkan informasi sebelum membuat keputusan”.

Memikirkannya secara menyeluruh

Untuk membuat keputusan yang lebih baik, selalu ajukan pertanyaan ini:

Kemudian apakah yang mungkin akan terjadi?  Kemudian apa…? Kemudian apa…?
Apakah yang saya takutkan menjadi hasil yang paling buruk?
Apakah yang menjadi hasil yang terbaik?
Apa yang harus saya lakukan pada kasus terburuk?
Seberapa jelaskah saya meramalkan hasil-hasil yang paling mungkin? Sudahkah saya memikirkannya secara menyeluruh?

Jangan berhenti bertanya sampai kamu menganggap keputusan itu akan menjadi hasil yang lebih baik.

Selalu berkonsultasi dengan hati

Konsultasikan pada hati dengan menanyakan pertanyaan pribadi kepada diri sendiri: Apakah keputusan saya menunjukkan saya jujur dengan diri sendiri, mempercayai intuisi saya, dan mendapatkan yang lebih baik.

Kunci untuk konsisten membuat keputusan yang lebih baik adalah memilih untuk meyakini bahwa kita patut mendapatkan yang lebih baik dan kemudian bertindak berdasarkan keyakinan itu. Kita harus menyadari bahwa makin cepat kita melihat kebenaran, makin cepat kita membuat keputusan yang lebih baik. Terakhir, jangan membuat keputusan berdasarkan ketakutan karena ketakutan tidak pernah memberi hasil yang sangat bagus.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Dr. Spencer Johnson. 2004. Yes or No, Panduan Membuat Keputusan Yang Lebih Baik. Jakarta: PT Gramedia.

12 Mar 2016

Susahnya Menidurkan Anak

Susahnya_menidurkan_anak
 
Jika kesuksesan seorang ibu dinilai dari bisa tidaknya dia menidurkan anaknya, maka saya adalah ibu yang GAGAL.
 
Inul Daratista. Perempuan fenomenal yang mampu memaksa Bang Rhoma turun gunung menentang goyang ngebornya, adalah seorang yang sangat disiplin. Di sebuah acara infotainment, Inul menceritakan bahwa dia sangat ketat mendisiplinkan anak semata wayangnya. Inul berkata bahwa dia selalu memastikan bocah kesayangannya itu sudah tidur pukul 9 setiap malam. Sungguh saya salut. Satu yang saya sayangkan dari acara infotainment itu, kenapa krunya tidak mengulik tuntas cara Inul menidurkan anaknya ya.
 
Menidurkan anak seharusnya adalah kegiatan menyenangkan: saling merangkul, memandang, membelai dengan penuh kasih, saling menyentuh hidung, saling menghirup napas, saling menatap…laluu terlelap. Ah seharusnya seindah itu. Tapi percayalah, hal-hal tersebut sangat jarang terjadi pada kami, pun jika momen itu hadir hanya bilangan menit atau detik, setelahnya rusuh.
 
Apa yang terjadi?
 
Yang terjadi adalah saya bingung menidurkan Adek Ayyan. Kakak Naylah tidak masalah. Kakak sangat jarang tidur siang, sehingga di awal-awal malam dia sudah lelap. Lain halnya dengan Adek Ayyan yang selalu tidur 2 kali sehari. Tidur siang panjang membuatnya mampu begadang sampai larut.
 
Ketika lampu sudah diimatikan, TV sudah di-off-kan, kasur telah dirapikan, Adek akan mulai komplen, dia tidak mau tidur. Adek menangis setengah menjerit, tidak mau masuk kamar. Saya akan menggendongnya, membujuk-bujuknya, sampai akhirnya dia berhenti menangis. Kemudian hening beberapa detik…
 
“Ma, Adek mau susu”
 
“Besok ya, sudah tadi” kataku mengingatkan kalau dia baru saja minum susu.
 
Adek menangis tidak terima.
 
“Adek mau susu.. Adek mau susu!”
 
“Iya, Adek tunggu di sini ya” kataku bangkit menuju dapur.
 
Adek mengekor menuju dapur, mencolek bubuk susu dari kalengnya kemudian menjilati tangannya.
Susu hangat sudah di tangannya sekarang. Dia kembali berbaring. Sebotol besar habis dalam hitungan menit.
 
Harapan saya, setelah dia minum susu, perutnya akan hangat, dia merasa kenyang dan nyaman, pasti segera menimbulkan perasaan ngantuk. Tapi tidak.. Adek bagai kendaraan yang baru saja diisi bahan bakar. Kekuatannya lompat, lari, dan jungkir balik di kasur semakin besar.
 
Saya gendong dia, menghentikan aksi akrobatiknya, mencoba melelapkan Adek di bahu saya seperti Pap Nay biasa lakukan. Adek mulai mengusap-usap telinga saya, itu artinya dia mulai mengantuk. Tapi menggendong anak laki-laki 2 tahunan dengan berat badan belasan kg bukan pekerjaan mudah, berat!. Belum juga setengah jam menggendongnya, saya menyerah. Pelan-pelan saya letakkan Adek di Kasur.
 
Tiba-tiba Adek bangkit..
 
“Adek tidak mau tidur” katanya marah.
 
Adek kalau marah sulit bujuknya.
 
“Adeek, sini mama peluk”
 
“Usah” kata dia ketus
 
“Mama sayang Adek..Oww anak mama sayanggg” kataku lebay
 
“Mauu!” maksud dia tidak mau. Adek sering menyingkat dua kata menjadi satu kata.
 
Dia mojok di bagian kamar paling sudut, yang paling jauh dari jangkauan. Saya yang sebenarnya mulai mengantuk susah payah bangkit menghampirinya.
 
“Adek pergi…mama di rumah saja!” katanya. Ini anak belum 3 tahun yang ngomong begini ckckckck.
 
Saya pura-pura tidur beberapa menit. Membiarkannya ngambek sendirian beberapa saat. Setelah dibiarkan dia lebih mudah terbujuk. Adek mulai bercanda lagi, ngobrol tentang macam-macam topik. Paling sering tentang kehebatan Baalveer yang turun ke bumi menghukum orang jahat dengan tongkat ajaibnya. Tentu saja dia sebagai Baalveer-nya.
 
“Ayo Dek bobo, besok kita antar kakak ke sekolah, trus beli kue” bujukku.
 
Adek menurut berbaring lagi beberapa saat dengan tenang. Kemudian hening.
 
“Ma, adek kencing” kata adek memecah keheningan.
Huufff kapan habisnya ini urusan..saya antar dia ke kamar kecil melepas hajat.
 
Malam terasa semakin panjang. Jarum jam sudah mendekati angka 11.
 
Saya mencoba trik lain, yaitu menyanyi. Tapi ini juga tidak berhasil. Pasalnya Adek ikut bernyanyi, malah lebih kencang dan melengking. Dia menghapal lagu-lagu itu. Tak ada tanda-tanda dia akan tidur.
 
Tak habis akal, saya hentikan nyanyian lagu anak-anak. Saya mendendangkan lagu yang tidak dikenalnya. Nada saya ambil dari lagu-lagu sendu dewasa, kemudian liriknya saya ganti dengan kalimat memuji-muji dia sebagai anak pintar dan hebat. Trik ini hampir berhasil, suara merdu mamanya rupanya manjur.
 
Adek terlihat mulai mengantuk. Mulai menutup mata sambil memegang telingaku. Asyik !! sebentar lagi Adek tidur. Saya bisa ngeblog, nonton Tv, atau membaca buku.
 
Mata Adek akhirnya tertutup sempurna, ketika tiba-tiba suara motor menderu pelan mendekati rumah. Tak lama kemudian bagian pintu pagar yang terbuat dari besi berderit. Adek langsung bangun dan lompat.
 
“Papa datang..Papa datang!!” serunya dengan senang.
 
***
EPILOG: Saya manyun, memutuskan berbaring sejenak, meluruskan badan yang pegal. Ternyata saya pulas sampai keesokan harinya.

8 Mar 2016

Di Antara Hujan dan Senjata

 
Di-Antara-Hujan-dan-Senjata
 
Di Antara Hujan dan Senjata. Gerimis menyambut, jalanan becek. Harus jinjit sedemikian rupa supaya sandal tidak tenggelam terlalu dalam di genangan air. Kilat sekali dua kali menyapa, menerangi langit gelap, ogah kalah meriah dengan tebaran lampu hias di bumi Parepare.

Rombongan kecil yang terdiri kami pasutri beranak lincah memutuskan memasuki stand TNI yang gelap gulita tapi ramai. Keberuntungan 2 bocah soleh solihat, setiba di stand itu, lampu langsung menyala dengan terang bederang. Orang- orang memegang senjata berkumpul. Kalau sedang setengah mengantuk pasti saya mengira sedang berada di Palestine.

Rupanya inilah penyebab tempat ini begitu ramai. Senjata-senjata berat beraneka macam yang saya tidak tahu namanya digelar di situ, boleh dipegang-pegang, diangkat-angkat, dilagak-lagaki, dimacho-macho-i, diselfie-selfie sepuas hati. Ini kesempatan langka. Tambahan pula ada penjelasan ramah tentang asal muasal dan kegunaannya oleh bapak-bapak TNI yang biasanya terlihat sangar.

Beberapa menit berlalu...

Hujan yang tadinya rintik malu-malu, seperti tetesan air mata perawan yang merindu, sekarang serupa tangisan bini kehilangan dompet pada tanggal tua. Air melimpah ruah di luar sana. Kami terjebak di tengah stand sempit, di antara orang-orang dan senjata.

***

Di kepala dan hati adek Ayyan, 3 hal inilah yang paling penting: kucing, tongkat Balvire dan pistol. Mainan lain seperti balon, mobil, robot sebenarnya dia senangi juga tapi hanya sekejap, habis manis sepah dibuang, cuma sehari, barang itu dihempasnya. (Melirik bangkai mainan di karung). Nah, ketemu gudang senjata milik TNI, dia seperti pindah ke nirwana. Mungkin imajinasinya sudah mengawan, benda-benda keren itu pasti bisa dibawa pulang. Adek sangat antusias.

Di-Antara-Hujan-dan-Senjata
 
***

Seingat saya,waktu kita kecil, kalau ditanya cita-cita mau jadi apa, jawaban anak-anak pasti seragam, anak cewek mau jadi dokter, anak cowok biasanya bercita-cita jadi tentara atau polisi. Saya yakin sepenuh hati Pap Nay tidak terkecuali. Lihatlah foto dia. Dibalik antusias anaknya, ada bapak yang tak kalah semangatnya.

Di-Antara-Hujan-dan-Senjata
Kok mirip Norman Kamaru :D

***

Ternyata alat-alat perang itu berat ya.

Seperti senjata ini. Beratnya mencapai 36 kg, dengan jarak tembak efektif hampir 2 km (membatin bagaimana bidiknya). Beberapa senjata lain yang tampak kecil, ketika diangkat ternyata berat. Jangankan senjata, rompi anti peluru saja lumayan berat, jika dikilokan bisa mencapai 8 kg. Diangkat sebentar sih tak masalah, tapi coba bayangkan jika dibawa kemana-mana selama berjam-jam perlengkapan itu (ransel, senjata, anti peluru). Pantas saja para tentara itu kulitnya terlihat lebih tebal, urat lebih menonjol, terlihat lebih kuat dari orang kebanyakan.
Di-Antara-Hujan-dan-Senjata

Hujan belum juga reda, tapi stand kecil ini terasa semakin sesak. Karena sudah mulai bosan berada diantara bau keringat dan asap rokok, apalagi Adek minta pipis, kami pun say goodbye sama bapak-bapak berbaju loreng yang ramah itu.

“Jangan lupa tanda tangan ya bu” kata salah satu bapak menunjuk buku tamu.


***

Stand TNI berhadapan dengan stand kantor tempat Pap Nay berdinas. Kami menyebrang kesana dulu. Berdiri berharap hujan segera reda. Beberapa menit berlalu, Adek sudah terlelap di bahu bapaknya. Sepertinya langit berstok air banyak malam ini, tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Dengan bermodal 5 lembar brosur Pariwisata Parepare buatan Kak Suja sebagai pelindung kepala, kami berempat menerjang hujan dengan gagah berani.

Senjata, hujan, Adek yang tetap pulas sampai di rumah menjadi penutup hari ini.

2 Mar 2016

Cowok-cowok Jangan Selfie! Geli Liatnya!


Jangan-selfie

Hai kamu para cowok…

Bagaimanapun cakepnya kamu; hidung mancung, kulit putih, badan kekar.

Tapi kalau kamu selfie, memotret diri sendiri dengan senyum yang diupayakan menawan …

Maka nilaimu di mata cewek akan turun..

Bukan turun 1-2 persen, tapi 90 persen.

Kalau ketampananmu itu di dukung dengan kekayaan sekalipun,

wibawamu akan tetap hilang, seperti perut ular, rata dengan tanah..

Saya tidak tahu apa dipikiran kamu yang selfie,

Sungguh saya tidak mengerti hormon apa yang merasuki kamu sampai bisa segenit itu, secentil itu

Melihat perempuan selfie sambil monyong kiri moyong kanan saja kadang menggelikan.

Apalagi kalau dilakukan laki-laki, itu sungguh menggelikan..sumpah!

Menyaksikan kalian meredup-redupkan mata sambil jepret berkali-kali,

Seperti ada yang nusuk-nusuk ketiak pakai pensil dari belakang

Atau ada sesuatu yang mengelitik telapak kakiku

Geli tapi mengganggu

Aduh..Tolonglah...

Populasi laki-laki semakin sedikit

Jangan ditambah dengan mengurangi kejantananmu

Percayalah, selfie itu tidak maskulin sama sekali…tidak

Kami memang butuh lengan kalian, tak perlu kekar.

Asal tidak dipakai selfie saja, itu sudah cukup

Maaf, kalian tampak seperti makhluk alay yang labil, tak cocok diajak mengarungi ombak kehidupan.

*lega sudah nulis ini

Note : Selfie yang saya maksud di sini bukan selfie pada pencapaian, misalnya kamu menaklukkan gunung, trus foto-foto diri. Ah, tak perlu dijelaskan, kamu pasti tahu yang saya maksud